Terpilihnya Trump Tidak Berarti Untungkan Komunis Tiongkok

45
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | INTERNASIONAL – Dalam pilpres AS kali ini, capres dari Partai Republik Donald Trump berkat kebijakan dan pernyataannya mendapat lebih banyak dukungan dari masyarakat etnis Tionghoa, bahkan termasuk di antaranya tidak sedikit merupakan golongan pro-PKT (Partai Komunis Tiongkok).

Menanggapi hal ini beberapa hari lalu pada sebuah seminar di New York Komentator Politik Chen Pokong menganalisa, jika Trump terpilih, belum tentu akan menguntungkan bagi komunis Tiongkok, bahkan mungkin akan menjadi awal dari suatu mimpi buruk bagi komunis.

Menurut Chen Pokong, pada umumnya warga RRT mendukung Trump, termasuk warga RRT di dalam negeri. Di luar negeri bahkan warga yang pro-PKT pun mayoritas berpendapat terpilihnya Trump akan menguntungkan bagi RRT, dan rasionya cukup tinggi.

Tapi menurut Chen Pokong, apabila Trump terpilih, belum tentu menguntungkan bagi komunis Tiongkok, juga belum tentu akan bermanfaat bagi rakyat Tiongkok, bahkan sebaliknya menurut Chen, terpilihnya Trump mungkin akan menjadi awal suatu mimpi buruk bagi partai komunis.

Trump Tidak Berbicara Soal HAM?

Menurut Chen Pokong, pertama, dalam proses kampanyenya Trump tidak berbicara soal HAM. Tidak hanya itu, ia juga mengatakan, penindakan pada peristiwa Lapangan Tiananmen pada 1989 adalah tindakan terhadap kekacauan, memperlihatkan bentuk kekuatan pemerintahan PKT, yang oleh karenanya menuai kecaman luas dari kelompok HAM. Kemudian Trump menjelaskan, pernyataannya tersebut bersifat netral, tidak mengandung makna mendukung PKT, hanya sebatas menyampaikan suatu fakta.

Chen berpendapat, walaupun setelah terpilih sebagai presiden Trump tetap tidak mengungkit soal HAM, pondasi demokrasi di AS sudah tidak tergoyahkan. Kedua dewan yang terbentuk baik oleh kongres maupun senat tetap akan eksis. Media massa yang ibarat raja tanpa mahkota akan tetap mengawasi. Kelompok HAM masyarakat dan kekuatan HAM lainnya tetap akan aktif. Pemerintahan Trump akan mendapat tekanan dan lobi tetap akan terjadi. Trump tetap akan menghadapi masalah HAM yang telah menjadi persoalan lumrah dihadapi negara-negara otoriter lainnya.

Dampak Terhadap Situasi Internasional

Dalam seminar Chen Pokong juga menyatakan, dalam kampanyenya Trump ada suatu paparan, yakni ingin menyelaraskan kembali hubungan dengan Korea, Jepang dan Eropa, hubungan kerjasama pertahanan negara agar dibiayai sendiri oleh masing-masing negara tersebut, atau masalah pertahanan diurus masing-masing.

Seperti Jepang dan Korea Selatan, sebaiknya tidak ada payung perlindungan nuklir dari AS, dan menghadapi komunis Tiongkok tanpa AS. Jika terjadi kondisi ini, pada permukaan terlihat sepertinya menguntungkan bagi komunis Tiongkok, Beijing mungkin diam-diam akan senang, tapi jangan terlalu cepat senang dulu.

Menurut Chen Pokong, jika Amerika hengkang dari Asia dan tidak lagi berfungsi sebagai penjaga keamanan di Asia, maka berbagai negara Asia akan segera memperkuat perlombaan persenjataannya.

Beberapa tahun lalu, mantan ketua Partai Demokrasi Jepang Ichiro Ozawa pernah mengatakan, Jepang bisa menciptakan seribu buah bom nuklir dalam semalam, Jepang memiliki kemampuan teknologi ini. Jika tidak ada bantuan AS, untuk menghadapi musuh kuat seperti PKT, Jepang mempunyai alasan yang sangat kuat untuk mempersenjatai diri, dan kembali berdiri di pentas internasional.

Korea Selatan juga bisa meniru Korea Utara mengembangkan senjata nuklir, mengatasi nuklir dengan nuklir. Di sekitar RRT sudah ada empat negara yang memiliki senjata nuklir, Rusia, India, Korut, dan Pakistan. Jika kelak ditambah dengan Jepang dan Korea Selatan, maka hanya akan memperburuk kondisi keamanan bagi RRT.

Selain itu, pemerintah PKT sangat paham peran AS di Asia sebagai penjaga kestabilan dan perdamaian, AS ibarat tembok pembatas yang membendung konflik antara berbagai pihak ini, jika tembok pembatas ini dirobohkan, maka Asia akan mudah terjerumus ke dalam kekacauan akibat peperangan.

Saat menerima wawancara reporter di sela seminar, Chen Pokong juga menyatakan bahwa karena hubungan Trump dan Rusia cukup dekat, jika Trump terpilih, maka Rusia mungkin akan mengubah sikapnya untuk urusan internasional, dan berbalik menjadi kooperatif dengan AS. Begitu hubungan AS-Rusia membaik, maka hubungan Jepang-Rusia mungkin juga akan mengalami perubahan yang baik pula, dan “hubungan segitiga” antara Rusia-India-Vietnam akan semakin menguat, dominasi Rusia di Benua Asia akan semakin menonjol, dan akan membuat PKT merasa ibarat ada duri di punggungnya.

Analisa Chen memaparkan, Trump menganut paham isolasionisme, begitu Trump melontarkan kebijakan “Amerika tidak akan menjadi polisi internasional lagi”, maka AS akan hengkang dari Asia, RRT dan Rusia pun akan berpotensi saling menjadi musuh terbesar bagi satu sama lain.

Dampak Terpilihnya Trump Terhadap Perekonomian RRT

Chen Pokong juga menyatakan, Trump adalah penganut paham perlindungan perdagangan Amerika, ambisinya adalah membangun kembali AS di bidang ekonomi dan membuat AS kuat kembali, membuat angka defisit perdagangan AS “menjadi nol”, yang artinya akan membuat angka pertumbuhan ekonomi RRT juga “menjadi nol”.

Chen Pokong mengatakan, adalah Amerika yang telah membawa RRT ke pentas dunia, adalah Amerika yang telah membantu RRT bergabung dalam WTO, setiap tahun AS telah menyediakan pasar ekspor yang paling besar bagi RRT.

Jika tidak ada defisit perdagangan sebesar lebih dari USD 300 milyar setiap tahunnya, pertumbuhan ekonomi RRT sama sekali tidak akan ada. Dan pada saat ini titik kelemahan terbesar RRT adalah ekonomi, saat ini ekonominya tengah memburuk, mesin perdagangan internasional dan investasi asing juga terus melemah, begitu AS mengambil sikap dalam hal ekonomi terhadap RRT, maka daya pendorong ekonomi terbesar RRT itu akan lenyap.

Sangat banyak pendukung PKT yang berharap agar Trump terpilih, tapi realita mungkin akan berbalik dengan harapan mereka.

“Perubahan yang terjadi setelah terpilihnya Trump akan memberikan sebuah pelajaran yang akan berbekas sangat mendalam bagi orang-orang RRT yang telah dicuci otaknya di bawah pemerintahan komunis itu, atau sebuah hantaman godam yang telak di kepala mereka,” jelas Chen. (sud/whs/rmat)(erabaru.net)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here