Kota Jakarta Minim Hadirkan Budaya Nasional

143
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | Jakarta- Masih adanya tawuran antarwarga atau pelajar, pelecehan seksual, dan korupsi, ditengarai terjadi karena minimnya pelestarian budaya nasional. Karena itu, Komunitas Reog Ponorogo di Jakarta menggelar atraksi reog Ponorogo pada Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day di sepanjang Jalan Sudirman hingga Thamrin setiap minggu.

Warga Jakarta yang berolahraga saat HBKB dapat mengenal reog Ponorogo sebagai salah satu budaya Indonesia. Karena, beberapa waktu lalu ada klaim dari negara lain bahwa reog Ponorogo milik negara tersebut.

Penasihat komunitas Reog Ponorogo, Muhammad Sanusi mengatakan keberadaan reog Ponorogo setiap minggu di HBKB akan menjadi penguat bagi pelestarian budaya nasional yang mulai memudar.

“Saat ini, Jakarta mengalami krisis kebudayaan. Akibatnya harmonisasi moral di ibu kota mulai pudar, seiring lunturnya budaya nasional. Padahal, budaya nasional mengajarkan kecintaan Tanah air, menghargai sesama dan menguatkan kesatuan,” kata Sanusi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (20/3).

Ketidakharmonisan moral dalam kehidupan masyarakat terlihat dari masih terjadinya tawuran, pelecehan seksual, korupsi, dan penyalahgunaan narkoba. Untuk meminimalissasi ketidakharmonisan moral itu, Sanusi mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk menggelar aksi budaya nasional secara rutin di dalam kegiatan HBKB.

“Jadi tidak hanya reog Ponorogo saja yang dinikmati warga di acara HBKB ini. Tetapi juga ada budaya nasional lainnya. Khususnya budaya Betawi harus menjadi tuan rumah di Jakarta,” ujarnya.

Dengan atraksi budaya setiap minggunya di HBKB, diharapkan warga akan memiliki kelenturan hati serta kekuatan jiwa. Paling tidak, ketika budaya asing masuk, tidak menggerus budaya nasional. Karena suatu bangsa dibentuk oleh budaya nasional yang menjadi jati diri bangsa tersebut.

Sampai sejauh ini, lanjutnya, Pemprov DKI masih belum menempatkan budaya nasional, terutama budaya Betawi dalam kehidupan warga Jakarta. Janji Pemprov DKI yang mewajibkan pengembang untuk memasang ornamen budaya Betawi di gedung-gedung yang dibangun belum terwujud. “Harusnya pembangunan rumah susun itu jadi ajang untuk pemenuhan janji pemasangan ornamen budaya Betawi,” tuturnya.

Selaim minim ornamen budaya, gedung-gedung di Jakarta belum mengedepankan pagelaran musik, tari hingga makanan budaya nasional. Justru, gedung-gedung banyak mengedepankan budaya asing. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang melestarikan budaya. Generasi muda harus kita tanamkan budaya kita sendiei. Agar lebih santun, cerdas dan harmonis dalam kehidupan sosial,” ungkapnya.

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta ini, mengharapkan kebudayaan reog Ponorogo mendapat pengakuan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organizations (UNESCO) menjadi salah satu warisan budaya nasional dari Indonesia.

“Permohonan pengakuan itu bukan tanpa alasan. Tarian sejenis reog Ponorogo sempat diakui oleh negara Malaysia dan dinamakan Tari Barongan. Penampilan tarian ini sama persis dengan Reyog Ponorogo yaitu topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak,” papar Sanusi yang juga salah satu bakal calon gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra ini.

Lenny Tristia Tambun/WBP

(berisatu.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here