Pengaruh Besar Generasi Screenager

49
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | TEKNOLOGI – GENERASI baru yang disebut screenager ternyata memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan teknologi saat ini.

Sebagai konsumen, mereka lah yang menjadi penentu perkembangan teknologi saat ini.”Screenager adalah mereka yang memiliki lebih dari satu device, punya keingintahuan terhadap perkem – bangan dunia digital, dan tidak terikat oleh satu penyedia layanan saja,” tegas Mohammed Sirajudeen, Managing Director, Digital, Accenture ASEAN.

Penggunaan kata “screen”, menurut Mohammed, mengacu pada habit yang gemar memandangi layar serta melakukan multitasking. Istilah screenagerdibuat oleh Accenture dalam penelitiannya mengenai Digital Consumer Survey 2016 yang menyoroti kalangan yang memiliki adopsiteknologi yangma tang tanpa mengenal batas anusia.

Penelitian ini dilakukan di 28 negara dan 1.000 orang responden di Indonesia. Screenager ini lahir seiring perangkat mobile dengan beragam fungsi dan kontektivitas menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan. ”Screenager memiliki karakteristik berbeda.

Mereka lahir karena adopsi teknologi terbilang sudah sangat matang dan pesat. Oleh sebab itu ada beberapa tren yang harus disikapi oleh pelaku industri di bidang IT,” imbuh Mohammed. Dari 1.000 orang yang diwawan – carai, terlihat ada sejumlah tren utama yang harus diwaspadai untuk mendekati kalangan screenager.

Hal pertama adalah munculnya permintaan akan konten dan layanan yang beragam karena jumlah pengguna dan perangkat yang terus bertambah serta beragam jenisnya. Managing Director, Communications, Media, and Technology Lead, Accenture Indonesia Wong Tjin menilai, momentum ini harus dimanfaatkan oleh penyedia konten dan layanan dalam menghadirkan experience yang lebih kaya.

”Disini yang diuntungkan adalah para pelaku bisnis terkait konten dan layanan digital. Mereka dapat meng hadirkan eksperiens yang tidak ha nya hadir dalam satu jenis perangkat saja. Namun menghadirkan pengalaman yang berbeda-beda dari tiap perangkat,” tandasnya. Kedua, adalah kehadiran IoT (Internet of Things) yang dianggap sebagai masa depan dari teknologi ternyata justru masih sulit diterima sepenuhnya oleh konsumen atau screenager.

“IoT menggambarkan masa depan, tapi masalahnya industri IT dengan begitu cepat dan tanpa jeda waktu yang cukup terus menerus menghadirkan perangkat IoT sementara para konsumen atau pengguna belum jelas value propositions yang ditawarkan,” tandas Mohammed. Bagi beberapa konsumen ternyata IoT juga tidak semudah pengoperasiannya.

Layanan yang dihadirkan juga belum jelas alias ekosistem layanannya belum lengkap. Ketiga, para screenagerternyata paham benar bahwa dengan memiliki perangkat lebih dari satu, mereka rawan serangan dari pelaku siber kriminal, misalnya pencurian data, mengingat setiap perangkat yang terhubung pasti menyimpan data yang sama. Di Indonesia, 54% dari Screenager sadar akan bahaya tersebut.

Selanjutnya sebagai generasi dengan tingkat adopsi teknologi yang cukup matang membuat para Screenager lebih selektif dalam membeli atau menggunakan perangkat dan layanan terbaru. Oleh sebab itu perangkat teknologi setiap harus dirilis namun transaksinya akan terlihat melambat, karena konsumen lebih selektif.

Dalam penelitian Accenture terhadap Screenager ditunjukan bahwa belanja atau adopsi perangkat teknologi terbaru di Indonesia menurun menjadi 39% dari tahun 2014 sebesar 55%. Hanya 16% saja yang berniat membeli perangkat terbaru namun dengan budget 10% lebih sedikit dari pada sebelumnya.

“Konsumen khususnya kalangan Screenager lebih memilih tidak akan membeli perangkat terbaru jika tidak ada perbedaan signifikan dari perangkat sebelumnya. Performa layanan dari perangkat tersbeut juga jadi pertimbangan, jika services yang mendukung perangkat tersebut masih belum siap dan matang mereka akan menunda untuk membelinya,” beber Wong Tjin Tak.

Meski Screenager memang diakui lebih selektif dalam mengadopsi perkembangan teknologi rupanya masih setia dan fanatik akan sebuah brand. “Menjaga lotalitas itu me – mang gampang-gampang susah, dalam hal brand engagement kita harus menjangkau setiap channel yang ada dan di akses konsumen. Apabila salah satu channel tidak kita isi maka konsumen akan merasa ragu dengan brand kita,” tutur Wong Tjin Tak.  (koran-sindo.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here