DPRD Minta Jangan Ada Lagi Penderita Gizi Buruk di Bogor

79
0
SHARE
illustrasi

BHARATANEWS.ID | Bogor – Ketua DPRD Kabupaten Bogor Ade Ruhandi (Jaro Ade) mengingatkan masyarakat tidak sungkan-sungkan untuk melaporkan persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Termasuk dalam hal pelayanan kesehatan yang menjadi hak setiap warga yang tinggal di Kabupaten Bogor.

“Jangan sampai terulang lagi, ada warga yang menderita gizi buruk dan tidak mendapatkan jaminan kesehatan. Sebab semua penduduk di Kabupaten Bogor memiliki hak sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang baik,” kata Jaro Ade usai melakukan kunjungan ke salah satu tokoh masyarakat di Puncak Cisarua, Kamis (18/8).

Menurut Jaro, selain mendorong masyarakat untuk sadar terhadap lingkungan sekitar, dirinya juga meminta supaya Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mengambil langkah cepat dalam menangani persoalan kesehatan yang di derita masyarakat.

Kasus ditemukannya penderita gizi buruk, Fatimah (10) di Jalan Gunungsari RT 3 RW 1 Kampung Tonggoh, Desa Gunungsari, Kecamatan Citeureup, harus menjadi refleksi agar jangkauan Dinas Kesehatan bisa lebih dioptimalkan.

“Puskesmas atau pos pembantu (postu) bisa menjadi garda terdepan dalam memantau kondisi kesehatan masyarakat. Jika ditemukan adanya gizi buruk, segeralah dilakukan langkah-langkah penanggulangan,” katanya.

Beberapa hari lalu, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan, Jaro Ade mendatangi kediaman Fatimah, seorang yatim piatu penderita gizi buruk akut yang tinggal bersama kakaknya dalam rumah yang tidak layak huni. Selain bocor, kondisi rumah pun sangat rapuh bahkan nyaris roboh.

Evakuasi Fatimah sangat dramatis. Sambil menahan sedih, Jaro Ade memeluk dan menggendong Fatimah. Setengah berlari, politisi Partai Golkar ini membawa fatimah ke kendaraan miliknya untuk langsung dibawa ke RSUD Cibinong.

“Hakekat kemerdekaan adalah merdeka dari penjajahan dan merdeka dari kemiskinan, tidak boleh masyarakat Indonesia menderita karena lemahnya sistem baik leadership maupun administrasi yang berbelit,” tegasnya.

Jaro tak henti-henti mengingatkan, di masa mendatang tidak boleh ada rumah sakit pemerintah daerah maupun swasta yang menolak pasien miskin di Bumi Tegar Beriman.

“Layani dan lakukan pertolongan pertama, masalah biaya atau administrasi lainnya bisa dibicarakan. Kan ada kepala desa, camat maupun unsur muspida yang bisa mencarikan jalan penyelesaiannya,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Camelia mengatakan, di Kabupaten Bogor ada empat kasus hidrocephalus di Desa Gunungsari, Kecamatan Citeureup. “Salah satunya Sifa dan dia pernah dibawa ke Karawang oleh neneknya,” ujar Camelia.

Menurutnya, awalnya Sifa telah ditangani bidan desa. Ia juga sudah mendapatkan perawatan sesuai Standar Opersional Prosedur (SOP) dalam penangan gizi buruk. “Waktu kami konfirmasi, bidan desanya tidak tahu kalau Sifa sudah dibawa lagi ke Bogor,” katanya.

Camel menambahkan, sebenarnya Sifa sudah pernah dirawat di rumah sakit, lantaran tidak memiliki biaya, ia langsung dibawa pulang lagi.

(inilahkoran.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here