“Catatan Dodol Calon Dokter”, dokter juga manusia

64
0
BHARATANEWS.ID l FILM- Tiga sahabat mahasiswa kedokteran Riva (Adipati Dolken), Evie (Tika Bravani) dan Budi (Ali Mensan) di ambang meraih gelar dokter, dengan pijakan terakhir yakni menjalani program pendidikan calon dokter alias ko-asistensi (ko-ass) di sebuah rumah sakit.
Di bawah pengawasan Profesor Burhan Nasution (Adi Kurdi), ketiga sahabat itu tergabung dalam angkatan ko-ass bersama beberapa calon dokter lainnya, yakni Kresno (Rizky Mocik), Hany (Albert Halim), Uba (Cindy Valery), Cilmil (Rizka Dwi Septiana) dan Kalay (Amec Rais).
Selepas berbagai kekacauan yang dilewati bersama, hubungan Riva dan dua sahabatnya merenggang. Pertama lantaran calon dokter yang disebut berwatak cuek itu sebetulnya menyimpan cemburu kepada Evie, yang diperburuk dengan datangnya peserta ko-ass baru Vena (Aurelie Mooremans) yang tak sungkan-sungkan menunjukkan ketertarikannya kepada Riva.
Ketertarikan Vena pada Riva pula yang membuat Budi menjauh lantaran merasa dilangkahi oleh sahabatnya sendiri. Rumitnya kehidupan pribadi mereka sebagai manusia tak lantas mengabaikan kerepotan masa ko-ass, jika tidak mau disebut makin memburuk.
Bisakah para calon dokter itu melewati masa ko-ass dengan selamat tanpa kurang satu apapun? Dan siapa yang akhirnya dipilih Riva antara Evie dan Vena? Temukan jawabannya dalam “Catatan Dodol Calon Dokter” (CaDo-CaDo) yang tayang di bioskop mulai 27 Oktober 2016.
80 persen drama, 20 persen komedi
Film garapan rumah produksi Radikal Films bersama CJ Entertainment yang diangkat dari seri novel populer berjudul serupa karya Ferdiriva Hamzah itu disebut bergenre drama komedi.
Namun, jika anda mengharapkan porsi tawa yang lebih banyak sepanjang menyaksikan film ini, bersiap-siaplah kecewa, karena porsi komedi dari film berdurasi 104 menit ini hanya sekira 20 persen saja. Itu pun di awal-awal cerita, sisanya lebih berupa konflik antara Riva dengan Evie, Riva-Evie-Vena, Riva-Vena dan Riva dengan ketetapannya menjalani profesi sebagai dokter.
Sesekali memang muncul upaya memancing tawa lewat dialog dan celetukan para calon dokter yang berusaha disemati karakter-karakter lucu, namun tak banyak yang bisa dibilang berhasil.
Boleh jadi, hal itu memang tujuan para pembuat film mengingat menurut Eksekutif Produser Radikal Films, Ardiansyah Solaiman, pola yang menurutnya ¬†menjadi ciri khas tiap bab novel “CaDo-CaDo” (2008).
“Bukunya menarik. Kalau anda baca, setiap chapter dimulai dengan adegan medis penuh kebodohan dan kekonyolan, namun di akhir nanti ada pesan moral yang muncul,” kata Ardiansyah yang juga berperan sebagai Penulis Naskah film tersebut bersama Chadijah Siregar saat ditemui dalam gala premiere film itu di Grand Indonesia, Jakarta, Senin (24/10).
Maka, sekali lagi, versi film “CaDo-CaDo” lebih condong ke drama ketimbang komedi.
Di sisi lain, bagi anda yang tak terbiasa melihat adegan-adegan medis yang lebih dari sekadar stetoskop dan jarum suntik, “CaDo-CaDo” menyajikan intipan sedikit bagaimana ketegangan di ruang operasi, yang memang diamanatkan Riva si penulis novel agar berkesesuaian secara medis.
Sayangnya, tak banyak adegan yang melekat di kepala anda selepas menyaksikan “CaDo-CaDo” dan meninggalkan gedung bioskop, kecuali anda mengalami trauma dengan adegan-adegan medis yang disematkan.
Satu-satunya adegan puncak yang cukup menghibur dan hampir pasti sukses mengundang tawa adalah adegan ketika trio Riva, Evie dan Budi menerima hukuman tambahan dari Profesor Burhan. Sisanya, cukup mudah dilupakan.
Hal itu tidak lepas dari dangkalnya pengenalan masing-masing tokoh, yang tak bisa diakali di tengah terbatasnya durasi. Durasi pula yang membuat kerunutan cerita dan plot menjadi terlalu cepat tanpa ketukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here