Penghasil Robusta Terbaik, Bogor Diproyeksi Jadi Agrowisata

122
SHARE

BHARATANEWS.ID | TRAVELING – Tak banyak orang tahu, Bogor merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik dunia. Di kawasan timur Bumi Tegar Beriman, terhampar luas perkebunan kopi jenis Robusta. Tepatnya di Desa Tanjungsari, Antajaya dan Buana Jaya Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Bogor. Selain komoditi andalan ekspor, kawasan ini juga diproyeksikan menjadi lokasi agrowisata.

Berada di perbukitan Lendong, Desa Tanjungsari, lahan perkebunan kopi robusta Bogor terhampar hijau di ketinggian 680 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju lokasi ini, akses yang tersedia hanya jalan berbatu berbatas tebingan curam. Jaraknya dari pusat pemerintahan wilayah, sekitar satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Pantas saja kawasan ini diproyeksikan sebagai lokasi agrowisata. Pemandangan di perkebunan seluas 425 hektar ini begitu menarik mata. Apalagi jika para pelancong diajak mengenali jenis kopi dan turut memanen. Tentunya menjadi pengalaman wisata tersendiri.

“Begitu kami dapat izin dari pemerintah (perhutani, red) saya langsung tanam bersama warga lain,” tutur salah satu petani, Sarim (53), kemarin.

Dia bersama 399 orang lainnya sudah mengeluti dunia perkebunan kopi sejak 1997 silam. Sebelumnya, Sarim tak pernah terpikir bakal menjadi petani sekaligus eksportir kopi. Namun setelah mendapat pengetahuan tentang kesuburan tanah di ketinggian, tanpa ragu ia mulai menanam robusta.

“Ada juga buah-buahan. Duren, pisang. Buahnya kita manfaatkan. Tapi pohonnya ikut menunjang tumbuh kembang tanaman kopi. Melindungi kopi dari paparan langsung cahaya matahari,” jelasnya.

Mengingat proses panen kopi yang relatif lama yakni satu tahun sekali, keberadaan aneka ragam buah pun menjadi selingan.

Kepala UPT Pertanian Kabupaten Bogor, wilayah Cariu, Tatang Mulyadi, mengatakan Kecamatan Tanjungsari memang memiliki perkebunan kopi jenis Robutsa terluas di Kabupaten Bogor. Beberapa wilayah tersebut antara lain Desa Tanjungsari seluas 425 hektar, Desa Antajaya seluas 600 hektar, dan Desa Buana Jaya 60 hektar. “Saat ini terus berkembang. Titik fokus kami pada kualitas produksi,” kata dia.

Untuk meningkatkan kualitas kopi, sambung Tatang, UPT melakukan pendampingan dan pembekalan pengetahuan kepada para petani. Di antaranya cara untuk meningkatkan kualitas dengan mensortir hasil panen sebelum menembus pasaran. “Sebelum dijual, nantinya akan disortir terkebih dahulu. Kemudian diklasifikasikan,” tukasnya.

Sehingga dengan kualitas kopi terbaik akan memiliki harga lebih tinggi ketimbang kopi dengan kualitas standar. “Saat ini dijual sekilo Rp21 ribu karena belum ada pensortiran. Nantinya bisa lebih mahal lagi jika sudah disortir dan diklasifikasikan,” ungkapnya.

Tak hanya pendampingan, para petani kopi juga diberikan bantuan berupa mesin giling biji kopi, rak jemuran biji kopi, mesin kemasan, mesin penepung biji kopi dan bibit tanaman kopi robusta untuk pengembangan.

“Dengan begitu, mereka akan lebih ringan saat bertani. Terlebih lagi dipastikan akan semakin meningkatkan produksi,” ucapnya.

Selain penghasilan yang lebih tinggi, imbuh Tatang, peningkatan produksi juga dipastikan akan menyerap lebih banyak penggarap hingga membuka lapangan kerja.

“Apalagi nanti akan jadi argo wisata perkebunan kopi. Pasti akan banyak yang bisa bekerja di sana,” imbuhnya. Saat ini, ada sekitar 400 orang di Desa Tanjungsari, dan 500 orang di Desa Antajaya yang bekerja sebagai petani kopi. Sedangkan di Desa Buana Jaya ada sebanyak 75 petani.

Sadar akan potensi kopi Robusta di wilayahnya, belum lama ini Bupati Bogor Nurhayanti mendukung Bogor Coffe Festival di atrium Cibinong City Mall (CCM). Nurhayanti mengatakan, Bogor memiliki potensi perkebunan Kopi cukup besar yakni seluas 32 hektare yang dimiliki oleh pemerintah, swasta maupun perkebunan rakyat.

Adapun jenis kopi yang berkembang didominasi oleh jenis kopi robusta dan arabika yang tersentra di Kecamatan Tanjungsari, Sukamakmur, Cisarua, Megamendung, Pamijahan, dan Cigombong.

“Potensi tersebut tentunya perlu dikelola dengan baik, berkelanjutan, dan berkesinambungan, sejak penanaman sampai pada tahap panen danpasca panen. Agar kopi Bogor menjadi produk yang berkualitas dengan nilai ekonomis yang tinggi,” ungkap Yanti -sapaan Nurhayanti-.

Ia juga menegaskan, Kopi Bogor berpotensi menjadi penyangga kehidupan ekonomi masyarakat terutama para petani, juga berdampak signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi dan Pendapatan Daerah Kabupaten Bogor.

“Untuk itu perlu pengelolaan yang baik dan terstruktur, dengan harapan Kopi Bogor akan bisa memiliki daya saing dengan kopi-kopi lainnya, baik dalam skala lokal, nasional, maupun skala ekspor,” jelasnya.

Nurhayanti menambahkan, penyelenggaraan Bogor Coffe Festival ini merupakan upaya untuk memberikan kesempatan kepada para pelaku yang bergerak dibidang perkopian, mulai dari petani, pengelola perkebunan, hingga lembaga penelitian.

“Tentunya ini kami lakukan untuk memasyarakatkan Kopi Bogor lebih intensif,” tandasnya. Sebagai informasi, kopi hasil perkebunan Bogor termasuk kategori special superior dengan nilai 85,5.

(radartegal.com)