Pemkot Depok Kampanye Program Zero Waste City

70
SHARE

BHARATANEWS.ID | DEPOK – Menumpuknya sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung membuat Pemerintah Kota Depok melakukan rekayasa penanganan sampah melalui program unggulan zero waste city. Pemkot Depok akan mulai menggalakkan pemilahan sampah yang dimulai dari titik rumah tangga dan menggencarkan penggunaan plastik berbayar.

Wali Kota Depok, Mohammad Idris, mengatakan, program zero waste city ini sejalan dengan imbauan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi untuk Indonesia Bebas Sampah pada tahun 2020.

“Jumlah penduduk di Depok terus bertambah. Pun demikian dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Kami akan terus dorong warga Depok agar mau memilah sampah dari dalam rumah sendiri. Dari titik terkecil yakni dari rumah tangga, sampah sudah harus dipilah,” tutur Idris dalam Sosialisasi Zero Waste City di Warung Mang Kabayan, Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (24/10).

Sedangkan untuk penggunaan plastik berbayar, kata Idris, hingga saat ini sudah berjalan dengan baik. Para pengusaha ritel telah menerapkan kebijakan sesuai dengan peraturan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Saat ini, lanjut Idris, harga plastik berbayar dibanderol Rp200 per plastik. Para pengusaha ritel pun kini sudah berlaku tertib dengan menggunakan plastik yang mudah diurai dan akan hancur dalam waktu tidak sampai sepuluh tahun.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, Etty Suryahati, menuturkan, setiap manusia di Kota Depok menghasilkan 0,5-0,75 kilogram sampah per bulan termasuk bayi baru lahir. Bayi pun sudah menghasilkan sampah dari penggunaan diapers setiap harinya.

Belum lagi pola hidup manusia yang berubah, pengunaan tisu kini mendominasi jika dibandingkan dengan penggunaan sapu tangan. Pun demikian dengan popok kain yang telah terlupakan dan tergantikan oleh diapers.

Berdasarkan data DKP Kota Depok, setiap harinya produksi sampah di Depok adalah sebanyak 1.250 ton per hari. Dari jumlah tersebut, baru 700-750 ton yang mampu diangkut ke TPA. Sedangkan 100-150 ton diantaranya mampu diolah di Unit Pengolahan Sampah (UPS) yang berjumlah 36 tersebar di seluruh kelurahan dan kecamatan se-Kota Depok.

“Ini berarti masih ada yang tersisa sebanyak 200-250 ton. Inilah yang kami dorong kepada warga untuk turut serta memilah sampah dari dalam rumah sehingga sampah yang masuk ke TPA hanya tinggal residu nya saja dan ini dapat meringankan beban TPA,” papar Etty.

Meski masih bisa digunakan pada tahun 2017, namun, Pemkot Depok hingga saat ini masih terus mencari cara untuk mengoptimalisasi penggunaan TPA Cipayung agar tetap bisa menampung sampah. Beberapa upaya yang dilakukan adalah dengan visibility study untuk memetakan teknologi apa yang tepat untuk diaplikasikan di TPA Cipayung.

Selain itu, saat ini yang telah dilakukan adalah pemanfaatan gas metan di TPA Cipayung yang dapat digunakan untuk bahan bakar memasak.

“Tidak perlu khawatir akan terjadi ledakan seperti di Leuwi Gajah, Bandung beberapa tahun lalu, sebab di TPA Cipayung, gas metannya sudah bisa digunakan dan dimanfaatkan,” tutur Etty.

(beritasatu.com)