Bengalnya Jessica selama tinggal di Australia

204
SHARE

BHARATANEWS.IDSudah lebih dari dua bulan kasus kematian Wayan Mirna Salihin setelah meminum kopi dicampur racun sianida bergulir. Polisi sudah menetapkan rekan Mirna yakni Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka. Jessica sudah mendekam di balik jeruji besi Polda Metro Jaya selama 1,5 bulan.

Namun kasus ini belum juga masuk meja hijau. Padahal polisi sudah mengupayakan beragam cara membongkar motif di balik upaya pembunuhan terhadap Mirna. Tidak tanggung-tanggung, Polda Metro Jaya sampai meminta bantuan polisi federal Australia atau Australia Federation Police (AFP) untuk menelisik rekam jejak Jessica selama tinggal di Australia.

Bukan tanpa alasan Polda Metro Jaya meminta bantuan AFP. Dari sejumlah saksi kunci yang diperiksa, penyidik polisi merasa perlu menelusuri kehidupan Jessica dan Mirna sebagai background membongkar motif pembunuhan. Jessica dan Mirna sudah berteman sejak keduanya mengenyam pendidikan tinggi di Sydney Billy Blue College of Design and Swinburne University of Technology.

Jessica sendiri disebut-sebut berstatus permanent resident. Status ini diberikan kepada warga negara non Australia untuk dapat hidup, bekerja dan belajar tanpa pembatasan dari Australia. Status ini dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah negeri Kanguru.

Awal Februari 2016, tim penyidik Polda Metro Jaya melayangkan permohonan kepada AFP untuk mencari bukti pelengkap di Australia. Gayung bersambut, pihak AFP siap membantu Polda. Akhir februari, tim penyidik dari Polda Metro Jaya di bawah komando Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti terbang ke Australia.

jessica mirna 2016 Merdeka.com

Penyidik secara penuh dibantu pihak Australia merampungkan berkas-berkas terkait kematian Mirna. Krishna tiba di Australia, tepatnya di Darwin International Airport pukul 23.53 WIB dan kembali tiba ke Indonesia pukul 11.33 WIB, keesokan harinya.

“Ada penyidik kami ke Australia, saya juga berangkat. Keberangkatan guna melakukan negosiasi dengan kepala AFP akan kasus Mirna. Sudah ada kerja sama antara Pemerintah Indonesia dengan pihak Australia,” ujar Krishna Murti di Polda Metro Jaya, Jumat (26/2).

Ayah Mirna, Edi Darmawan Salihin juga mengaku mempunyai alat bukti dari Australia. Menurutnya, data tersebut sangat vital sehingga tidak bisa dipublikasikan. Dia juga enggan memberikan apakah data itu kasus pidana atau perdata.

Setelah hampir sebulan, Polda Metro mengkonfirmasi hasil penelusuran kehidupan Jessica selama menetap di negeri Kanguru. Polisi memiliki sejumlah catatan yang diperoleh dari kepolisian Sydney. Catatan tersebut dikonfirmasi penyidik kepada Jessica saat pemeriksaan terakhir, Jumat (18/3).

“Tapi dia tidak mau menjawab karena tidak ada hubungannya dengan kasus yang dituduhkan kepadanya. Pembunuhan berencana,” kuasa hukum Jessica, Hidayat Boestam saat dihubungi, Minggu (20/3).

Ketika ditanya soal kliennya yang pernah berurusan dengan polisi di Sydney, dia mengaku tidak mengetahui apa-apa.

“Masalah dia di Australia enggak ada hubungannya dengan kasus pembunuhan berencana. Apa polisi dapat keterangan Jessica yang berkaitan dengan racun? Kan enggak ada. Itu polisi saja yang sambung-sambungin untuk pembenaran,” ucapnya.

Mantan Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian menuturkan, ada fakta-fakta baru yang didapat dari polisi Australia.

“Jessica saya kira sekarang sudah tahap pemberkasan untuk dimajukan kedua, tapi saya kira dapat informasi sangat bagus dari Australia yah. Tapi sengaja belum diekspos,” kata Tito di Mabes Polri, Jakarta, Senin (21/3).

Jessica rekonstruksi di Olivier Cafe 2016 merdeka.com/istimewa

Ternyata Jessica punya sejumlah catatan kasus selama di Australia. Dalam catatan kepolisian Australia, selama tinggal di sana Jessica terlibat 14 kasus tindak pidana kejahatan. Yang mengejutkan, Jessica ternyata pernah melakukan percobaan bunuh diri.

“Nanti tanggal 26 tim mengambil dokumen mulai dari dokumen-dokumen kriminal yang bersangkutan termasuk juga seingat saya ada lebih kurang 14 kasus. Di antaranya percobaan bunuh diri,” ujar dia.

Selain itu, Tito kembali membocorkan catatan kriminal Jessica yang dicatat polisi Australia. “Kedua ada catatan medis yang bersangkutan karena dalam treatment psikolog,” tandas dia.

Disinggung apakah, semua catatan kriminal Jessica bakal diungkap di pengadilan, Tito mengaku hal itu akan ditentukan dari perjanjian Kapolda Metro Jaya yang baru yakni Irjen Moechgiarto dengan pihak kepolisian Australia.

“Saya pikir kesepakatan antara bapak Kapolda baru nanti dengan kepolisian Australia mana saja yang boleh ekspose mana saja yang tidak,” ucapnya. (merdeka.com)