Bisnis otomotif masih topang kinerja ASII

51
SHARE

Pekerja memeriksa Toyota Wigo yang siap diekspor ke Filipina dari pabrik di Karawang, Jawa Barat (24/8). Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) bertekad mengalahkan ekspor mobil yang diproduksi oleh Thailand. Saat ini Thailand mengekspor 800.000 sampai 900.000 unit mobil per tahun ke pasar global, sedangkan Indonesia baru 200.000 unit per tahun. KONTAN/Carolus Agus Waluyo

BHARATANEWS.ID | OTOMOTIF –┬áProspek emiten PT Astra International Tbk (ASII) masih akan cukup bagus di tahun ini dan tahun depan. Kinerja ASII masih bakal tumbuh ditopang oleh kontribusi dari sektor otomotif. Kinerja bisnis otomotif ASII mulai membaik di kuartal tiga lalu.

Selama sembilan bulan tahun ini, ASII mencatatkan penjualan kendaran roda empat sebesar 422.400 unit, atau naik 11% dari periode yang sama tahun lalu. Pada kuartal ketiga 2016, pangsa pasar ASII juga naik 4% menjadi 59%.

Di kuartal sebelumnya, pangsa pasar kendaraan roda empat emiten ini sebesar 55%. Tapi pasar kendaraan roda dua masih melambat. Hingga akhir tahun, analis Samuel Sekuritas Akhmad Nurcahyadi memperkirakan, penjualan kendaraan roda dua ASII hanya akan mencapai 5.737.951 unit, atau 98,67% dari proyeksinya yaitu 5.815.411 unit.

Di kuartal IV tahun ini, Akhmad memprediksi penjualan kendaraan roda empat akan mencapai 279.048 unit. Dus, penjualan mobil sampai akhir 2016 akan mencapai 1.061.856 unit atau tumbuh 4,79% dibanding tahun lalu.

“Capaian itu setara 99,84% proyeksi kami di tahun ini sebesar 1.063.583 unit,” kata Akhmad dalam risetnya, Jumat (14/10).

CPO dan batubara

Analis BNI Securities Thennesia Debora mengatakan, kinerja ASII sampai tahun depan masih akan bagus. Sektor otomotif, terutama penjualan mobil, masih berkontribusi cukup besar pada total pendapatan ASII.

“Sampai akhir tahun ini kontribusi otomotif masih di atas 50% atau lebih tepatnya 53,3%, begitu pun di tahun depan,” katanya kepada KONTAN, Selasa (25/10).

Tahun depan, jenis mobil low cost and green car (LCGC) dan low MPV diprediksi masih menjadi pendorong pertumbuhan penjualan ASII. Lebih lanjut, Thennesia mengatakan, laba bersih ASII akhir tahun ini akan mulai pulih karena biaya impairment dari anak usahanya PT United Tractors Tbk (UNTR) sudah mulai berkurang.

Ia memproyeksikan hingga akhir tahun ini, ASII akan mengantongi penjualan Rp 183 triliun dan laba bersih Rp 15 triliun. Penurunan suku bunga BI 7-days reverse repo rate menjadi 4,75%, menurut Thennesia, akan menjadi katalis positif di tahun depan. Apalagi jika ditambah dengan penurunan suku bunga kredit yang bisa mendorong penjualan otomotif ASII.

Maka, Thenesia memproyeksi penjualan ASII akan tumbuh 5% dan laba bersih 10% di tahun depan. Tapi kinera anak usaha ASII, yakni UNTR dan Bank Permata, diprediksi masih pelan.

UNTR masih sulit mencetak kinerja oke meski harga batubara sedang dalam tren naik. Anak usaha yang masih cukup menarik, menurut Thennesia adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), karena terkerek harga minyak sawit mentah (CPO).

Analis Panin Sekuritas Frederik Rasali juga melihat, kenaikan harga batubara dan CPO selama tiga bulan terakhir seharusnya bisa mendorong kinerja AALI dan UNTR. Tapi, “Untuk perbankan masih flat karena persaingan yang ketat dan risiko di pasar masih relatif tinggi,” jelas dia.

Frederik, Thennesia, Akhmad merekomendasikan beli saham ASII dengan target harga masing-masing Rp 9.200, Rp 9.000 dan Rp 9.000 per saham. Selasa (25/10), saham ASII turun 1,51% jadi Rp 8.175 per saham.(Investasi.kontan.co.id)