Penghuni Kawasan Prostitusi Dadap Menghilang Jelang Pembongkaran

101
SHARE

BHARATANEWS.ID | TANGERANG – Para penghuni kawasan prostitusi di Desa Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, menghilang menjelang pembongkaran oleh Satpol PP setempat pada 23 Mei 2016.

“Penghuni yang mayoritas pekerja seks komersial (PSK) telah pulang ke kampung halaman masing-masing,” kata Kepala Satpol PP Pemkab Tangerang Yusuf Herawan di Tangerang, Rabu (30/3).

Yusuf mengatakan kemungkinan para PSK dan pemilik bangunan menghindar untuk sementara menjelang penertiban saat pendataan oleh petugas instansi terkait.

Dia mengatakan dalam sosialisasi pembongkaran hanya terlihat beberapa pemilik bangunan dan PSK, termasuk saat pembinaan rohani oleh pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat.

Masalah tersebut terkait Pemkab Tangerang melakukan penertiban sejumlah bangunan di Dadap sesuai program pemerintah pusat bahwa hingga tahun 2017 semua kawasan prostitusi di Indonesia harus dibongkar.

Untuk itu, Pemkab Tangerang menggandeng akademisi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, untuk membuat rencana kawasan Dadap menjadi pusat kajian Islam dan kampung nelayan.

Aparat Pemkab Tangerang sudah mendapatkan paparan dari Prof Budi Pratikno dari UGM dan mengubah kawasan kumuh menjadi lebih baik.

Namun saat ini kawasan Dadap merupakan perkampungan nelayan yang kumuh dan terdapat lokasi prostitusi sehingga perlu dirombak dan ditata.

Meski begitu, kawasan Dadap tersebut dengan luas sekitar 12 hektare milik PT Angkasara Pura II, pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta serta lainnya tanah pengairan.

Sesuai hasil pendataan bahwa terdapat sebanyak 427  PSK, sebanyak 72 kafe, hotel kelas melati, tempat karaoke dan warung remang-remang.

Yusuf mengatakan pemilik bangunan meminta ganti rugi, tapi tidak dikabulkan karena mereka mendirikan kafe, hotel dan warung remang-remang di lahan milik pemerintah.

Belakangan ini, pemilik bangunan masih tetap bertahan di lokasi, tapi sejak sering razia, maka kafe, warung remang-remang sering tutup.

Padahal pihaknya menyarankan agar pemilik bangunan membongkar atas kesadaran sendiri karena bahan material tidak rusak dapat dimanfaatkan kembali ketimbang digusur paksa menggunakan alat berat. (beritasatu.com)