Anak Muda Meraup Omzet Ratusan Juta dari Kuliner Unik

69
0

BHARATANEWS.ID | UNIK – Lantunan musik pop terdengar di seluruh penjuru ruangan.

Dari pintu masuk hingga setiap sudut, ruangan ini dipenuhi oleh pajangan dan lukisan warna-warni.

Lukisan kartun penguin, karya grafis pop-art, boneka-boneka, lukisan pelangi, hingga coretan doodle menghiasi setiap sisi.

‘Anak muda banget’, barangkali itulah yang terlintas ketika pertama kali memasuki ruangan ini.

Ini bukan sembarang ruangan. Ini adalah salah satu rumah makan unik di Jalan Bengawan Bandung yang dinamai Pepo Appetite.

Bukan hanya musik pop dan desain ruangan yang ceria, tetapi menu yang ditawarkan di Pepo pun bisa dibilang unik dan segar.

Cemilan-cemilan seperti marshmallow, es krim, pocky, smoothies buah, seolah menjadi bahan-bahan utama dalam setiap menu yang tersedia.

Berdiri pada 2014 di Dipati Ukur Bandung, Pepo menjadi satu usaha kuliner unik di Bandung yang diburu para pecinta kuliner.

Setelah pindah ke Jalan Bengawan, rumah makan unik ini kini telah menghasilkan omset Rp150 juta per bulan.

Kepada Tribun Jabar, salah satu pendiri Pepo, Novia Rahmadani (25) bercerita bagaimana ia dan sahabat-sahabatnya merintisusaha kuliner tersebut.

“Awalnya kita jualan hanya konsentrasi sama dessert. Dessert itu, orang identiknya dengan es. Padahal banyak juga desert hangat, tapi orang akan langsung, dessert itu es. Gitu. Jadi kita langsung berpikir apa ya yang nyambung sama es. Tadinya mau polar bear tapi kayaknya udah banyak deh yang ambil polar. Jadi deh penguin. Penguin pop (Pepo),” cerita gadis yang akrab dipanggil Opi itu.

Opi mendirikan Pepo bersama sang kakak Melinda (32) dan dua sahabatnya, Harry Azhadin (26) dan Hasan Fikrie (27).

Pada awalnya, Pepo ini digagas oleh Opi dan Melinda yang berniat mendirikan usaha kuliner.

Opi menggaet Harry dan Hasan karena sama-sama memiliki ketertarikan di bidang kuliner.

Mereka pun telah berkawan cukup lama, yakni 10 tahun, sehingga sudah tidak perlu lagi saling mencocokkan diri dalam menjalankan bisnis mereka.

“Di pikiran aku yang sulit itu ngumpulin orang jadi partner kita berbisnis itu kan nggak bisa asal orang. Tapi ternyata itu mudah, karena ketika kita nemuin satu orang dan cocok, terus temenan juga udah lebih dari 10 tahun, udah kayak kakak-adek, ternyata gampang. Nah setelah dari situ nentuin konsep, itu susah banget. Nentuin menu apa aja yang mau kita concern, itu juga susah banget. Selama enam bulan awal itu kayak cukup menyiksa gitu,” kata Opi sambil tertawa.

Meskipun sama-sama memiliki ketertarikan pada bidang bisnis, Opi dan dua sahabatnya memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda.

Opi kuliah di jurusan Fotografi dan Film Universitas Pasundan (Unpas), memiliki pengalaman berteater sejak SMA, dan kerap menjadi event organizer dan wedding organizer.

Sementara itu, Harry adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang juga aktif berteater, dan Hasan calon pengacara sekaligus seorang penari (dancer).

Perbedaan latar belakang ini kadang menyulitkan mereka untuk membagi waktu dalam menjalani bisnis Pepo ini.

Meskipun demikian, Opi mengaku, komitmen adalah kunci agar bisnis mereka tetap berkembang meski masing-masing memiliki kesibukan lain di luar bisnis.

“Dari awal kita udah bikin komitmen kalau kita adakan empat orang di sini supaya jadi pilar. Ketika ada yang nggak bisa, yang lain bisa back up, intinya ke situ,” ujar Opi bersemangat.

(bangka.tribunnews.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here