PGRI Kota Sukabumi Sorot Kasus Orang Tua Laporkan Guru

104
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | SUKABUMI – Menyoroti banyaknya kasus perlakuan orang tua anak terhadap para guru, seperti halnya di Majalengka, orang tua menyuruh anaknya sendiri menampar sang guru, di Subang orang tua menampar guru, di Purwakarta orang tua menampar kepala sekolah dan lainnya.

Dengan kejadian tersebut, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Sukabumi memberikan pandangan terhadap kejadian tersebut.

Ketua PGRI Kota Sukabumi, Dudung Nurullah Koswara mengatakan, dengan banyaknya kasus yang terjadi, orang tua siswa jangan terlalu lebay (berlebihan) dan guru jangan melibatkan perasaan pribadi, serta emosional.

“Kami mengimbau anak diberikan kasih sayang, tinggalkan pola-pola lama dan guru jangan emosional, karena anak yang bermasalah terlahir dari keluarga bermasalah,” kata Dudung kepada Radar Sukabumi.

Ia menambahkan, anak bermasalah sendiri terlahir dari orang tua yang terlalu sibuk dengan mengurus dunia. Sementara itu, kata dia, tugas dari Allah SWT dalam agama disampaikan, bahwa amanah tersebut tanggung jawab orang tua bukan di sekolah.

Dengan seperti halnya, hanya kesalahan sedikit, maka orang tua dengan guru menjadi ribut, karena tidak adanya pemahaman tentang proses pendidikan.

“Guru sendiri di dalam kelas contohnya mengajar 40 siswa, maka untuk memahami karakteristik peserta didik, 40 potensinya, 40 keinginannya dan lainnya,” akunya.

Ia mengungkapkan, para orang tua harus lebih sadar, para gurunya lebih cerdas dan anak yang nakal tidak mematuhi aturan, perlu didekati dan para guru harus membaca buku tentang psikologi praktis karangan Dale Carnegie.

Dalam buku tersebut diceritakan bagaimana menghormati dan menghargai orang, agar orang tersebut menjadi lebih dewasa, lebih berharga, serta bagaimana memperlakukan orang selain kompetensi pedagogiknya dan guru harus lebih pintar dari orang tuanya.

“Kami mengharapkan, ke depan harus lebih ditingkatkan hubungan yang harmonis antara orang tua dan guru,” tuturnya seraya berharap.

Ia menerangkan, hubungan dalam hal ini guru dan orang tua harus menjalin komunikasi yang lebih intensif, yang tidak hanya datang saat pembagian rapor saja. Di samping itu, dalam Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005, UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Maka dalam UU tersebut jelas melindungi anak, melindungi guru dan bersyukur adanya guru. Guru sendiri, kata dia, sebagai personal, tugas profesi dan anggota profesional, karena selama ini guru bertindak maupun berbuat dalam kerja dan sebagai profesi maka harus dipahami sebagai tugas profesinya.

Dalam hal ini, kata dia, tidak boleh melakukan diskriminasi, hal yang tidak menyenangkan bagi orang lain, tidak boleh melakukan hal yang berbau dengan sara dan lainnya.

( pojokjabar.com )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here