Astaga! Nyamuk Bogor Kebal Fogging

102
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Mengerikan. Nyamuk Aedes Aegypti yang diteliti dari 35 kelurahan di Kota Bogor, telah resisten (kebal) terhadap tiga golongan insektisida.

Gamblangnya, nyamuk penyebab demam berdarah itu sudah kebal terhadap bermacam jenis fogging atau pengasapan.

 Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Prof Upik Kesumawati Hadi membeberkan, 74 persen galur nyamuk sudah resisten terhadap insektisida jenis malation, 63 persen terhadap bendiokarb, 86 persen terhadap deltametrin, dan 80 persen galur berstatus resisten ganda. Artinya, nyamuk tersebut kebal terhadap lebih dari satu golongan insektisida.

“Resistensi nyamuk terhadap insektisida disebabkan karena pengendaliannya yang hingga saat ini masih mengutamakan cara kimiawi (insektisida). Penggunaan insektisida yang sama secara terus menerus dapat menimbulkan resistensi populasi melalui seleksi,” papar Prof Upik, di coffee morning IPB, di ruang Ececutive Lounge, Kampus IPB Baranangsiang, Kamis (17/02/2016).

Lanjut Prof Upik, proses seleksi yang dimaksud adalah menghilangkan individu nyamuk yang rentan dan menyisakan individu nyamuk yang tahan. Belum lagi kemungkinan mutasi gen yang dapat terjadi akibat pemaparan terhadap insektisida.

“Hal ini dapat menjadi faktor yang menyebabkan gagalnya upaya pengendalian nyamuk,” terang Prof Upik.

Mirisnya, dalam penelitian itu juga terungkap bahwa gaya hidup manusia moderen banyak menciptakan habitat baru bagi nyamuk Aedes.

 Semisal penadah tumpahan air pada wadah galon air mineral. Ditemukan fakta dari delapan lokasi berbeda, angka bebas jentik kini 17,8 persen hingga 88,5 persen.

“Padahal untuk bebas transmisi DBD di suatu daerah diperlukan angka bebas jentik diatas 95 persen. Artinya angka ini memberikan peluang terjadinya transmisi penyakit,” ungkapnya.

Belum lagi dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan arus urbanisasi yang tidak terkendali. Banyak penduduk yang tinggal di suatu wilayah dengan standar hidup yang rendah. Kekurangan air bersih dan tidak sempurnanya pengolahan limbah.

“Seluruhnya menunjang kehidupan nyamuk,” ungkapnya.

Di bagian lain, kata Prof Upik, Aedes Aegypti adalah nyamuk yang mudah beradaptasi dengan baik. Larvanya yang semula hanya menempati habitat domestik, semisal penampungan air bersih dalam rumah, kini mampu berkembang di wadah air yang mengandung banyak polutan.

“Data hasil penelitian kami menyebutkan bahwa rendahnya kepedulian masyarakat dalam melakukan kegiatan pengendalian vektor DBD,” tuturnya.

 Nah, sebagai langkah antisipasi, perlu adanya pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat melalui penyuluhan secara berkesinambungan.

“Juga kaitannya dengan insektisida. Pihak terkait khususnya Dinkes Kota Bogor harus berhati-hati dalam menentukan insektisida yang akan digunakan,” tandasnya. (pojoksatu.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here