Peneliti Temukan Kelompok Makanan Diet Baru

71
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | KESEHATAN  -KELOMPOK makanan dasar, seperti gandum utuh, buah-buahan, dan produk susu telah menjadi pilihan diet selama beberapa abad. Namun, bisakah kelompok baru untuk diet ditambahkan?

Sebuah tim peneliti dari Federation of American Societies for Experimental mengungkapkan manfaat fisik dan mental dari keton, zat kimia alami yang diproduksi oleh tubuh ketika menghadapi situasi kelaparan karena kurang asupan makanan. Penemuan mereka dapat menuju pada penemuan kelompok makan baru unruk meningkatkan ketahanan tubuh dan ingatan.

Tubuh membutuhkan glukosa sebagai energi. Jika glukosa kurang, keton akan menggantikan peran glukosa. Mengetahui hal tersebut, peneliti memberi suplemen keton pada tikus. Mereka juga memberikan karbohidrat dan lemak pada tikus yang lain. Hasilnya, tikus yang diberikan keton memangkas 30% konsumsi kalori. Setelah lima hari, tikus yang diberi keton berlari lebih jauh sebanyak 32% dan 38% lebih cepat dibandingkan dengan yang tidak diberi asupan keton. Ketika ditempatkan dalam labirin, tikus dengan keton menyelesaikan labirin lebih cepat dibandingkan yang tidak memakan suplemen keton.

“Peningkatan dramatis dalam kemampuan olahraga dan fungsi kognitif pastinya akan membuat atlet dan tim olahraga profesional tertarik,” ujar penulis penelitian tersebut, Andrew J. Murray, seorang peneliti di departemen fisiologi, perkembangan dan neurosains Universitas Cambridge.

Makanan dengan kadar lemak tinggi akan membantu produksi keton, begitu pula dengan porsi sedang protein. Namun, tidak semua lemak sama, hal ini mengharuskan Anda untuk memilih makanan dengan baik. Kacang-kacangan, alpukat, telur, keju, daging tanpa lemak, ikan, dan daging unggas adalah pilihan yang tepat untuk menjadi sumber penghasil keton.

Penelitian sebelumnya juga membuktikan bahwa diet keton dapat bermanfaat untuk mengurangi berat badan pada penderita obesitas. Karbohidrat akan pecah menjadi glukosa, hal ini akan menjadi kunci dalam diet keton dan mengurangi karbohidrat untuk memacu produksi keton. Dalam jangka panjang, pasien obesitas dapat mengalami penurunan berat badan yang signifikan setelah 16 sampai 24 minggu melakukan pembatasan karbohidrat. Namun, para ahli memperingatkan para pelaku diet untuk tidak benar-benar mengandalkan karbohidrat. Penemuan baru mengenai manfaat kognitif dan fisik dari diet keton hanyalah bonus. Menurut penelitinya, penelitian lebih lanjut masih dilakukan untuk mengetahui potensi keton. (Adinda Alsya Denissa)***

(pikiran-rakyat.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here