Film The Girl on the Train ‘lebih buruk’ daripada novelnya

36
BERBAGI

BHARATANEWS.ID l FILM – Emily Blunt membintangi sebuah film yang diadaptasi dari novel misteri laris, The Girl on the Train, yang ditulis oleh pengarang Paula Hawkins. Namun, film tersebut gagal mengambil kecepatan alur cerita.

Novel ini terjual 15 juta eksemplar di seluruh dunia, sebagian besar karena konsep ceritanya yang (mudah) diterima pembaca.

Tokoh utamanya, Rachel, adalah perempuan yang sudah bercerai, tidak bahagia, dan peminum.

Dia selalu memandangi rumah yang sama dua kali per hari, waktu dia pulang-pergi naik kereta dari tempat tinggalnya di pinggiran kota ke London.

Dia suka membayangkan pria dan wanita yang dia lihat di rumah tersebut sebagai pasangan yang memiliki pernikahan ideal, sama seperti pernikahannya dulu waktu tinggal bertetanggaan di dekat rumah tersebut, sebelum ketidakmampuannya untuk hamil menjauhkannya dari suaminya tapi dia malah mendekati minuman keras.

Namun, imajinasinya tentang pasangan yang terlihat ideal tersebut hancur sewaktu dia melihat wanita tersebut, Megan, mencium pria lain.

Keesokan harinya Megan menghilang, dan Rachel takut jika dia terlibat dalam peristiwa tersebut. Masalahnya adalah Rachel sangat mabuk pada malam saat Megan menghilang.

Rachel tidak ingat apa-apa yang dia lakukan, atau bagaimana tahu-tahu tubuhnya luka-luka dan memar.

Ide ceritanya mirip seperti film mencekam, Rear Window, yang digarap oleh Alfred Hitchcock, tapi yang mengherankan betapa sedikit hal yang diceritakan di dalam novel The Girl on the Train tersebut.

Rachel tidak melakukan banyak pekerjaan (seperti) detektif, melainkan dia hanya bersedih dan membuang-buang waktu saja di sepanjang 300 halaman novel sampai ingatannya pulih, dan setelah itu dia bermuram lagi di sepanjang ratusan halaman novel.

Yang lebih parah lagi adalah bagi Rachel tidak ada untungnya, mengingat dia sudah berada di kondisi buruk, juga dia tidak dalam bahaya hingga suatu saat dengan bodohnya, dia memposisikan dirinya dalam keadaan membahayakan, karena tanpa begitu cerita novel ini tidak akan ada klimaksnya.

Jika hal tersebut dirasa kurang cukup menjengkelkan, Rachel bukan lagi seorang remaja perempuan, dia adalah wanita berusia 30-an.

Juga, kadang-kadang kebiasaan dia bepergian dengan naik kereta kurang relevan dengan ceritanya.

Image copyright Reuters
Image caption Emily Blunt pada acara peluncuran film perdana, The Girl on the Train, di London pada 20 September 2016.

“The Woman with no Brain” atau “Wanita yang tak Mempunyai Otak” mungkin judul yang lebih tepat.

Namun, kekurangan dari novel tersebut tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan versi filmnya.

Sutradara film asal Amerika Serikat, David Fincher, bersusah payah membuat dua film adaptasi novel yang sama-sama memiliki judul “Girl” yaitu The Girl with the Dragon Tattoo dan Gone Girl, karena terlalu banyak cerita di dalam novel-novel tersebut untuk dimasukkan ke dalam film (yang hanya) berdurasi dua jam.

Di sisi lain, The Girl on the Train, (isi filmnya) sangat kosong sehingga banyak ruang bagi pembuat film untuk mengisinya dengan detail-detail menarik.

Tapi, sayang tidak dilakukannya.

Film tersebut disutradarai oleh Tate Taylor (sutradara film The Help) dan ditulis oleh Erin Cressida Wilson (film Secretary), sebuah film adaptasi dari cerita novel karangan Hawkins yang membosankan dan memuat cerita yang dipotong-potong, membuat film tersebut malah lebih buruk lagi.

Jika Anda sudah membaca novelnya, Anda akan merasa jengkel dengan perubahan-perubahan yang ada di film, dan jika Anda belum pernah membacanya maka Anda akan bertanya-tanya bagaimana bisa novel tersebut bisa menjadi salah satu buku yang laku keras.

Beberapa perubahan yang ada di dalam film jelas-jelas karena alasan komersial.

Contohnya, di dalam buku tertulis berlokasi di daerah pinggiran London, sedangkan di film adalah di New York. Di dalam film, rumah-rumahnya lebih besar (daripada yang tertulis di buku) dan bisa membuat penonton lebih iri.

Tokoh utamanya yang berulang kali di dalam buku digambarkan sebagai perempuan yang mempunyai kelebihan berat badan dan tidak menarik, dimainkan oleh artis Emily Blunt yang jauh dari deskripsi yang ada di dalam buku.

Meskipun dia didandani dengan eyeliner berlepotan untuk mencitrakan dirinya sebagai orang yang kecanduan minum gin.

Beberapa perubahan lainnya cukup aneh.

Contohnya, kenapa psikolog Megan (diperankan oleh Edgar Ramirez) mempunyai nama khas orang Balkan sama seperti tokohnya di dalam novel, tapi aktor film tersebut berwajah Hispanik?

Dan kenapa Rachel diubah menjadi seorang seniman sukses saat lukisan-lukisannya tak ada sangkut pautnya dengan cerita? Serta ada perubahan-perubahan lainnya yang tidak hanya aneh, tapi juga bertentangan.

Image copyright PA
Image caption Dari kiri ke kanan: Paula Hawkins (pengarang novel), Tate Taylor (sutradara), Emily Blunt (tokoh wanita utama), Luke Evans, Rebecca Ferguson, dan Haley Bennett.

Dari awal film, aturan ‘biarkan penonton menerka-nerka’ diabaikan beberapa kali per menit.

Sewaktu Rachel muncul pertama kali, lewat monolog dia menjelaskan siapa dirinya dan bagaimana perasaannya dengan suara berat membosankan.

Lalu waktu dia melihat Megan (Hayley Bennett) berciuman dengan seseorang yang bukan suaminya, si pembuat film seakan-akan tidak mempercayai akting Blunt untuk menyampaikan reaksinya, jadi mereka membuatnya berkata, “Siapa pria itu? Apa yang Megan lakukan?”

Dan bukan hanya Rachel saja yang bermonolog.

Memang sebagian besar novel tersebut diceritakan oleh dia (lewat monolog), tapi durasi film tersebut juga dibagi-bagikan merata antara Rachel, Megan, dan Anna (Rebecca Ferguson) yang menikahi mantan suami Rachel, Tom (Justin Theroux), dan mereka tetap terus mengisahkan apa yang ada di dalam pikiran mereka.

Kalau tidak bermonolog, mereka berbicara dengan bayi-bayi mereka, dengan psikolog mereka, atau berbicara dengan detektif (Allison Janney) yang menginvestigasi kasus hilangnya Megan tanpa benar-benar melakukan suatu tindakan nyata.

Momen-momen yang seharusnya menjadi saat-saat menentukan yang dramatis, seperti ketika Rachel memberanikan diri untuk menghubungi suami Megan yang kekar (diperankan Luke Evans), momen dramatis tersebut tak muncul.

Kelihatannya para pembuat film itu sangat menginginkan mempertontonkan kembali ketiga wanita (Rachel, Megan, Anna) yang curhat tentang kehidupan dan kenangan-kenangan mereka sambil berlinangan air mata.

Image copyright PA
Image caption Luke Evans memerankan suami Megan dalam film The Girl on the Train.

Menonton film The Girl on the Train seperti tidak menonton film misteri yang menarik, malahan seperti mendengarkan drama radio sambil melihat foto-foto orang-orang yang menyedihkan.

Potongan-potongan cerita tak berujung antara narator-narator yang berbeda dengan perspektif berbeda pula, juga berarti bahwa ‘kereta’ bukannya berjalan cepat, tapi ‘kereta khusus’ yang satu ini hanya berjalan bolak-balik di rel yang panjangnya sama dan ‘berhenti’ di tiap-tiap stasiun selama perjalanan.

Ada kenangan-kenangan yang muncul dan terus-menerus ceritanya seperti itu, tapi penonton tak merasa diantarkan mendekati tujuan akhir filmnya, yaitu mencari tahu apa yang terjadi dengan Megan.

Yang menjengkelkan adalah jika Anda menonton The Girl on the Train dengan cukup terpaksa (hingga selesai), Anda bisa menerka-nerka apa yang ingin penulis dan sutradara coba sampaikan.

Ketimbang bertujuan menghibur penonton, mereka mencoba mencari persamaan yang ada di antara ketiga tokoh wanita tersebut, yang masing-masing berada di dalam lingkaran pelecehan dan penyangkalan hidup.

Tujuan penulis dan sutradara sangat ‘mulia’, mungkin, tapi novel Hawkin yang tak bermutu ini lebih cocok disandingkan dengan film misteri erotis 1990-an.