Transit, Paling Tidak Disambut One Night Stay

44
SHARE

BHARATANEWS.ID | BUDAYA – Pada 2010-2016, wajah cerah penduduk Jogjakarta secerah masa depan kotanya kini. Mereka saja dapat bangkit setelah diluluhlantakkan Merapi, kenapa Kaltim tidak? Bukankah pariwisata mampu menjadi lentera terang di tengah gelapnya mendung sektor migas dan tambang saat ini.

TUA-MUDA berderet. Rela mengantre panjang hanya untuk sepotong kimbab dan tteokbokki. Masakan asal Negeri Gingseng menjadi primadona pengunjung yang datang ke Jogja Expo Center (JEC). Letaknya di belakang di dekat sisi kiri panggung. Dibandingkan stan kuliner lainnya, stan tersebut paling laris. Maklum saja Korea tengah mewabah dan menjadi latah. Culinary Festival tersebut berlangsung di hari kedua Jogja EATOF Travel Mart 2016, Sabtu (22/10). 

Bertandang kemari kurang dari dua jam, Kaltim Post menyempatkan diri mengunjungi beberapa stan. Dari sekian stan yang ada tak ditemukan stan khusus dari dinas pemerintah Kaltim. Stan yang cukup menarik perhatian berasal dari Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat.

Hanya sedikit kerajinan tangan yang dipajang. Lokasi yang cukup jauh itulah yang menjadi kendala. Maka tak heran pula harga yang ditawarkan relatif lebih mahal. Contohnya, satu buah gantungan kunci dibanderol Rp 50 ribu. “Harganya memang tidak murah, karena semua menggunakan bahan alami dan buatan tangan. Apalagi ongkos perjalanan yang dikeluarkan tidak sedikit,” ucap Kepala Bidang Penanaman Modal dan Investasi, Yan Viktor Kamisopa.

Seperti halnya Kaltim, Papua Barat dilimpahi sumber daya alam, termasuk migas. Namun, kehidupan pertambangan di sana masih terjaga. Harga batu bara dan gas di daerah tersebut tidaklah surut. Bahkan perusahaan migas yang ada mampu memproduksi sebesar 7,6 juta ton migas per tahun atau setara dengan 118 kargo. Yang sejak 2009 lalu telah berjalan, dan sudah mengirim lebih dari 440 kargo ke berbagai negara. Meski perekonomian berjalan, ia pun mengakui Teluk Bintuni masih dalam upaya pengembangan. 

Potensi alam yang serupa dengan Balikpapan lainnya, terdapatnya hutan mangrove. Yan, yang merupakan warga asli Bintuni itu mengatakan, keberadaan hutan mangrove yang tumbuh secara alami tersebut, tentu menjadi keuntungan yang tidak dimiliki seluruh daerah. Sebab, hutan mangrove sangat bermanfaat untuk penyerapan emisi gas karbon yang menjadi cikal bakal perubahan iklim. Perlu diketahui, dari 3,1 juta hektare hutan mangrove di Indonesia, 1 juta di antaranya berada di Teluk Bintuni. 

Kabupaten ini lahir pada 9 Juni 2003 lalu. Dulunya adalah bagian dari ibu kota Papua Barat, Monokwari. Terdapat 260 kampung dan 2 kelurahan di Teluk Bintuni, dengan jumlah penduduk mencapai 57.992 jiwa. Pengunjung dapat memilih berbagai akses untuk menuju kemari, laut, darat, dan udara. Bila menaiki kapal butuh waktu 12-21 jam, sedangkan pesawat terbang butuh waktu kurang lebih 1 jam menuju Monokwari, sebelum menuju Teluk Bintuni dengan pesawat kecil selama 40 menit. Sementara itu, dari Manokwari-Bintuni dapat dijangkau mobil kurang lebih 6-7 jam.

“Kami terus berusaha membangun Teluk Bintuni, mengajak para investor dan seluruh sektor. Pembangunan yang masih kurang ialah infrastruktur, yang disadari betul bila terwujud dapat menembus isolasi wilayah sehingga menciptakan akses yang menghadirkan kemandirian perekonomian masyarakat. Saya rasa Kaltim pun demikian, selain dianugerahi potensi alam yang melimpah, Bintuni dan Kaltim kaya akan keragaman tradisi, adat, budaya, dan agama, inilah yang perlu dijaga,” ucapnya.  

GUANGZHOU-BALIKPAPAN

Pemangku jabatan Kaltim dinilai masih gamang. Yang tak ayal menyebabkan merosotnya kunjungan wisatawan ke Kaltim hingga 40 persen. Walau keberadaan Pulau Derawan di Berau sering dikunjungi, daerah lainnya jarang tersentuh oleh wisatawan. Pemerintah diharapkan tidak sekadar asal promosi tapi perlu action. Jemput bola sekarang juga sebelum terlambat mesti dilakukan. Itulah yang disampaikan Joko Purwanto, pemilik Trans Borneo Travel and Tour di tengah waktu luangnya mengikuti acara JETM 2016.     

“Ketika gempa melanda Jogja begitu sepi, tapi kenapa sekarang bisa bangkit kembali? Itu karena seluruh elemen peduli. Setelah kejadian tersebut, mereka mengundang seluruh biro perjalanan dari dalam dan luar negeri. Stakeholder bahkan mengundang tukang becak dan dokar agar duduk bersama. Antusiasme dan kesadaran masyarakatlah yang membuat Jogja seperti sekarang. Kenapa pascatambang ini kita tidak membangkitkan pariwisata yang ada di Kaltim?” ujarnya.

Inilah peran yang harus dimainkan pemerintah, menjadi proaktif. Dengan mengadakan semacam pameran, seperti Jogja Travel Mart ataupun Borneo Travel Mart, guna memancing para buyer dan seller, serta investor dari luar. Meski disadari pangsa pasar Jogja dan Balikpapan tentu berbeda. Borneo Travel Mart sendiri merupakan ide murni dari Pemerintah Kota Balikpapan. Tapi itu tidak hanya terfokus di Balikpapan. Yang tidak dapat bergerak sendiri tanpa dorongan dari pemerintahnya. “Gaungnya adalah seluruh destinasi di Kaltim. Semakin sering dilakukan hasilnya akan maksimal. Sehingga perhotelan dan dinas pariwisata mencapai profit dan benefit,” kata Joko.

Dirinya pun menambahkan, bila menginginkan pendapatan asli daerah (PAD) yang tinggi harus ada investasi. Investasinya apa? Yakni pariwisata. Berkaca dari Jogja dan Bali, dia berharap pemerintah bisa hand to hand, buka sekadar duduk manis di kantor. “Memang Jogjakarta dikenal akan wisata historical. Tapi Kaltim juga punya bukan? Termasuk Balikpapan. Seperti halnya Sumur Mathilda dan Kuburan Jepang, sebenarnya bisa dijual bila dikemas dengan baik. Targetnya pasti para wisatawan Belanda dan Jepang,” tuturnya. 

Ia mengatakan, dulunya Sumur Mathilda dan Kuburan Jepang sempat berkembang pada tahun ‘70-90, tapi karena regenerasi saat ini masih kurang informasi, maka kian ditinggalkan. “Target kunjungan wisatawan tahun ini belum tercapai. Semoga tahun depan bisa lebih baik, itulah mengapa kami membuat gebrakan dengan adanya rute penerbangan langsung Guangzhou -Balikpapan,” harapnya.

Direktur Operasional Hotel Platinum Sugianto menyambut baik keberadaan rute penerbangan Guangzhou-Balikpapan. Mengingat wisatawan Tiongkok adalah pencinta pantai, Berau menjadi lokasi paling sempurna. Dengan harapan perbaikan infrastruktur sehingga wisatawan yang berkunjung merasa nyaman.  

“Luar biasa, bila bisa terwujud tentu menambah okupansi perhotelan. Otomatis PAD juga bertambah, karena wisatawan pasti berbelanja. Meski hanya kota transit paling tidak one night stay pasti naik. Bila tidak sungguh disayangkan, perekonomian akan stuck di sini saja,” tutupnya. (prokal.co)