Dibalik Rencana Kenaikan Harga Rokok, Ada Angin Segar Petani Tembakau

119
0
SHARE

BHARATANEWS.ID |  BANDUNG – Rencana pemerintah menaikan harga rokok menjadi Rp50 ribu perbungkus, diharapkan berdampak positif terhadap kesejahteraan petani tembakau.

Ketua DPC Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bandung Sambas mengatakan, rencana pemerintah tersebut merupakan angin segar bagi petani tembakau, dimana potensi peralihan dari rokok batangan ke rokok lintingan menjadi terbuka lebar

Jangan harga rokoknya saja yang naik, harga tembakau juga harus naik supaya petani untung. Mudah-mudahan juga banyak yang beralih ke rokok lintingan,” tutur Sambas, Jumat (19/8/2016).

Menurutnya, saat ini masih banyak penghisap rokok lintingan, baik tua maupun muda, terutama rokok lintingan low nikotin. Selain dari hasil penjualan tembakau, kata Sambas, ia juga berharap kenaikan harga jual rokok ini juga berpengaruh terhadap kenaikan Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) yang diterima oleh pemerintah, dan akhirnya berimbas kepada kesejahteraan para petani tembakau. Saat ini saja, kata dia, DBHCT untuk Jawa Barat 2016 adalah sebesar kurang lebih Rp 300 miliar, sedangkan untuk Kabupaten Bandung kurang lebih sebesar Rp 11 miliar. Sedangkan tahun sebelumnya, Kabupaten Bandung, hanya memperoleh DBHCT sekitar Rp 8 miliar.

Namun, besaran DBHCT untuk peningkatan produksi tembakau masih belum terlalu besar. Menurut sambas, sebagian besar DBHCT disalurkan untuk rumah sakit

Bahkan, beberapa dinas yang ditugaskan menyalurkan berbagai program dari dana DBHCT itu, beberapa waktu lalu, mereka enggan menyalurkan kegiatannya kepada petani. Alasannya, adalah tidak semua kelompok tani memiliki badan hukum seperti yang diwajibkan dalam UU No. 23 tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.

Sambas mengatakan, saat ini luas pertanian tembakau di Kabupaten Bandung kurang lebih seluas 1.200 hektare. Lahan pertanian tembakau ini, memang tidak diperbolehkan untuk diperluas. Lahan pertanian tembakau ini tersebar di 17 kecamatan, diantaranya adalah, Kecamatan Cilengkrang, Cimenyan, Cikancung, Nagreg, Pangalengan, Ciwidey, Rancabali dan lainnya

Sementara itu, Ketua DPR Ade Komarudin setuju dengan wacana kenaikan harga rokok yang rencananya akan naik hingga Rp 50.000 per bungkus.

Menurut Ade, wacana tersebut sekaligus dapat mengurangi kebiasaan masyarakat agar tidak lagi merokok. Rokok, kata Ade, merupakan musuh bangsa yang sudah disadari semua orang

Saya setuju dengan kenaikan harga rokok,” kata Ade di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (19/8/2016).

“Tentu kalau bisa makin hari dikurangi,” ujarnya

Di samping itu, lanjut Ade, pendapatan negara juga otomatis akan bertambah jika harga rokok dinaikkan. Kenaikan harga rokok juga akan membantu anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pada masa mendatang.

Pemerintah mengaku mendengarkan usulan kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus.

Oleh karena itu, pemerintah akan kaji penyesuaian tarif cukai rokok sebagai salah satu instrumen harga rokok.

“Cukai rokok belum kami diskusikan lagi, tetapi kami kan biasanya setiap tahun ada penyesuaian tarif cukainya,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (17/8/2016).

Selama ini, harga rokok di bawah Rp 20.000 dinilai menjadi penyebab tingginya jumlah perokok di Indonesia.

Hal tersebut membuat orang yang kurang mampu hingga anak-anak sekolah mudah membeli rokok.

(pojoksatu.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here