Dukungan untuk Festival Tahunan Seni Budaya Kabupaten Bandung Barat Masih Kurang

57
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BUDAYA NGAMPRAH, (PR).- Pemerintah Kabupaten Bandung Barat belum sepenuhnya mendukung festival tahunan seni dan budaya setempat. Hal ini berdasarkan tidak adanya festival budaya yang dijadikan agenda tahunan oleh Pemkab.

Padahal di KBB, beberapa festival budaya rutin digelar setiap tahun oleh komunitas budaya dan warga setempat. Di antaranya, perang tomat di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang Lembang, festival Tangkubanparahu di Cikole, Lembang, dan festival agrowisata di Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KBB Rakhmat Syafei didampingi Kasi Promosi Pariwisata Ukas Maolana mengakui, Pemkab belum menetapkan beberapa festival tersebut menjadi agenda tahunan. Soalnya, harus dilakukan berbagai kajian termasuk dilaporkan ke Kementerian Pariwisata.

“Sejauh ini, beberapa festival itu memang rutin digelar setiap tahun. Namun, penyelenggaranya bukan Pemda, tetapi warga dan komunitas budaya,” ujarnya di Ngamprah, Senin (24/10/2016).

Meski demikian, Rakhmat menuturkan, Pemkab tetap mendukung penyelenggaraan beberapa festival tersebut dengan bantuan stimulan. Hanya, tidak dipromosikan secara resmi oleh pemerintah daerah.

Rakhmat tak menampik jika beberapa festival tersebut berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat seiring dengan banyaknya pengunjung. Bahkan, juga lebih memopulerkan pelestarian seni dan budaya di KBB.

“Jika sudah menjadi agenda tahunan Pemda, bukan hanya seni dan budayanya yang diangkat, tetapi potensi daerahnya juga bisa ditampilkan pada festival tersebut,” ujar Rakhmat.

Dia juga tak memungkiri, sejumlah daerah di KBB memiliki kegiatan seni dan budaya yang digelar rutin setiap tahun, seperti hajat lembur, ngaruwat cai, dll. Meski tidak semuanya mendapatkan bantuan dana, Pemkab tetap memberi dukungan, di antaranya dengan mengirimkan perwakilan untuk menghadiri kegiatan tersebut.

Mas Nanu Muda, budayawan Sunda yang juga penggagas Perang Tomat di Lembang membenarkan dukungan Pemkab belum optimal. Padahal, menurut dia, seharusnya Dinas Pariwisata menjadi garda terdepan dalam mempromosikan seni dan budaya daerah.

Festival agrowisata di Desa Cihideung misalnya, tahun ini tidak jadi digelar akibat terpangkasnya dana bantuan dari Pemkab. “Padahal ini sudah menjadi agenda tahunan dan banyak pengunjung yang datang dari berbagai daerah,” ujarnya.

Dengan anggaran yang diberikan setengahnya itu, lanjut dia, masyarakat Desa Cihideung hanya menggelar kegiatan ruwat lembur bertajuk “Nyalametkeun Solokan”. Sementara agenda utama yang mempromosikan wisata bunga Cihideung ditiadakan.

“Padahal sebenarnya, justru agrowisata itulah yang perlu dipromosikan kepada masyarakat luas agar wisata bunga di Cihideung tetap hidup dan terus berkembang,” ujarnya. (PIKIRAN RAKYAT.COM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here