Buron Sepekan, Anwar Disergap di Jasinga

92
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – SETELAH sepekan menghirup udara bebas di luar penjara, akhirnya Anwar Rizal bin Kim Am, 26, berhasil disergap dan ditangkap di kawasan hutan lindung di kawasan Kecamatan Jasinga Bogor, Jawa Barat, persisnya di Desa Batok, Kampung Barengkok, Kecamatan Tejo, Kabupaten Bogor.

Anwar yang menjadi narapidana penjara seumur hidup dalam kasus perkosaan dan pembunuhan, berhasil kabur dari Rutan Salemba pada Kamis petang (7/7) lalu dengan berpura-pura sebagai perempuan yang mengenakan pakaian gamis dan berkerudung.

Direktur Reskrimum Kombespol Krishna Murti mengatakan lokasi persembunyian Anwar di tengah hutan yang hanya berjarak 5 kilometer dari lokasi Anwar membunuh korbannya yang juga keponakannya sendiri, yakni Adinda Anggia Putri, 12 di hutan jati milik Perum Perhutani persisnya di Petak 17 A RPH, Tenjo Tengah, Jasinga Bogor pada 22 Oktober 2015 lalu.

Menurut Krishna,  lokasi persembunyian Anwar juga hanya beberapa kilometer dari rumah salah seorang kerabat isterinya atau kakak ipar Anwar. Namun Anwar hanya baru bersembunyi di hutan itu selama sekitar 36 jam saja. Sebelumya pada hari Minggu (10/7) sempat juga bermalam di Kampung Barengkok itu.

Selain itu, dia selalu berpindah-pindah tempat. Saat berada di tengah hutan, Anwar sekali mendatangi rumah kerabatnya itu untuk sekedar meminta perbekalan makanan, untuk selanjutnya kembali ke tengah hutan.

Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya AKBP Budi Hermanto yang memimpin operasi penangkapan mengatakan hasill pemeriksaan terhadap Anwar diketahui kalau pernah sekali menangkap binatang yang banyak berkeliaran di dalam hutan. Lalu keluar hutan untuk menjual hasil tangkapannya, dan uang hasil penjualan dibelikan lauk pauk sebagai perbekalan makanan di dalam hutan.

”Sebelum menangkap dia (Anwar) kami juga menggelar sayembara berhadiah bagi siapa saja yang berhasil menangkap dia. Sayembara kami sebar di lewat media elektronik, online, maupun media sosial. Hadiahnya rahasia tapi menarik. Tapi alhamdulilah dia sudah berhasil kami tangkap,” kata Budi di Mapolda Metro Jaya, Kamis (14/7).

Budi menambahkan, tiga hari lalu pihaknya sudah mencium jejak Anwar yang mengarah ke Bandung dan dan Kota Garut, Jawa Barat. Apalagi diketahui kalau Anwar pernah lama tinggal di Bandung, dan punya saudara di Kota Garut. Baru pada Selasa (12/7) Anwar terlacak berada di kawasan Jasinga Bogor, Jawa Barat setelah salah seorang kerabat Anwar melaporkan posisi Anwar yang berada di tengah Hutan Jati Jasinga.

”Jadi kata kerabatnya itu, Anwar mengaku menjadi korban gusuran sehingga belum punya rumah, sebelumya mereka percaya saja, tapi belakangan baru tahu kalau dia itu pelarian dari Rutan Salemba makanya langsung melaporkannya,” kata Budi.

Menurut Budi, pelaku perkosaan dan pembunuhan itu ditangkap pada Kamis siang (14/7) sekitar pukul 13.00. Setelah sebelumnya belasan anggota serse dari Subdit Resmob Polda Metro Jaya mengepungnya. Anwar sendiri disergap di sebuah gubuk reot di Kampung Barengkok itu tanpa perlawanan sama sekali.

Saat ditangkap Anwar hanya bercelana pendek dan berjaket atau sweater bahan kain warna biru. Kepada petugas yang menangkapnya, Anwar menuturkan, begitu berhasil kabur dari Rutan Salemba pada Kamis petang  (7/7),  isterinya Ade Irma Suryani yang sudah menuggu tak jauh dari rutan.

Sebelumnya, Ade yang membawakan pakaian gamis dan kerudung yang dikenakan Anwar untuk kabur. Dari Rutan Salemba, Anwar bersama isterinya langsung meluncur ke rumah saudara mereka yang bernama Heri di kawasan Bendungan Hilir (Benhil) Jakarta Pusat  untuk meminjam uang Rp 50 ribu berikut meminjam sweater dan topi.

Dari kawasan Benhil, Anwar menuju Terminal Grogol, dan meninggalkan isterinya di terminal itu. ”Dari rumah saudara saya langsung ke Grogol untuk menumpang bus menuju Bandung. Baju gamis dan kerudung saya jual di Grogol,” kata Anwar kalem di Mapolda metro Jaya, Kamis petang (14/7).

Anwar melanjutkan, setiba di Bandung pada Juat pagi (8/7)  pukul 05.00, dirinya langsung menumpang bus ke Pantai Santolo Pamengpeuk di kabupaten garut. ”Di sana saya dua hari tinggal. Tapi perasaan gak tenang makanya pergi lagi hari Minggu 10 Juli,” imbuh Anwar.

Dia a menuturkan, dari Pantai Santolo Pamengpeuk dirinya berangkat ke kawasan Desa Barengkok Leuwiliang Bogor dengan cara menumpang truk barang. ”Dari Desa Barengkok saya naik truk lagi sampai ke Stasiun Kota di Jakarta. Dari Stasiun Kota pergi lagi ke rumah teman saya Heru di Tangerang, sama Heru saya pinjam uang Rp 50 ribu. Terus Tangerang  numpang truk lagi ke rumah kawan saya Wahyu  Kampung Ciresek di Parung Bogor. Sampai di rumah Wahyu sudah hari Senin (11/7) sekitar jam 2 pagi, saya bermalam di rumah Wahyu,” papar Anwar.

Dilanjutkan pembunuh sadis ini, setelah semalam menginap di rumah Wahyu di Kampung Ciresek Parung, pada Selasa (12/7) pagi pukul 07.00 dirinya berangkat ke  hutan kebun kelapa sawit Lebak Wangi Tangerang. Dari sana, dia hendak kembali ke Desa Barengkong Leuwiling Bogor.

Saat menuju Desa Berangkong, dia mampir ke kawasan Curug, Kabupaten Tangerang untuk menemui salah seorang kenalannya yang bekerja di di sebuah restoran. Maksud Anwar hendak melamar pekerjaan di restoran itu.

Namun sial, kenalannya mengenali Anwar yang sedang diburu polisi lantaran kabur dari Rutan Salemba. Ia pun langsung ngacir meninggalkan Curug, Kabupaten Tangerang. Anwar langsung kembali ke Desa Berangkong dan tiba Rabu dini hari (13/7) pukul 01.00. Besoknya, Kamis siang (14/7) Anwar ditangkap tim Resmob Polda Metro Jaya yang memburunya.

Rumah kenalan bapaknya Anwar sendiri, belakangan tahu kalau Anwar adalah pelarian dari Rutan Salemba. Bahkan salah seorang anggota keluarga bernama Nining mengaku ketakutan kalau rumahnya didatangi Anwar. Ia pun langsung melapor ke polisi yang langsung direspon Polres Kabupaten Bogor dan langsung diteruskan ke Mapolda Metro Jaya. Hal tersebut diakui Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya AKBP Budi Hermanto.

Menurut Nining, suaminya sudah meminta berkali-kali agar Anwar menyerahkan diri ke polisi, tapi permintaan itu tak digubris Anwar. ”Suami saya sudah bilang agar dia (Anwar) serahin diri, tapi gak didengar sama dia,” lontar Nining.

Hal senada disampaikan Andri yang merupakan kakak kandung Anwar dan tahu kalau adiknya itu bersembunyi di Kampung Barengkok itu.”Sudah saya suruh serahkan dirimu, tapi dia diam saja gak mau dengerin,” tandas Andri.

Anwar sendiri mengaku kalau dirinya kabur karena inisiatif sendiri dan tanpa bantuan petugas Rutan Salemba sama sekali. Dia nekat memilih kabur lantaran vonis yang dijatuhkan kepadanya adalah penjara seumur hidup, sementara di sisi lain ayahnya sedang sakit keras lantaran terkena stroke.

”Terus terang saya pilih kabur karena mau tengok orang tua saya yang kena stroke,” lontar Anwar enteng. Terkait mengenakan baju gamis dan kerudung sebagai kamuflase Anwar dalam meloloskan diri dari dalam rutan, menurutnya karena selama ini dia selalu memperhatikan kalau pembesuk wanita tak pernah diperiksa seksama oleh petugas rutan.

”Makanya saya kabur pakai baju gamis dan kerudung. Isteri saya ancam kalau tak membawakan saya baju gamis dan kerudung maka dia pasti saya ceraikan. Mungkin karena takut saya cerai makanya dia membawakan baju gamis dan kerudung itu. Saya juga pakai baju gamis dan kerudung itu di lapangan di dalam rutan,” ungkapnya.

Situasinya pas hari Lebaran kedua, katanya juga, memang ramai banget. ”Apalagi teman-teman sesama tahanan yang lama-lama sudah bilang kalau rutan kalau pas Lebaran pasti ramai banget. Makanya ide kabur itu saya rencanakan pas lebaran,” ungkap Anwar tanpa merasa menyesal.

Terkait tanda cap stempel pembesuk yang terlihat di tangan kiri Anwar saat hendak kabur, menurutnya tanda stempel pembesuk itu dia buat begitu saja menggunakan spidol kecil yang dibelinya di warung yang berada di dalam rutan. ”Saya lukis sendiri saja, saya tiru dari cap stempel yang ada di tangan isteri saya. Gampang saja kok,” pungkasnya enteng.

Untuk diketahui, Anwar sendiri pada November tahun lalu hangat diberitakan lantaran menjadi pelaku perkosaan dan pembunuhan keponakannya sendiri, Adinda Anggia Putri, 12, di hutan jati milik Perum Perhutani  di kawasan Jasinga Bogor pada 22 Oktober 2015 lalu.

Sebelum dibunuh, Adinda diajak Anwar dari rumahnya di kawasan Bendungan Hilir Jakarta Pusat dengan iming-iming diajak jalan-jalan ke kota Bogor.  Sadisnya, setelah mayat Adinda ditemukan beberapa hari kemudian, namun pelaku pembunuhannya belum terungkap.

Anwar-lah yang ikut mengurus pemakamannya, bahkan Anwar pula yang menulis nama dan tempat tanggal lahir serta tanggal wafat korban pada batu nisannya.

Setelah berhasil ditangkap aparat Polda Metro Jaya, Anwar dijerat berbagai pasal berlapis, mulai dari pasal 285 KUHP, pasal 287 KUHP tentang perkosaan, pasal 338 KUHP dan pasal 339 KUHP tentang pembunuhan, plus pasal 80 ayat 3 juncto pasal 76 C dan pasal 81 ayat 1 dan 2 juncto pasal 76 D UU RI No. 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Oleh Majelis Hakim pada Januari lalu, pelaku divonis hukuman seumur hidup penjara. (ind)

 ( indopos.co.id )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here