Potensi Herbal Indonesia Menjanjikan

59
SHARE

BHARATANEWS.ID |Kesehatan, Solo – Seketaris Eksekutif Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi Pertanian dan Pangan Asia Tenggara (SEAFAST) Center Dr Puspo Edi Giriwono mengtakan potensi herbal di Indonesia sangat menjanjikan. Hal itu didukung dengan kekayaan hayati Indonesia yang besar, mengingat Indonesia dinobatkan sebagai mega center keanekaragaman hayati terbesar di dunia setelah Brasil.

Dr Puspo menjelaskan setidaknya Indonesia memiliki sebanyak 10% dari semua jenis bunga di dunia. Indonesia juga diperkirakan memiliki lebih dari 30.000 jenis tanaman. Sebanyak 7.000 diantaranya telah diketahui dan digunakan sebagai pengobatan tradisional. Sekitar 1.250 jenis digunakan untuk produksi obat-obatan herbal dan jamu. “Jika 7.000 jenis tanaman tersebut dikalikan dengan 300 pengetahuan leluhur suku bangsa adalah kekayaan intelektual bangsa untuk pengobatan alami,” ungkap dia di Solo, Rabu (26/10).

Tidak hanya itu, lanjut dia, lebih dari 40% populasi mengandalkan khasiat dari jamu untuk menjaga kesehatan. Berdasarkan Euromonitor pertumbuhan pasar permintaan 9% pertahun. Sebit saja US$ 500 juta pada 2012, US$663 juta (2013), US$ 800 juta (2017). Bahkan, Kementrian Perindustrian mencatat total penjualan herbal 2015 diperkirakan mencapai Rp 20 triliun. Angka permintaan dan kebutuhan diperkirakan akan meningkat berlipat dengan permintaan pangan fungsional.

“Herbal, tanaman obat serta berbagai tumbuhan yang memiliki khasiat menyehatkan tubuh di Indonesia menjadi komoditas yang memiliki potensi komersial. Hal ini terlihat dengan terus meningkatnya permintaan konsumen akan mutu kehidupan dan kesehatan yang lebih baik,” paparnya.

Direktur Pelayanan Kesehatan Tradisional Kementerian Kesehatan Dra Meinarwati Apt MKes mengatakan kekayaan hayati di Indonesia sangat melimpah. Dari 40.000 jenis flora yang tumbuh di dunia, sebanyak 30.000 diantaranya tumbuh di Indonesia. Akan tetapi baru sekitar 26% yang telah dibudidayakan dan 74% masih tumbuh liar di hutan. Beberapa tumbuhan memiliki kemampuan pengobatan karena kandungan senyawa kimia atau senyawa aktif yang terdapat di dalamnya.

“Hampir seluruh bagian dari tumbuhan baik daun, akar, batang, buah, bunga, herba, biji, rimpang, dan kulit kayu dapat diambil manfaatnya untuk kepentingan kesehatan,” ucap dia.

Meskipun Indonesia menjadi lahan subur bagi tanaman obat, Dr Puspo menyayangkan pemanfaatannya masih terbatas. Oleh karena itu, dibutuhkan riset lebih lanjut dan kesinambungan dari pengetahuan turun temurun (local wisdom and knowledge) serta teknologi pengolahan untuk dapat memaksimalkan pemanfaatannya. Hal itu mengingat tuntutan dari populasi penduduk dan kebutuhan yang semakin meningkat.

“Serta, alternatif yang berasal dari sumber alami untuk proses penyembuhan, pencegahan penyakit dan menjaga kesehatan tubuh,” kata Dr Puspo.

Pada kesempatan yang sama, CEO PT Deltomed Laboratories Mulyo Rahardjo mengatakan pihaknya percaya bahwa alam menyediakan semua kebutuhan. Salah satunya tanaman herbal untuk pengobatan tradisional. Penduduk Indonesia secara turun-menurun menggunakan tumbuh-tumbuhan alami sebagai obat tradisional. Hal itu didukung dengan tren back to nature yang menjadikan masyarakat semakin sadar akan pentingnya penggunaan penggunaan bahan alami untuk kesehatan.

Oleh karena itu, lanjut dia, selama 40 tahun pihaknya secara aktif berperan serta dalam mengembangkan dan memberdayaan tanaman obat dan industri herbal di Indonesia. Dari sisi riset dan penelitian, kamis secara konsisten melakukan riset manfaat tanaman herbal dan melakukan penelitian mengenai efikasinya bagi masyarakat.

“Kami juga menggunakan teknologi berstandar Good Manufactring Practice (GMP) dan sudah memperoleh sertifikat NFS (Nastional Sanitary Foundation,” tutup dia(beritasatu.com)