Ini Alasan Kadispendik Anggarkan Pendidikan Gratis Seharga 1 Bungkus Rokok

55
SHARE

BHARATANEWS.ID | PENDIDIKAN –┬áKepala Dinas Pendidikan Jember Bambang Hariono mengatakan, anggaran pendidikan gratis dalam Perubahan APBD 2016 sudah melalui proses analisis dan kajian.

Dalam rapat Kebijakan Umum Anggaran-Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Perubahan APBD 2016 di gedung DPRD Jember, Selasa (25/10/2016), terungkap Dispendik menganggarkan total Rp 19,674 miliar untuk pendidikan gratis SD, SMP, SMA, dan SMK negeri selama tiga bulan terakhir tahun anggaran ini.

Bagi 172.872 orang siswa SD, Dispendik Jember menganggarkan Rp 7,779 miliar. Rinciannya, setiap siswa mendapat insentif Rp 15 ribu per bulan. Bagi 48.480 orang siswa SMP, dianggarkan Rp 3,636 miliar, dengan rincian Rp 25 ribu per siswa per bulan.

Bagi 14.298 orang siswa SMA, Dispendik menganggarkan Rp 3,431 miliar, dengan rincian Rp 80 ribu per orang per bulan. Sementara bagi SMK, dianggarkan Rp 4,828 miliar dengan rincian Rp 130 ribu per orang per bulan.

Wakil Ketua DPRD Jember Ayub Junaidi menyoroti kecilnya nilai insentif pendidikan gratis bagi siswa SD. “Satu orang siswa SD negeri cuma dibantu Rp 15 ribu. Ini sama seperti harga satu pak rokok,” katanya.

Bambang mengatakan sudah berkonsultasi dengan Kementerian Pendidikan. “Sehingga muncul angka Rp 15 ribu, Rp 25 ribu, Rp 80 ribu, dan Rp 130 ribu per bulan. Kami ajak diskusi para kepala sekolah. Kami tidak serta-merta,” katanya.

Bambang membenarkan, jika kewenangan pengelolaan SMA dan SMK sudah diserahkan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur. “Tapi murid-muridnya tetap anak-anak Jember. Itu juga kesepakatan politik antara DPRD dan bupati dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) yang kami breakdown pada rencana strategis, sehingga tetap kami anggarkan di Perubahan APBD,” katanya.

Ayub mendapat informasi, bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengeluarkan peraturan terkait pendidikan gratis. “Ada kesalahan pemahaman soal pendidikan gratis. Banyak kepala daerah berjanji di masa kampanye, ternyata malah menurunkan kualitas pendidikan. Jadi semangatnya bukan gratis, tapi pendidikan berkeadilan. Ada subsidi silang antara yang kaya dan miskin,” katanya.(Beritajatim.com)