Cerita Kepsek Sulap Sekolah Pinggiran Jadi Unggulan

104
0

BHARATANEWS.ID | JAKARTA – Menjadi kepala sekolah di kota besar tentu lebih mudah dibandingkan memimpin sekolah yang berada di pedesaan. Apalagi, jika sekolah tersebut berada di lereng kaki gunung dan memiliki kondisi jauh dari layak. Belum lagi ditambah persoalan kurangnya sumber daya manusia (SDM), baik dari sisi guru maupun siswa.

Kondisi memprihatinkan tersebut sempat dirasakan oleh SDN Sumbergondo 2, Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Namun siapa sangka, di tangan seorang kepala sekolah, dalam waktu satu tahun sekolah tersebut kini bertransformasi menjadi sekolah rujukan bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya. Prestasi peserta didiknya pun mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Sang Kepala Sekolah tersebut adalah Sri Winarni, SPd, MH. Menjabat sejak Juli 2014, guru olahraga ini berhasil menyulap SDN Sumbergondo 2 menjadi sekolah yang menerapkan pola pembejaran secara aktif dan kreatif dengan cara bermitra bersama USAID PRIORITAS.

“Keadaan awal saat saya menjabat sebagai kepala sekolah di sini itu guru dan siswa tidak disiplin. Pukul 06.30 WIB belum ada satu guru pun yang datang. Baik guru dan siswa baru datang jam 07.30 WIB. Padahal, normalnya kelas dimulai pukul 07.00 WIB,” ujar Sri ditemui Okezone usai acara Kopi Darat Diskusi Pendidikan ACDP di Kemdikbud, Jakarta, Rabu (27/4/2016).

Ibu tiga anak ini menceritakan, awalnya dia bingung antara memperbaiki fisik sekolah dahulu atau lebih mengutamakan SDM. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengubah pola pikir para guru dan siswa terlebih dahulu. Menurut Sri, hal tersebut sulit lantaran keduanya sudah nyaman dengan kebiasaan tidak disiplin yang dilakukan sehari-hari.

“Lebih banyak dukanya. Tetapi alhamdulillah, dengan usaha bersama guru dan masyarakat sekitar, akhir-akhir ini perubahan mulai terlihat. Sekarang sekolah kami menjadi benyak diminati dan anak-anak juga merasa nyaman belajar di sana,” ucapnya.

Sri merupakan seorang kepala sekolah dari jalur Program Persiapan Kepala Sekolah (PPKS). Artinya, sebelumnya dia telah mengikuti beberapa tahapan seleksi hingga dinyatakan layak menjadi kepala sekolah. Namun sebelum akhirnya diangkat, wanita kelahiran 3 Desember 1953 itu harus melewati masa tunggu selama satu tahun.

“Saya mendaftarkan diri karena memang saat itu ada tawaran. Motivasi saya yaitu ingin mengubah pendidikan di suatu sekolah. Saya merasa kasihan kepada anak-anak yang selama ini belajar dengan pola DDCT alias duduk, dengar, catat, tugas. Saya kemudian ikut seleksi sampai akhirnya lolos,” terangnya.

Selain pola pembelajaran yang monoton, kata Sri, kala itu anak-anak di sekolah tersebut juga banyak yang nakal. Untungnya, dia punya strategi sendiri dalam menanganinya. Alih-alih memberikan sanksi tegas, Sri lebih memilih melakukan pendekatan secara psikis.

“Berbicara kepada anak-anak apa yang mereka inginkan, juga dengan orangtuanya. Mendidik anak usia SD tentu tidak mudah, penanganannya berbeda setiap kelas. Kelas I misalnya, harus didampingi oleh guru yang telaten dan sabar. Kelas pertengahan seperti III dan IV karena masa transisi harus diajarkan lebih mandiri. Sedangkan kelas VI dididik supaya disiplin pembelajaran dan kehadiran karena mendekati kelulusan,” tuturnya.

Dalam memperbaiki pengelolaan sekolah, Sri bermitra dengan USAID PRIORITAS. Dengan begitu, para guru mendapatkan pelatihan, baik pada manajemen juga budaya baca. Mereka kemudian mengikuti workshop selama dua bulan.

“Hasilnya setelah saya supervisi tidak ada yang berubah. Hanya di kelas VI yang menerapkan pembelajaran aktif. Akhirnya saya terapkan model moving class, sehingga para guru bisa saling mengevaluasi hasil belajar,” paparnya.

Beberapa kebiasaan rutin siswa, lanjut dia, adalah membaca selama 15 menut sebelum pembelajaran dimulai. Hal tersebut kemudian menumbuhkan minat baca di kalangan siswa, sehingga mereka lebih suka membeli buku ketimbang mainan. Sedangkan pola belajar aktif mampu membuat para siswa berani berpendapat dan menanggapi sesuatu materi yang diterangkan guru.

Berkat kegigihan seorang kepala sekolah, kini SD yang terletak di Lereng Kaki Gunung Arjuna itu berhasil menjadi sekolah rujukan dan rekomendasi Dinas Pendidikan Kota Batu, bahkan Provinsi Jawa Timur. Tak hanya itu, para siswa SDN Sumbergondo 2 juga mulai menunjukkan taringnya dengan beragam prestasi, di antaranya peringkat pertama UASBN tingkat kecamatan, Juara I Cipta dan Baca tingkat kota, dan Juara I Mendongeng tingkat kota.

“Bagi saya peran dan fungsi kepala sekolah adalah sebagai mitra. Bagi guru supaya mereka mau mengabdi, sedangkan siswa supaya bisa mengembangkan bakatnya,” tandas wanita berkerudung itu. (okezone.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here