Pengguna Narkoba Bogor Meningkat

105
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Pengguna narkoba di Kota Bogor meningkat. Hal itu tampak dari kenaikan pengungkapan kasusnya. Tahun lalu terungkap 60 kasus dan sekarang 78. Demikian dikatakan Kepala Satuan Narkoba Polres Bogor Kota AKP Andhika Fitransyah di Bogor, Jumat (15/7).

Angka tersebut dihitung dari Juli 2015 sampai Juli 2016. Pengguna  narkoba di Kota Bogor masih ada. “Malahan tren sekarang, peredaran narkoba mulai menyasar anak-anak di bawah umur,” ujar Andhika. Dia menambahkan, sesuai dengan arahan Wali Kota Bogor, pemberantasan narkoba harus menjadi komitmen bersama dari hulu sampai hilir.

Ia mengatakan pada pengungkapan kasus periode Juli 2015 sampai Juni 2016, jajarannya menyita barang bukti narkoba berupa ganja seberat 3.750 gram, shabu 264,89 gram, 10 butir ekstasi, 222 butir pil Aprazoam, 74 pil Riklona, enam pil Decazepam, dan 32.553 bahan psikotropika lainnya.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyebutkan, ancaman bahaya narkoba terjadi setiap waktu. Semua pihak, aparat terkait, dan  masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan serta  kesiagaan terhadap ancaman narkoba.  “Setiap hari ada 50 nyawa mati sia-sia karena narkotika. Narkotika saat ini menjadi musuh bersama. Ancamanannya setiap waktu dan setiap hari,” kata Bima dalam peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2016 di Balai Kota, Jumat.

Ditambahkan, pemberantasan penyalahgunaan narkotika tidak hanya dilakukan  hilir  (penindakan) atau begitu ada kasus baru ditindak, tapi memeranginya mulai dari hulu hingga ke hilir. “Artinya ada pencegahan yang optimal, dan penindakan  tegas,” katanya.

Menurutnya, terjadi pergeseran tren penggunaan narkotika. Pada era 60 sampai 80-an, pengguna narkotika identik dengan mereka yang berasal dari keluarga “broken home.” Kini,  pengguna narkotika sudah masuk dan merambah kalangan social mulai dari pejabat hingga warga biasa.

“Tingginya kasus narkotika, 50% warga binaan yang menghuni Lapas Paledang adalah kasus narkotika,” katanya.  Bima menyebutkan, setiap saat keluarga, rumah, dan lingkungan dapat terkena bahaya narkoba. Jika hal tersebut didiamkan tanpa ada upaya pencegahan secara maksimal, maka dampak terbesarnya  kehilangan generasi penerus bangsa.

Lebih jauh  Bima mengingatkan, banyak pihak  menyatakan narkoba berhubungan dengan perang proksi (proxy war), sehingga perlu diwaspadai dan siaga dengan ancaman dari  peredaran narkotika.  “Boleh percaya atau tidak, tapi yang pasti semua wajib siaga akan  bahaya narkotika. Dia setiap  waktu mengancam,” katanya. Ant/G-1

( koran-jakarta.com )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here