Potensialnya Bisnis Kopi

47
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | UNIK – Bisnis kopi saat ini menjadi salah satu tren di Kota Bengkulu. Hal tersebut ditandai dengan menjamurnya usaha kopi yang laris manis menjadi tempat tongkrongan berbagai kalangan. Bagaimana bisnis ini bisa mendapat tempat khusus bagi masyarakat? Berikut ulasannya.

Kopi sudah tidak lagi sebatas minuman bagi masyarakat. Beberapa diantaranya menjadikan kopi sebagai sebuah hobi (hobi minum kopi). Kopi pun dianggap sebagai pematik inspirasi.

Selain itu juga bagi sebagian orang bisa menemukan berbagai filosofi dalam hangatnya secangkir kopi. Maraknya hobi minum kopi ini tidak bisa dipungkiri menjadi lahan empuk menambah penghasilan. Bisnis kopi jelas menjadi pilihan.

Kebiasaan meminum kopi ini sudah bertransformasi menjadi gaya hidup kekinian di Bengkulu. Tak hanya tua atau muda, pria atau wanita, kopi saat ini dianggap sebagai minuman yang tidak membedakan kasta dan tingkat ekonomi masyarakat.

Rizky Lingga adalah salah satu pemain dalam bisnis kopi di Bengkulu saat ini. Wajar saja, karena dunia kopi bukanlah merupakan hal yang baru bagi pria kelahiran Malang, 25 Juni 1990 ini.

Alumni Universitas Mercu Buana Jakarta ini mengenal kopi dari sang paman ketika berkunjung ke Medan sekitar 5 tahun lalu. Dari sanalah dirinya mulai terbesit menjadikan kopi bukan hanya sekadar minuman. Melainkan juga ladang penghasilan.

Saat ini mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bengkulu (Unib) tersebut membuka usaha Kedai Han yang berlokasi di Jalan Bandar Raya Ujung Kelurahan Rawa Makmur.

Tidak hanya itu, Lingga pun kerap mengirimkan beberapa produk biji kopinya ke beberapa pelanggannya di Nusa Tenggara Barat, Jawa Barat, Jakarta, hingga Negeri Jiran Malaysia.

Dengan mengusung brand Kopi Dilek, yang diterjemahkan berarti ngopi dulu (Dilek dalam bahasa Turki artinya ingin atau akhiran dulu), Lingga yang belajar meracik kopi secara otodidak ini cukup mendapatkan tempat di hati pecinta kopi di Kota Bengkulu.

Beberapa kreasi kopi hasil racikannya yang cukup dikenal oleh anak muda di Kota Bengkulu adalah kopi wine dan kopi peaberry. Selain itu juga Kedai Han menyiapkan jenis minuman kopi premium seperti kopi ciwedey, kopi gayo, kopi lengket, kopi mandailing, kopi kintamani hingga kopi jahanam.

Kemudian juga beberapa varian lainnya juga menjadi salah satu pilihan bagi pengunjung seperti kopi gayo Vietnam drill, kopi civwedey + V60, dan Ice Americano Lemonade.

“Dalam membuat varian minuman kopi, memang haru rutin mencoba. Saya bahkan sering gagal dalam membuat berbagai varian, namun dikarenakan terus belajar, maka saya bisa mendapatkan varian saya sendiri, yang Alhamdulillah kena di hati pelanggan,” cerita Lingga.

Inovasi itu, sambung Lingga, sangat penting. Di tengah persaingan kedai kopi yang makin sengit, dibutuhkan inovasi baru untuk menghasilkan kopi dengan varian yang unik dan tidak umum.

Umumnya, para pelaku usaha hanya menjual varian rasa Cappuccino, Black Coffee, Espresso, dan Coffee Latte dengan rasa yang standar. Jika ingin dikenal pasar dan digemari, Lingga menyadari satu-satunya langkah yang harus dilakukan adalah menciptakan sesuatu yang berbeda.

Berbagai varian rasa itu merupakan hasil inovasi dan kreasi Lingga, ditambah dengan bekal pengalaman sebelumnya. Produk kopi milik Lingga itu dibanderol dengan harga yang bervariatif. Mulai dari Rp15–Rp50.000 per cangkir.

Bahkan dalam 1 bulan, Lingga mengaku mendapatkan penghasilan bersih dari penjualan kopinya sekitar Rp4–5 juta. “Selama ini saya biasanya mengambil bahan dari Aceh, Jawa Barat dan Bali. Karena ketiga daerah tersebut memiliki kualitas kopi yang baik,” ujar Lingga yang baru 1 tahun ini menginisiasi Kedai Han tersebut.

Sementara itu, Hidayatullah (27) seorang karyawan swasta yang gemar minum kopi mengaku, awalnya dirinya tidak menyukai minuman kopi. Namun sejak tiga tahun terakhir ini, dirinya bahkan kerap nongkrong dari coffee shop ke coffee shop yang ada di Kota Bengkulu. Menurutnya ngopi alias minum kopi sudah menjadi salah satu rutinitasnya apabila berkumpul bersama dengan teman-teman.

“Awalnya hanya ikut-ikutan teman saja, padahal saya mah nggak tau soal kopi. Namun belakangan ini saya bahkan merasa menjadi coffee addicted, bahkan selalu nongkrong dan mencoba semua varian minuman kopi yang ada di berbagai coffee shop di Kota Bengkulu,” jelasnya.

Menurut Hidayat, saat ini kopi sudah menjadi gaya hidup anak muda di berbagai daerah. Banyaknya coffee shop dengan desain kekinian, ditambah lagi beberapa film yang kerap menayangkan scene di warung kopi, memberi pengaruh terhadap hobi ngopi para kawula muda.

“Intinya kopi itu asik. Ibarat hidup, selalu ada manis dan pahitnya. Tinggal bagaimana cara kita menikmatinya,” pungkas Hidayat. (arie saputra wijaya/jpg)(radartegal.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here