Kurangi Kematian Ibu Hamil, Pemkab Bogor Lucurkan SijariBunda

78
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Meskipun dalam tiga tahun terakhir angka kematian ibu menurun, Kabupaten Bogor masih penyumbang tertinggi di Jawa Barat. Salah satu penyebabnya adalah karena masih banyak ibu hamil yang melahirkan tidak dipandu oleh tenaga kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Camalia Sumaryana menjelaskan, hampir 90 persen penyebab langsung kematian ibu terjadi pada saat persalinan dan segera setelah persalinan. Sementara itu, risiko kematian ibu juga makin tinggi akibat adanya faktor keterlambatan, yang menjadi penyebab tidak langsung kematian ibu.

“Ada tiga risiko keterlambatan, yaitu terlambat mengambil keputusan untuk dirujuk (termasuk terlambat mengenali tanda bahaya), terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat keadaan darurat, dan terlambat memperoleh pelayanan yang memadai oleh tenaga kesehatan,” tutur Camalia, Kamis (21/7).

Sebagai gambaran redahnya pemantau ibu hamil berbanding lurus dengan ketersediaan tenaga kesehatan, hingga kini Pemerintah Kabupaten Bogor hanya memiliki 224 bidan desa dari 416 desa yang ada. “Itu pun tidak semua bidan desa tinggal di desa. Bisa jadi dari tiga desa hanya tersedia satu bidan yang tinggal di salah satu desa. Kondisi Kabupaten Bogor yang berbukit dengan lereng terjal dan minimnya sarana angkutan dari pelosok menjadi penghalang lainnya,” Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Erwin Suriana.

Untuk itu, kata Erwin saat ini Pemkab Bogor tengah meluncurkan pendampingan ibu hamil dengan sistem daring SijariBunda. Seorang ibu hamil dapat dipantau oleh dinas kesehatan melalui penyuluh atau bidan terdekat.

“Sistem kerjanya si ibu atau kerabatnya cukup mendaftarkan melalui pesan singkat ke pusat pelayanan dinas di 08121234991. Setelah identitas si ibu dilengkapi atau terkam oleh dinas, maka akan dikirimkan seorang pendamping, baik bidan atau penyuluh bagi si ibu hamil,” katanya.

Sehingga, tambah Erwin, dinas juga dapat mengetahui secara berkala mulai dari kapan waktu ibu akan melahirkan, kesehatannya, hingga tingkat kemampuan keuangan keluarga. “Tidak sedikit kasus ibu melahirkan di saat-saat mendesak, keluarga baru mengurus kartu jaminan sosial. Kita mau hal seperti itu dihilangkan dengan pemantauan lebih awal,” tambahnya.

Vento Saudale/FMB

BeritaSatu.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here