Cerita Pria yang Berusaha Sembuh dari Kecanduan Main Games 50 Jam Seminggu

51
BERBAGI

BHARATANEWS.ID | Game – Jakarta, Sejak usia 9 tahun, Charlie Bracke (28) sudah kecanduan bermain game. Di hari-hari selain hari libur, Charlie menghabiskan waktu 4 sampai 5 jam bermain games. Di akhir pekan, ia bisa menghabiskan waktu bermain games 10 sampai 11 jam.

Kecanduannya terhadap games makin menjadi. Terlebih, Charlie selalu dibully oleh saudara laki-lakinya. Belum lagi saudara laki-lakinya kerap bertengkar dengan orang tuanya. Dengan kata lain, Charlie menjadikan main games sebagai pelarian.

“Di sekolah menengah, saya punya banyak teman dan kami sering hang out. Saat itulah adiksi saya mulai berkurang,” tutur Charlie kepada Prevention.

Tapi saat masuk kuliah, adiksi games Charlie muncul lagi setelah ia patah hati dengan beberapa orang wanita. Ditambah dengan kepergian sang nenek, Charlie merasa depresi dan ia menjadikan main games sebagai pelarian.

Hingga saat itulah, dalam seminggu Charlie bisa menghabiskan waktu 50 sampai 60 jam untuk bermain games. Konselor menyarankan Charlie untuk cuti kuliah dan mencari kegiatan lain. Maka dari itu, Charlie berhenti kuliah dan pindah dari Indiana ke Virginia untuk tinggal bersama kakaknya.

Kepindahannya ke Virginia membuat Charlie harus memutuskan hubungannya dengan sang kekasih. Nah, di situlah kecanduan games Charlie kembali muncul.

“Saya bekerja di real estate. Tapi yang terjadi, tiap bangun pagi saya menyalakan komputer dan berpikir bermain satu games dulu kemudian berangkat kerja. Tapi yang terjadi, sampai jam 3 siang saya masih terpaku di depan komputer dan tidak kerja. Itu terus terulang,” tutur Charlie.

Ia lantas mencoba menjauhkan diri dari komputernya, tapi lagi-lagi Charlie selalu menemukan cara untuk dia kembali lagi bermain games hingga adiksinya kambuh. Puncaknya, Charlie dipecat dari tempatnya bekerja dan orang tuanya pun membawanya ke pusat rehabilitasi adiksi teknologi di Washington. Di sana, Charlie bertemu dengan orang yang adiksi internet, pornografi, atau games.

“Di sana kami menerapkan pola hidup sehat, saling berbagi, mengisi kegiatan dengan aktivitas selain yang berkaitan dengan teknologi, dan membuat rencana apa yang mesti dilakukan jika kami sudah keluar dari pusat rehabilitasi itu,” kata Charlie.

Baca juga: Hati-hati, Ini Masalah Kulit yang Muncul Jika Kebanyakan Main Game Konsol

Nah, setelah keluar dari pusat rehabilitasi itu, Charlie berusaha mengalihkan keinginannya untuk bermain games dengan kegiatan lain. Ia juga membatasi waktu menggunakan smartphone-nya. Sebisa mungkin, Charlie juga menghindari hal-hal yang berbau video games dan tidak banyak berteman dengan orang yang kerap mengunggah soal video games di sosial media.

Ia juga berusaha mengendalikan diri ketika timbul keinginan bermain games. Beruntung, semua upaya Charlie berhasil. Kini, ia sudah mendapat pekerjaan dan beruntungnya, teman serta keluarga mendukung upaya Charlie sembuh dari kecanduan.

“Mereka mengerti bahwa saya memang sengaja menghindari hal-hal berbau video games. Itu amat membantu. Dan saya bahagia menjadi diri saya yang sekarang. Saya berharap dengan cerita ini orang lain yang merasa mengalami adiksi games, bisa segera mencari bantuan,” tutur Charlie.

Beberapa waktu lalu, dr Leonardi A. Goenawan, SpKJ dari RS Pondok Indah dan Puri Indah Internet Addiction Disorder (IAD) belum mendapat tempat yang ‘resmi’ dalam penggolongan diagnosis gangguan jiwa yang terbaru sekalipun (DSM-5). Namun IAD jelas merupakan suatu ancaman terhadap kesehatan mental maupun fisik seseorang.

dr Leonardi mengatakan kecanduan internet akan menurunkan kesehatan fisik seseorang. Orang yang kecanduan internet akan tahan berada di depan komputer atau smartphone selama berjam-jam dan tak pernah melakukan aktivitas fisik.

“Di sisi lain, kecanduan internet juga akan menyebabkan seseorang terperangkap atau terkurung dalam kamar tanpa interaksi sosial yang nyata. Hal ini bisa menimbulkan gangguan jiwa seperti gangguan kecemasan hingga depresi,” katanya.

Baca juga: Begini Akibat Buruk Kebanyakan Nonton TV dan Main Komputer pada Anak-Anak(http://health.detik.com)