Kerap mangkal di trotoar, ojek online dikeluhkan warga di Bogor

47
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Lemahnya pengawasan dan belum adanya aturan terkait moda jasa transportasi berbasis online khusus roda dua mulai dikeluhkan warga. Selain potensi terjadinya gesekan dengan tukang ojek mangkal di sejumlah perumahan dan sesama driver online, tak adanya aturan terkait siapa yang berhak menindak juga membuat mereka bebas berhenti atau mangkal di pedestrian (fasilitas pejalan kaki) jalan-jalan protokol di Kota Bogor.

Tiga bulan terakhir, keberadaan pengendara ojek online banyak dikeluhkan oleh masyarakat karena dianggap mengganggu hak mereka sebagai pejalan kaki. Para ojek daring tersebut sengaja memanfaatkan luas dan bersihnya pedestrian, khususnya di Jalan Raya Pajajaran, Kapten Muslihat, serta Jalan Siliwangi.

“Coba lihat saja itu di Jalan Kapten Muslihat, selain mengganggu kebersihan dan keindahan pedestrian, mereka bersama PKL semakin mengganggu kenyamanan para pejalan kaki, kata Rahman Hidayat, 34, warga Gunung Batu, Bogor Barat, Kota Bogor, Rabu (26/10).

Hal senada diungkapkan, Arifin, 27, warga Pabaton, Bogor Tengah, Kota Bogor yang setiap harinya beraktifitas menggunakan fasilitas pejalan kaki untuk berangkat kerja ke Stasiun Bogor. Bahkan ia menyayangkan adanya oknum ojek online yang memakai pedestrian sebagai tempat nongkrong.

“Harusnya jangan nongkrong di pedestrian, kalau mau istirahat ya jangan parkir di pedestrian juga, kan bisa di warung kopi,” tuturnya.

Menanggapi keluhan tersbeut, Wakil Wali Kota Bogor Usmar Hariman yang akan memantau rekayasa lalu lintas di Jalan Kapten Muslihat-Ir H Juanda, langsung menegur para tukang ojek online tersebut sambil menjelaskan bahwa pedestrian itu fungsinya untuk pejalan kaki bukan untuk kendaraan.

“Iya tadi saya sempat ngobrol dengan mereka dan sebagian besar berdalih memarkirkan kendaraannya di pedestrian hanya sekedar untuk istirahat. Namun tetap saja tidak boleh, kan ini untuk pejalan kaki bukan untuk tempat ngetem ojek,” paparnya.

Bahkan menurutnya, beberapa diantara tukang ojek langsung bergegas dan menghindari orang nomor dua di Kota Bogori itu menyapanya. Bahkan mereka enggan diwawancara sejumlah wartawan yang ikut dalam inspeksi mendadak rekayasa lalu lintas dan pedestrian di jalan Kapten Muslihat itu.

“Setahu saya kan harusnya ojek online itu kan keliling, tidak perlu ada tempat pangkalannya,” lanjutnya.

Banyaknya keluhan tersebut, bukan hanya masyarakat umum, menyayangkan rekan seprofesinya menggunakan pedestrian sebagai tempat nongkrong. Abdul Rojak, 27,tukang ojek online Grab Bike mengakui seharsnya ojek berbasis aplikasi itu seharusnya bisa keliling, karena prinsip kerja ojek online adalah jaringan.

“Ojek online itu harus bergerak, karena kan prinsip dasarnya dia online, diumpamakan driver lagi di di rumah aja bisa dapat order, jadi janganlah pakai fasilitas umum untuk mangkal atau nongkrong,” ujarnya.(Merdeka.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here