Warga Cimahi Ancam Serbu PT. KAI, Inilah Penyebabnya…

95
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BANDUNG – Ribuan warga Cimahi menandatangani petisi penolakan langkah PT. KAI yang melakukan penutupan lintasan Kereta Api (KA) liar yang menghubungkan RW 5 dan RW 8 di Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi. Warga menilai, penutupan tersebut merugikan banyak orang.

Tandatangan dibubuhkan dalam spanduk berukuran 2 x 8 meter yang dipasang tepat di jalan pelintasan KA. Dalam petisinya, warga meminta jalan tersebut kembali dibuka untuk umum

Rencananya, hasil dari tandatangan petisi tersebut akan langsung dikirimkan ke Pemkot Cimahi dan PT. KAI.

Salah seorang inisiator petisi, Edih (54), warga Jalan Contong Kelurahan Padasuka mengaku, pengumpulan ribuan tanda tangan merupakan suara rakyat yang merasa dirugikan.

“Tuntutan kita, pintu lintasan kereta dibuka lagi, jika Pemkot Cimahi tidak merespon, kita akan langsung menuntut pada pihak PT. KAI, ” ujar Edih saat ditemui di Jalan Cisangkan Hilir Kelurahan Padasuka Kota Cimahi, Jumat (19/8/2016).

Dia menilai, sikap PT. KAI yang sudah sepekan menutup permanen perlintasan kereta tidak resmi ini merupakan bentuk arogan karena tanpa sosialisasi terlebih dulu

Meski sudah ditutup permanen dengan beton, warga menuntut pembatas jalan dibongkar lagi. “Anak sekolah, warga yang pergi kerja banyak yang kesiangan karena jalan alternatifnya diputus, banyak juga PKL yang gulung tikar,” bebernya.

Menurut dia, PT. KAI seharusnya tidak langsung menutup jalan perlintasan kereta tersebut. Tapi dengan membangun palang pintu resmi yang lebih aman dan dijaga langsung oleh petugas resmi dari PT. KAI

Saat ini, Pemkot Cimahi sedang membangun fly over Padasuka yang menurut kabar akan rampung pada akhir tahun ini. Namun begitu, tetap saja warga menuntut jalan alternatif itu segera dibuka lagi.

“Jalan alternatif ini sudah ada sejak jaman dulu, waktu dulu jarang sekali ada warga yang tertabrak kereta. Jika nanti masih tidak direspon, kita siap berdemo dengan jumlah massa yang lebih banyak,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Manager Humas PT KAI Daop 2 Bandung Franoto Wibowo mengatakan, penutupan perlintasan kereta api liar dilakukan karena membahayakan kereta api dan warga.

Selain itu, tindakan tersebut sesuai dengan Undang-undang Nomor 23/2007 tentang Perkeretaapian

Ia menilai, seharusnya masyarakat mengerti maksud tindakan PT. KAI yang menutup akses perlintasan liar.

“Pola pikir masyarakat harusnya lebih mengutamakan faktor keselamatan dibandingkan dengan memilih jalan pintas menggunakan perlintasan liar,” terangnya

Ia menambahkan, jika akses kembali dibuka dan dijaga oleh warga, tidak ada jaminan tidak akan ada kecelakaan yang bisa menimbulkan korban.

“Kalau perlintasan resmi kan ada rambu-rambunya dan terkoneksi, jadi relatif lebih aman,” katanya.

Apabila masyarakat ingin dibuka perlintasan resmi, menurut dia, prose permohonannya dapat diajukan melalui pemerintah daerah ke pemerintah pusat, dalam hal ini Kementerian Perhubungan.

Jika disetujui, pemerintah dan PT. KAI akan membangun flyover atau underpass. “Yang jelas, perlintasan liar itu harus ditutup. UU menyatakan demikian,” pungkasnya.

(pojoksatu.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here