DISELEWENGKAN KEMANA DANA PEMELIHARAAN JEMBATAN?

105
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Kerusakan Jembatan Leuwiranji, yang membentang di atas Sungai Cisadane, Kecamatan Rumpin, memunculkan sejumlah pertanyaan. Pasalnya, jembatan yang menghubungkan Kecamatan Rumpin dengan Gunung Sindur tersebut baru setahun diperbaiki dengan menggunakan dana APBD.

“Ini suatu keanehan, karena tahun lalu Jembatan Leuwiranji baru saja diperbaiki termasuk menambah lapis aspalnya,” kata Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor, Ade Senjaya, kepada wartawan Jum’at (15/07).

Ade berjanji, masalah ini akan dibahas dalam rapat kordinasi dengan Dinas Bina Marga dan Pengairan. “Masalah ini akan kami tanyakan langsung ke Pak Edi Wardhani atau ke Pak Nana yang menjabat kepala bidang pemeliharaan jalan dan jembatan,” tegasnya.

Diduga kuat, selain aspal yang digunakan kualitasnya rendah, kerusakan jembatan yang berlokasi di Kampung Leuwiranji RW 02, Desa Sukamulya, dipicu banyaknya kendaraan berjenis tronton yang melintas.“DLLAJ juga akan kita panggil, karena jembatan itu, kami mendapatkan informasi kerap dilalui truk tronton bertonase lebih dari 20 ton, yang membuat jembatan tersebut cepat rusak,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, politisi Partai Demokrat mengungkit anggaran pemeliharaan jembatan yang tiap tahunnya dialokasikan APBD. “Total anggaran untuk pemeliharaan dan perawatan baik jalan maupun jembatan cukup besar, tahun ini saja dari total Rp 600 miliar anggaran untuk Dinas Bina Marga dan Pengairan, sekitar Rp 98,3 miliar diantaranya untuk perawatan jalan dan jembatan,” ungkapnya.

Kepala Bidang (Kabid) Perawatan Jalan DBMP Nana Supriatna, ketika dikonfirmasikan enggan berkomentar banyak terkait rusaknya badan Jembatan Leuwiranji “Saya akan cek dulu jalan itu masuk perawatan atau pembangunan. Jika pembangunan, tentu bukan bidang saya,“ tuturnya.

Namun begitu, Nana berjanji akan segera melakukan koordinasi dengan kolega-koleganya di DBMP, termasuk dengan pihak UPT Jalan dan Jembatan sebagai kepanjangan tangan DBMP di wilayah Kecamatan Rumpin. “Tentu kami akan tindaklanjuti informasi ini, dan akan segera kami lakukan koordinasi,” kilahnya.

Jembatan merupakan akses yang menghubungkan Kecamatan Gunungsindur dan Rumpin  itu baru pada tahun 2015 lalu dibangun dengan hotmix. “Entah kenapa saat ini aspal hotmix itu saat ini hancur total sama sekali tak bersisa,” ungkapnya.

Aan Ahdori, warga Kampung Bugel, Desa Jampang Gunung Sindur mengatakan kualitas aspal hotmix dengan kualitas terbaik pun pasti akan cepat hancur jika kendaraan tronton yang bertonase tinggi tetap melewati jembatan tersebut. “Kerusakan aspal terutama disebakan karena kapasitas kekuatan jalan tidak sebanding dengan volume tonase kendaraan tambang yang melintas,” tandasnya. (Iwan/zah)

( bogoronline.com )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here