PlayStation VR Harapan Terakhir Industri VR?

28
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | Game –¬†Industri teknologi virtual reality pernah diprediksi akan meledak tahun ini. Sayangnya hal tersebut tidak menjadi kenyataan. Hingga saat ini teknologi VR masih kesulitan untuk diterima oleh konsumen.

Memang perangkat VR seperti Oculus Rift dan HTC Vive telah terjual sangat cepat pada saat dirilis, namun saat ini penjualan keduanya terlihat mengalami stagnasi. Lalu apakah VR sudah selesai begitu saja?

Untungnya, Sony juga ikut terjun ke industri ini melalui perangkat PlayStation VR (PSVR), dan perangkat tersebut bisa jadi merupakan harapan terakhir industri VR.

Ketika mencoba secara langsung dalam sesi khusus bersama PlayStation Indonesia, PlayStation VR memang menawarkan pengalaman yang berbeda dengan pesaingnya, seperti Oculus Rift atau HTC Vive.

Headset VR milik Sony ini memanfaatkan PlayStation Camera sebagai perangkat pendukung, dan kamera ini harus dimiliki pengguna jika ingin memainkan game VR. Kamera ini mampu menangkap sensor yang terpasang di headset untuk menghasilkan perintah dan gerakan yang lebih akurat. Perangkat pendukung seperti Playstation Move dan Dual Shock 4 digunakan tergantung game yang dimainkan.

Harus diakui, headset ini lebih nyaman dipakai dibanding produk pesaing. Alasan utamanya adalah karena desain bodi yang cenderung lebih merata untuk bobot, sehingga tidak akan terasa pegal jika dipakai dalam waktu yang lama.

Untuk jenis game, FPS tentu menjadi fokus utama developer, karena dengan sudut pandang orang pertama, pengalaman bermain akan lebih terasa. Dalam beberapa game pemain mungkin akan merasakan motion-sickness, dan pihak Sony juga menyarankan untuk memberi waktu istirahat untuk kepala pengguna setiap kali bermain PSVR.

Meski hanya bisa digunakan secara eksklusif di PlayStation 4 (dan PlayStation 4 Pro yang belum dipasarkan), PSVR memiliki beberapa nilai strategis yang bisa mempopulerkan industri VR.

Pertama, PSVR sudah memiliki ekosistem yang jelas dan terbentuk melalui jaringan layanan PlayStation dari Sony. Ekosistemnya memang tertutup dan hanya bisa dinikmati jika Anda memiliki perangkat PlayStation. Artinya, PSVR tidak bisa digunakan di perangkat lain seperti PC. Namun di sisi lain, jumlah konten PSVR terus berkembang pesat.

Berbagai developer game besar telah mengumumkan ikut bergabung untuk mengembangkan game VR di PSVR, mulai dari Ubisoft dengan Eagle Flight, hingga CCP dengan EVE Valkyrie. Sementara developer indie juga cukup banyak yang telah mengembangkan game untuk PSVR, seperti game-game yang baru saja dipublikasikan oleh Oasis Games.

Di sisi lain, ekosistem VR di PC terbagi menjadi dua, Oculus yang ingin membuat eksosistem eksklusif, dan Valve yang ingin ekosistem terbuka. Kondisi tersebut membuat pengguna PC akan sulit memilih untuk membeli perangkat VR.

Alasan kedua adalah PSVR lebih murah ketimbang Oculus Rift dan HTC Vive. Saat ini PSVR memang masih merupakan headset VR paling terjangkau. Di Indonesia, PSVR dibanderol dengan harga Rp6,4 juta dan Rp7 juta jika Anda juga ingin mendapatkan unit PSVR dengan PlayStation Camera. Sementara Oculus Rift dan HTC Vive harganya bisa mencapai lebih dari Rp10 juta.

Ketersediaan juga menjadi masalah utama bagi perangkat VR di PC. Sejauh ini, hanya beberapa negara tertentu yang sudah bisa menikmati Oculus Rift dan HTC Vive. Bahkan hingga saat ini keduanya masih belum dirilis secara resmi di Indonesia. Sementara PSVR sudah tersedia di Indonesiasejak beberapa hari yang lalu.

Apakah VR akan menjadi teknologi hiburan masa depan, atau hanya menjadi teknologi yang hanya sekadar lewat? Bagaimana menurut Anda?
(teknologi.metrotvnews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here