Refleksi Sikap Politik Ahok dan Gemuruh Pendukung Agus

28
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | POLITIK – “Urusan politik (sama) Pak Djarot. Urusan kerja sama saya. Ngomong kerja saja,” kata Ahok beberapa waktu lalu.

Ahok panggilan Basuki Tjahaja Purnama memutuskan undur dirinya bicara politik Jakarta jika masih menjabat sebagai gubernur aktif. Ahok menyerahkan urusan politik Jakarta untuk sementara kepada wakilnya, Djarot Saiful Hidayat.

Ahok akan kembali bicara politik Jakarta saat waktunya tiba, yaitu di masa kampanye dan debat publik. Pengalaman didemo ormas karena menyitir ayat suci Alquran yaitu surat al-Maidah ayat 51 dengan tujuan politik terlihat masih berbekas di sikap Ahok.

Pernyataan politik Ahok bukan hanya isapan jempol semata. Ia membuktikannya saat hari pengundian nomor pasangan calon kepala daerah DKI Jakarta 2017, Selasa (25/10) malam.

Omongan ceplas-ceplos, dan sikap Ahok yang terkesan mudah marah tidak terlihat. Ahok lebih terlihat santai dan tenang.

Di sisi lain, momen itu menegaskan kalau panggung politik Jakarta sudah tidak hanya milik dan didominasi semata oleh Ahok. Kini, mantan bupati Belitung Timur itu harus berbagi ruang politik Jakarta dengan calon lainnya, yaitu pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Saat hari pengundian, Ahok benar-benar melepaskan momen politik itu. Ia menyerahkan kesempatan berpidato kepada wakilnya. Tak ada satu katapun terucap dari Ahok ke publik, baik yang hadir di sana maupun kepada warga menonton melalui siaran televisi.

Hari pengundian nomor urut merupakan titik awal sebelum dibukanya masa kampanye dan debat publik. Hari itu menjadi momen penting para calon dalam meyakinkan rakyat Jakarta.

Panggung itu menjadi pijakan awal para calon meyakinkan masyarakat dalam bertarung di Pilkada Jakarta.

Saat para calon duduk di atas kursi merah panggung Ruang Hall D JiExpo, Ahok asik berbincang dengan Djarot dan Anies. Sandi sekali-kali berbicara dengan Anies. Sementara, tidak ada perbincangan diantara Agus dan Sylvi.

Masuklah ke saatnya para calon menyampaikan pidato kepada masyarakat Jakarta, dan Indonesia.

Kesempatan pertama diberikan kepada Agus dan Sylvi untuk berpidato. Agus mendominasi jalannya pidato. Sylvi mendampinginya dengan senyum. Tak ada satu kata terucap dari Sylvi.

Usai berpidato, Agus dan Sylvi kembali ke tempat duduknya. Mereka bersalaman dengan calon lain yang menyambut di tempat duduknya.

Pembawa acara pun kemudian mempersilakan nomor urut dua berpidato singkat. Djarot berjalan ke arah podium. Ahok yang berdiri senyum usai bersalaman melirik Djarot. Bukannya menghampiri, ia malah memilih duduk kembali ke kursinya.

Panggung itu pun menjadi milik Djarot seorang. Padahal pasangan Anies-Sandi pidato bergantian di atas panggung. Saat Djarot berpidato, Ahok asik berbincang dengan Anies.

Usai berpidato, Djarot kembali ke kursinya. Ahok lantas berdiri menyambut dan menepuk tangan Djarot. Lalu tangan mereka berdua melambai membentuk angka dua, nomor urut mereka.

Setelah acara, Ahok kembali menghindari bicara politik. Ia terlihat kabur dari sorotan media di akhir acara pengundian dilakukan.

Tak ada sepatah kata pun diucapkan Ahok yang terlihat setengah berlari menuju kendaraannya melalui pintu belakang lokasi acara. Lagi-lagi, hanya Djarot yang mau membuka mulut di hadapan media massa.

“Kan boleh (saya menyampaikan pidato), tidak apa-apa bagus. Aku sekalian belajar pidato,” ujar Djarot.

Ketika ditanyai terkait sikap diam Ahok, Djarot enggan berkomentar dan langsung menuju kendaraannya.

Gemuruh Agus

Wajah bahagia tampak dari relawan pendukung Agus-Sylvi. Dengan menggunakan pakaian khas Betawi, relawan yang identik dengan syal jingga ini terus berteriak memberikan dukungannya kepada Agus-Sylvi.

Tepuk tangan diberikan dengan penuh semangat pada jagoan mereka.

Ruang itu begitu riuh dengan teriakan para relawan mendukung Agus. Gemuruh Agus terjadi di sana saat itu.

Suara pendukung Ahok-Djarot tertutup saat pasangan itu diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato. Bahkan, suara teriakan para pendukung Agus-Sylvi lebih keras ketimbang pidato yang dibawakan Djarot melalui pengeras suara.
Di depan para pendukung terlihat Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan dan Ketua DPW PAN Eko Hendro Purnomo atau yang lebih dikenal sebagai Eko Patrio. Keduanya tampak tertawa dengan reaksi dari para pendukung yang terus berteriak saat itu.

Meski mendapat sorakan seperti itu, Ahok-Djarot dengan santai memberikan senyum pada relawan yang mendukungnya.(cnnindonesia.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here