Taksi Bekasi Diam-diam Kirim 65 Armada

98
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BEKASI – Meski sebagian besar operasional taksi di Bekasi berlangsung normal saat ada demo menolak transportasi berbasis aplikasi online kemarin, nyatanya sejumlah pool taksi di Bekasi justru mengirimkan perwakilannya untuk ikut berunjukrasa di ibu kota. Masing-masing pool itu mengirimkan lima armada.

Kasubag Humas Polresta Bekasi Kota Iptu Puji Astuti mengungkapkan, armada taksi di wilayah hukum Polresta Bekasi Kota mengirimkan perwakilannya alam aksi unjuk rasa di Jakarta. Meski begitu, tidak mengganggu transportasi di Kota Bekasi.

Dia menyebutkan, beberapa pool taksi yang turut mengirimkan perwakilannya, antara lain pool Express di Jalan Raya Siliwangi-Narogong, Pangkalan I B. Pool Express di Jalan Mustikasari, Kampung Babakan. Pool Blue Bird di Jalan Siliwangi-Narogong KM 9. Pool Eagle di Jalan KH. Agus Salim-Bekasi Timur. Pool Express di Jalan Siliwangi-Narogong KM 7 Rawalumbu. Pool Express di Jalan Raya Kodau-Pondokgede. Pool Express di Jalan Raya Kranggan-Jatisampurna. Pool Express di Jalan Raya Jatiranggon-Jatisampurna. Pool Bluebird di Jalan Raya Perjuangan. Pool Express Jalan Raya Jatimekar-Jatiasih. Pool Blue Bird di Jalan Raya Jatikramat. Pool Primajasa di Jalan Wibawamukti. Pool Lasantu di Jalan Raya Jatiluhur.

“Masing-masing mengirimkana lima armadanya. Tapi tidak ada aksi di Kota Bekasi,” ucap Puji Selasa (22/3)

Puji melanjutkan perwakilan armada taksi yang ikut aksi di Jakarta berangkat dari beberapa titik, seperti  Tol Bekasi Timur, Tol Bekasi Barat, pintu Tol Jatiasih, dan pintu Tol Jatiwarna menuju titik kumpul di Cawang, Jakarta Timur. Mereka konvoi menuju gedung DPR, Balai Kota, Kemenhub, dan Istana Negara.

“Masing-masing berangkat dari beberapa pintu tol dan kumpul di UKI Jakarta Timur kemudian konvoi menuju lokasi aksi,” ujar Puji.

Ramdhan, salah satu sopir taksi di Bulakkapal, mengatakan pihaknya mengetahui akan adanya aksi besar-besaran di Jakarta. Dia mengakui dirinya masih beroperasi mencari penumpang hanya saja tidak melayani penumpang dengan tujuan Jakarta.

“Masih narik tapi gak ke Jakarta paling dari Bekasi ke Cikarang dan sampai daerah perbatasan Jakarta saja,” tutur Ramdhan saat ditemui Radar Bekasi.

Ramdhan juga berharap pemerintah dapat melarang beroperasi transportasi berbasis aplikasi online. Sebab dengan adanya moda transportasi online, penghasilan sehari-harinya berkurang. Tidak seperti sebelum adanya transportasi online, saat ini Ramdhan mengaku hanya bisa bawa pulang uang hasil narik taksi sebesar Rp300 ribu. Padahal dulu dirinya mendapatkan lebihan uang sebesar Rp550 ribu dalam sehari.

“Uang bersih setelah setoran paling sisa Rp300 ribuan. Itu pun carinya setengah mati, tarikan jauh-jauh. Kalau dulu Rp550 masih dapat dicari sehari. Saya mohon kepada pemerintah agar di perhatikan nasib kami ini. Jangan dihilangkan hanya gara-gara ada transportasi online itu,” pungkas pria yang sudah 15 tahun menjadi pengemudi taksi. (pojoksatu.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here