Menteri Rini Sentil KAI Jangan Cuma Andalkan Tiket

72
0

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno meminta PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero mengoptimalkan aset-aset yang selama ini banyak menganggur dan terbengkalai. Langkah ini harus secepatnya dilakukan untuk pengembangan bisnis perusahaan ke depan.

Rini menyebut, saat ini bisnis yang dijalankan PT KAI hanya fokus mencari keuntungan dari pen­jualan tiket kereta saja. Padahal banyak peluang yang bisa digarap untuk mengembangkan bisnis dari sisi lainnya, termasuk pemanfaa­tan aset yang terbengkalai.

“KAI banyak aset yang didi­amkan, mungkin mereka lupa. Padahal kalau dioptimalkan, akan sangat bermanfaat untuk bisnis KAI. Makanya saya dorong untuk mengoptimalisasi asetnya,” sentil Rini.

Dipaparkannya, saat ini aset KAI juga banyak yang menyusut, khususnya jalur kereta api. Ia menjelaskan, jalur kereta api di Indonesia memiliki panjang sekitar 7 ribu kilometer ketika di­ambil dari perusahaan Belanda.

“Namun saat ini menyusut men­jadi lima ribu. Seharusnya, ke de­pan bisa jadi 10 ribu dan KAI bisa memodernisasi perkeretaapian kita dengan terjun menjadi opera­tor kereta listrik dan kereta cepat. Jalur-jalur yang tidak terpakai di hidupkan lagi, jalur yang sudah terlalu padat juga harus dibuatkan alternatif baru,” kata Rini.

Menurut Rini, upaya mengop­timalisasikan jalur kereta api dengan mengaktifkan kembali jalur yang mati. Satu di antaranya jalur Bandung-Ciwidey yang diharap­kan bisa aktif kembali pada akhir tahun nanti. “Reaktifasi ini menjadi lebih mudah dan cepat kita dapat jalur kereta api yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Rini.

Ia juga menugaskan PT KAI agar bisa mencari keuntun­gan dari pengembangan aset miliknya. Dengan begitu, kata Rini, KAI bisa segera melaku­kan modernisasi tanpa mengan­dalkan dari penjualan tiket.

“Jangan hanya mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket saja. KAI kan bisa mengem­bangkan potensi pengangkutan barang, dalam arti gerbong ba­rang ditambah sehingga pemasu­kan bertambah,” kata Rini.

Vice President Public Rela­tions PT KAI Agus Komarudin mengatakan, saat ini KAI terus melakukan pembenahan aset yang belum teroptimalkan dengan baik.

“Memang ada beberapa aset kita yang belum dioptimalkan dan sedang kita dorong untuk dimanfaatkan, jumlah aset yang kita miliki saat ini sekitar 270 juta meter persegi, ada yang berupa tanah dan tanah beserta bangu­nan, namun bukan berarti harus optimalkan seluruhnya,” kata Agus kepada Rakyat Merdeka.

Ia menjelaskan, sebagian besar dimanfaatkan oleh KAI karena bentukanya berupa aset yang ditempati, seperti perkantoran maupun perumahan pegawai dan non pegawai. Ada juga aset berupa jalur kereta api, namun ada sebagian yang kini dikuasi oleh masyarakat.

Ia melanjutkan, untuk jalur-jalur yang sempat mati, juga sudah mulai di hidupkan oleh PT KAI, seperti jalur Bogor-Sukabumi.

“Ada juga jalur Rancaekek-Tanjungsari sepanjang 11,5 kilometer yang kembali dihidup­kan. Kedepan akan kita buka kembali, namun harus koordi­nasi dulu dengan Kemenhup, karena otoritasnya disana. Kita juga terus tingkatkan pelayanan, salah-satunya dengan penerapan sistem check-in untuk penumpang. Sistem ini bisa mengatasi peredaran diduga tiket palsu atau tiket asli tapi palsu,” ujarnya.

Pengamat transportasi dari Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Azas Tigor Nainggolan mengatakan, KAI harusnya bisa memanfaatkan aset-aset ngang­gur agar tidak hanya mengan­dalkan penjualan tiket untuk kelangsungan bisnis kereta api.

“Banyak jalur mati yang pa­dahal kalau dihidupkan saat menguntungkan. Dulu rute Bogor-Su­kabumi mati, padahal peminatnya bagus, begitu juga Rangkas Bi­tung, Banten, Bandung-Ciwidey, Bandung-Garut, selain mengun­tungkan KAI juga berperan mengurangi kemacetan,” kata Azaz kepada Rakyat Merdeka.

Iapun meminta Kementerian BUMN melakukan audit terkait aset-aset KAI yang masih ter­bengkalai. Jangan sampai aset ini justru hilang dan akhirnya malah merugikan negara.

“Di daerah Jawa itu banyak rel yang tertimbun, aset KAI itu su­dah banyak yang berubah fungsi. Kalau tidak segera di audit dan dibenahi, aset KAI bisa makin habis. Padahal, saat ini untuk buka jalur baru, butuh modal besar, kenapa jalur yang sudah ada tidak dirawat dan malah ter­bengkalai, manajemennya harus dibenahi ini.(RMOL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here