Poros Mahasiswa-Investasi Pendidikan

47
BERBAGI

BHARATANEWS.ID | PENDIDIKAN – Penyelenggaraan kompetisi sains nasional kesembilan pada 2016 perlu diapresiasi setinggi mungkin.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Pertamina (Persero) bersama Universitas Indonesia dan atas dukungan Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, mengusung semangat yang sama seperti periode sebelumnya, yakni mencetak generasi muda berprestasi yang terus berkarya membangun negeri.

Kompetisi ilmiah yang sebelumnya bernama Olimpiade Sains Nasional Pertamina (OSN Pertamina) itu berganti nama menjadi Pertamina Olimpiade Sains (POS), karena jangkauannya sudah mengglobal ke tingkat regional ASEAN. Beberapa manfaat nyata POS 2016 sebagai berikut.

Pertama, mengembangkan budaya kompetisi generasi bangsa. Hal ini penting karena hidup adalah panggung persaingan.

Butuh media untuk melatih ambisi positif dan sportivitas, agar arif dan bijaksana dalam bersaing menjadi yang tinggi tanpa menjatuhkan, baik tanpa menjelekkan, benar tanpa menyalahkan, maju tanpa menyingkirkan, dan bahagia tanpa menyakiti. Titik tekannya bukan pada pelaksanaan kompetisi berlomba untuk menjadi yang terbaik.

Lebih dari itu, POS 2016 menjadi momentum untuk berbagi ilmu dan saling menebar inspirasi. Perlu diingat, negara hebat butuh pendidikan yang kuat. Semangat itu sejalan dengan kegigihan Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh pendidikan nasional yang gigih mewujudkan pendidikan progresif.

Kedua, meningkatkan jejaring komunitas generasi muda ASEAN dalam mengembangkan sains dan terapannya.

Perkembangan zaman yang multidimensional memang menuntut negara untuk memperkuat sumber daya manusia (SDM). Karena tuntutan itulah event olimpiade ilmiah dapat menjadi media konsolidasi generasi potensial untuk mengapresiasikan diri, menggagas ide, menampilkan karya cipta, serta mengukir prestasi.

Ketiga, POS dapat membangun iklim akademik yang sehat. Iklim tersebut dapat dilihat dari budaya scientific generasi muda, yakni generasi proaktif berbudaya observing (mengamati), questioning (menanya), experimenting (pengumpulan data), associating (mengasosiasi), dan communicating (mengomunikasikan).

Iklim akademik yang baik dengan budaya scientific kemudian dibumbuikearifan lokal, dapat membuka harapan bangsa Indonesia untuk menjadi poros pendidikan dunia. Di sisi lain, melalui peradaban sektor pendidikan, secara otomatis derajat bangsa Indonesia terangkat sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah SWT (QS Al-Mujadalah: 11).

Tekad kuat memajukan pendidikan sama halnya dengan mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup atau dalam istilah Jawa dikenal sebagai semangat memayu hayuning bawono. Itulah mengapa KH Ahmad Dahlan menghendaki pendidikan untuk ditempatkan pada skala utama dalam proses pembangunan umat. Terakhir, POS dapat menjadi wujud upaya investasi pendidikan.

Hal ini terkait dengan keberkahan bonus demografi dalam kurun tahun 2028- 2035, yang saat itu diperkirakan akan tersedia kurang lebih 65 juta tenaga kerja muda produktif berusia 15-29 tahun. Tentu panen generasi produktif itu akan terbuang sia-sia, jika investasi pendidikan tidak dipersiapkan dari sekarang. Artinya, jangan mimpi memanen jika tidak menebar benih dan merawatnya. Wallahu a’lam bi al-shawwab.(koran-sindo.com)