Dirut RS Elisabeth Bekasi Teken Kesepakatan Soal Vaksin Palsu

122
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BEKASI – Direktur Rumah Sakit (RS) Elisabeth Kota Bekasi, Jawa Barat, Antonius Yudianto akhirnya menanda tangani tujuh poin kesepakatan dengan keluarga pasien terkait tanggung jawab penggunaan vaksin diduga palsu, Sabtu 16 Juli 2016 malam. Sebelumnya, pertemuan antara keluarga pasien dengan rumah sakit itu sempat diwarnai kericuhan.

Perwakilan orang tua pasien, yang mengaku berprofesi sebagai pengacara, sekira pukul 19.15 WIB terlihat bersikeras meminta Antonius mendatangani kesepakatan menyangkut tujuh hal terkait dugaan penggunaan virus palsu di RS Elisabeth Bekasi.

Kesepakatan itu ditandatangani Antonius di hadapan ratusan keluarga pasien, dan sempat dibacakan melalui pengeras suara, serta melibatkan saksi dari aparat keamanan bersama petugas kelurahan setempat.

“Sikap ini terpaksa kami lakukan karena sejak RS Elisabeth diumumkan masuk sebagai salah satu dari 14 rumah sakit pengguna vaksin diduga palsu oleh Kementerian Kesehatan pada Kamis (14/7), sampai hari ini tidak juga ada klarifikasi otentik dari manajemen,” kata salah seorang keluarga pasien, Ketut Daryatmo (37).

Sejumlah orang tua pasien sebelumnya sempat membanting meja yang digunakan Antonius bersama dua orang pengacaranya. Petugas keamanan RS Elizabeth langsung memindahkan Antonius bersama dua pengacaranya itu ke salah satu ruangan saat terjadi kericuhan.

Antonius nampak mengerang kesakitan dan sesekali memegang bagian leher sebelah kirinya pasca-ricuh, yang berlangsung sekira 15 menit.

Pihak Komando Distrik Militer (Kodim) 0507 Bekasi, Jawa Barat, bersama petugas keamanan setempat berhasil mengendalikan situasi dan kondisi sehingga kericuhan dapat diredam.

Akhirnya, Antonius didampingi sejumlah petugas keamanan kembali keluar dari ruangan khususnya untuk kembali menemui keluarga pasien sekaligus menandatangani kesepakatan.

Berikut 7 poin pernyataan Direktur Utama RS Elisabeth Bekasi kepada keluarga pasien vaksin palsu:

1. Memastikan daftar pasien yang diimunisasi di RS Elisabeth periode 2006-Juli 2016.

2. Untuk mengetahui vaksin palsu atau asli harus dilakukan medical chek up di RS lain, untuk biaya medical chek up ditanggung oleh RS Elisabeth, untuk RS yang akan melakukan medical chek up ditentukan oleh orang tua korban.

3. Vaksin ulang harus dilakukaan apabila hasil medical chek up pasien ternyata terindikasi vaksin palsu dan semua biaya ditanggul RS Elisabeth.

4. Segala atau semua vaksin palsu yang berdampak kepada seluruh pasien menjadi tanggung jawab RS Elisabeth, berupa jaminan kesehatan full color sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

5. Bagi anak yang sudah lewat usia vaksinasi, maka RS. Elisabeth berkewajiban memberikan asuransi kesehatan untuk para pasien sampai dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

6. Pihak menajemen RS Elisbeth harus memberikan informasi yang autentik berupa dokumen MoU suplier vaksin dari 2006 sampai Juli 2016 berikut PO pembelian vaksin yang otentik asli.

7. Adapun hal-hal yang belum tercantum akan disampaikan selanjutnya.

ADI WARSONO | ANTARA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here