MAK IKAH TINGGAL DI KANDANG KAMBING, NETIZEN SALAHKAN PEMERINTAH

136
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | Publik pengguna media sosial dihebohkan oleh pemberitaan tentang kehidupan Mak Ikah (70) dan Mad Hari (80), warga Kecamatan Gunungguruh, Sukabumi, Jawa Barat. Netizen heboh mengetahui pasangan kakek nenek itu terpaksa tinggal di bekas kandang kambing. Semakin banyak kisah rakyat susah yang terekspos ke publik, pemerintah diminta tanggap.

Mak Ikah merupakan warga Kampung Legoknyenang RT 48 RW 23, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Sukabumi. Ia ting­gal bersama suaminya Mad Hari, yang terkena stroke sejak tujuh tahun lalu.

Sejumlah media massa memberitakan, sudah setahun pasangan suami istri renta itu tinggal di bekas kandang kambing ukuran sempit sekitar 3×4 meter per segi. Sehari-hari mereka tidur beralas balai bambu dan berdindingkan bilik bambu.

Mak Ikah menerangkan, ia ter­paksa tinggal di bangunan bekas kambing karena tidak punya pilihan lain. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja kesulitan.

Selama ini Mak Ikah mengandal­kan upah membersihkan rumput. Sementara suaminya tidak bisa bekerja karena terkena stroke sejak 7 tahun silam.

Nenek 70 tahun ini mempunyai tiga orang anak yang sudah berkeluarga. Namun, ketiga anaknya juga hidup susah. Sehingga tidak bisa menolong orangtuanya.

Salah satu anak Mak Ikah, Aho (45) mengatakan, keluarga tidak bisa berbuat banyak. “Sebenarnya sedih, namun bagaimana lagi, saya juga hanya tukang meubel yang berpenghasilan kecil,” kata dia.

Menurut Aho, keluarga sudah berupaya meminta bantuan pemerintah desa. Pernah ada perwakilan desa melakukan pengecekan ke lokasi. Ironisnya, kata Aho, petugas desa itu malah minta uang administrasi kepada keluarga. Hingga kini, ung­kap Aho, belum sepeser pun bantuan pemerintah mereka terima.

Kehidupan kalangan susah ini diberitakan sejumlah media massa online, kemarin.

Seharian kemarin, berita-berita itu tersebar di jejaring sosial dan mendapat perhatian luas netizen.

Di antaranya, pengguna Twitter dengan akun @bebibelle19 mengaku miris mengetahui kabar ini. Dia meyakini masih banyak rakyat Indonesia hidup kesusahan. “Pas buka berita, kok ya pas berita sedih melulu ya. Ada berita bayi dibuang di sungai, nenek yang tinggal di bekas kandang kambing. #Miris,” cuitnya.

Akun @kiranaputriipin menga­takan, kisah-kisah pilu masyarakat Indonesia yang terungkap ke publik merupakan bukti masih banyak rakyat belum sejahtera.

“Inilah cerminan hidup yang nggak adil, sedangkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bermewah-mewahan. Sedangkan, rakyat yang sudah pilih dia (menjadi anggota DPR) malah hidup sebatang kara,” kecamnya.

Akun @nestam212 meminta pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk segera menindaklan­juti informasi ini, “Ada yang punya hati.”

Kisah ini juga direspons publik pengguna jejaring sosial Facebook di Tanah Air. Di antaranya, akun Jensen Vivian Hura Orni mengaku sedih mengetahui kabar ini,

“Kenapa sih nggak ada yang pedu­li sama Mak Ikah. Coba bayangkan kalau tinggal di bekas kandang kambing, huhu..”

Akun Untung Sutrisno menye­salkan ketidakkepedulian aparatur pemerintah. “Kemana woi perangkat desanya sampai ada warga yang tinggal di kandang kambing. RT, RW, LURAH, dan lain-lain. Masa harus Jokowi yang blusukan,” ke­salnya.

Akun Paul Deboer mempertanya­kan kinerja pemerintah menangani keluarga miskin seperti Mak Ikah tersebut. “Bagaimana kerja negara? Masih terlalu banyak rakyat yang tidak punya. Rakyat yang lebih dahulu dipikirkan, jangan menjuali ladang-ladang di seluruh Indonesia kepada WNA asing. Bekerja untuk rakyatnya dahulu,” katanya meng­ingatkan.

Akun Laksmana Tuah menuding maraknya pejabat korup sebagai penyebab utama kemiskinan rakyat, “Negara Indonesia jadi miskin aki­bat ulah para KORUPTOR.”

Akun Zamzam Mu’azam mem­pertanyakan program pemerin­tah menyelesaikan kemiskinan di Tanah Air. “Semestinya di kabupaten/kota dibuat program pembangunan perumahan bagi penduduk MISKIN. RT RW harus bersinegi,” katanya.

Sebaliknya, akun Haji Dulloh Rahmad memberikan semangat ke­pada Mak Ikah untuk tetap bertahan hidup, meskipun tidak memperoleh bantuan pemerintah. “Maju terus nek. Yang penting halal. Daripada rumah­nya mewah tapi hasil maling.”

Akun Damencoek Coek me­nyampaikan, kehidupan yang layak akan dirasakan oleh semua orang yang mau berusaha dan bek­erja keras. “Hidup ini kan ibarat ngantri, nanti kalau sudah dapat giliran, pasti akan punya tempat tinggal layak. Yang penting masih diberi kekuatan untuk bekerja dan tidak jadi pemalas. Semangat Nek Ikah,” tulisnya.

Sumber : rmol.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here