Demi Rekonsiliasi, Paus Fransiskus Hadiri Perayaan 500 Tahun Gereja Protestan

55
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | INTERNASIONAL – Senin pekan depan, Paus Fransiskus berkunjung ke Swedia untuk menghadiri perayaan 500 tahun terbentuknya aliran gerakan Reformasi Gereja yang akhirnya membentuk gereja Protestan.

Dalam kunjungan sebagai simbol rekonsiliasi Gereja Katolik dan Protestan itu, Paus dijadwalkan hadir dalam sebuah kebaktian yang digelar Federasi Lutheran Sedunia (LWF) di kota Lund, wilayah selatan Swedia.

Dalam kebaktian itu, Paus Fransiskus akan ikut beribadah dengan umat Protestan yang muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap ajaran dan kekuasaan Gereja Katolik Roma.

Terlepas dari latar belakang sejarah itu, kehadiran Paus Fransiskus dalam acara itu sudah sangat sensasional.

“Jangan dilupakan bahwa Martin Luther menyebut paus sebagai anti-Kristus dan menjadi kritikus paling pedas terhadap Gereja Katolik Roma,” kata Theodor Dieter dari Institut Lutheran untuk Reiset Ekumenikal.

“Tiga tahun lalu para uskup dan kardinal menganggap, reformasi protestan bukan sebuah hal untuk dirayakan,” yambah Dieter.

Namun, sejarah bukan satu-satunya alasan yang memisahkan kedua tradisi Kristen ini.

Gereja Lutheran Swedia adalah salah satu aliran yang paling liberal dalam kekristenan.

Pemimpin tertinggi gereja Swedia saat ini dijabat seorang perempuan, Antje Jacleken sejak 2013. Sejak 1960, Gereja Swedia sudah mengizinkan perempuan menjadi pendeta dan memimpin ibadah.

Dan bahkan Gereja Swedia menyambut baik kalangan gay dan lesbian termasuk mereka yang ingin menjadi pendeta.

Semua hal yang dilakukan Gereja Swedia hingga saat ini tak pernah dilakukan atau dipikirkan Gereja Katolik Roma.

Paus Fransiskus sendiri dikenal dengan upayanya yang keras untuk meningkatkan hubungan antara Gereja Katolik dan kelompok keagamaan lainnya.

Bahkan, awal tahun ini Paus Fransiskus mengatakan, Gereja Katolik harus meminta maaf atas semua perlakuannya terhadap aliran Kristen lainnya di masa lalu.

Warisan sejarah kelam

Kebaktian yang digelar di kota Lund itu digelar untuk memperingati 500 tahun aksi biarawan Jerman Martin Luther yang menempelkan protes terkait penyimpangan Gereja Katolik di masa itu.

Martin Luther menuliskan protesnya di secarik kertas lalu menempelkan kertas itu di pintu sebuah gereja di kota Wittenberg.

Aksi yang menentang ajaran dan kekuasaan Paus itu mengakibatkan Luther dinobatkan sebagai penjahat oleh Gereja Katolik Roma.

Aksi Martin Luther itulah yang dianggap menjadi titik awal gerakan Reformasi Gereja, sebuah gerakan yang menciptakan aliran keagamaan dan politik baru di Eropa.

Butuh beberapa abad penuh kekerasan hingga gereja-gereja Protestan menjadi mapan dan mendominasi di wilayah utara benua Eropa.

Ajang di kota Lund ini juga merupakan bagian dari 50 tahun dialog gereja Katolik dan Lutheran untuk menyepakati beberapa hal yang menyebabkan gerakan reformasi gereja.

Pada 1999, Gereja Katolik dan Lutheran akhirnya menyepakati beberapa isu teologis yang menjadi akar dari permasalahan kedua kepercayaan ini.

Hal yang dibicrakan termasuk pertanyaan apakah umat manusia berkesempatan masuk ke dalam surga jika berbuat kebaikan semasa hidupnya atau pengampunan dosa hanya bisa diterima atas perkenan Tuhan.(internasional.kompas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here