DPD RI Tiba-tiba Panas, Kisruh Soal Jabatan Irman Gusman Cs

164
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | JAKARTA – DPD RI yang selama ini adem ayem, tiba-iba terjadi ricuh terkait masa jabatan ketuanya yang kini mulai dipermasalahkan sejumlah anggotanya. Kisruh terjadi, Kamis (17/3/2016), saat rapat paripurna penutupan masa sidang laporan kerja alat kelengkapan dewan DPD RI.

Terjadinya kericuhan  bermula saat pembacaan laporan tatib DPD RI mengenai masa jabatan pimpinan DPDRI yang telah diputuskan pada rapat paripurna luar biasa 15 Januari lalu. Ketika itu,  itu, Ketua Badan Kehormatan (BK) DPD AM Fatwa tampil membacakan laporan soal masa jabatan di hadapan rapat Paripurna

AM Fatwa dalam laporan yang dibacakannya, menjelaskan mengenai keputusan rapat Paripurna luar biasa lalu yang menetapkan masa jabatan Pimpinan DPD dikurangi menjadi 2,5 tahun dari 5 tahun.

Ternyata,  kata Fatwa, sampai saat ini pihak pimpinan DPD Irman Gusman, Farouk Muhammad, dan GKR Hemas belum juga menandatangani keputusan terkait tatib itu.

rusuh

Politisi senior itu  meminta supaya pimpinan DPDRI akomodatif terhadap keputusan tertinggi lembaganya dengan melakukan penandatanganan tatib.

“Ini momen terakhir pimpinan untuk tanda tangan di muka sidang. Bila tidak, kita sulit memperhitungkan apa yang akan terjadi,” ujar Fatwa di hadapan rapat paripurna DPDRI gedung Nusantara V, kompleks Parlemen, itu.

Usai membacakan laporan, Fatwa meninggalkan podium dan langsung mengajukan draft tata tertib (tatib) ke hadapan meja pimpinan yang sedang diduduki Irman dan Farouk. Mendapati hal itu, Irman dan Farouk tak bergeming menolak untuk menandatangani draft tatib itu.

Mendapati kenyataan seperti itu, sejumlah peserta rapat paripurna bereaksi mengecam tindakan pimpinannya yang dianggap melawan keputusan tertinggi lembaganya. “Sikap ketua pengecut,” teriakan peserta rapat.

Rapat Sulit DIkendalikan

Maka, suasana rapat menjadi semakin sulit dikendalikan. Bahkan, rapat berubah menjadi adu rebutan interupsi. Tak hanya itu, salah satu anggota DPD terlihat menggebrak meja karena merasa kecewa terhadap pihak pimpinan. Kericuhan terus menjadi dan semakin tak terkendali.

Sejumlah anggota yang kecewa dengan sikap Irman lalu maju ke depan ruang sidang. Setelah Irman dan Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad meninggalkan ruangan, mereka lalu menduduki kursi pimpinan.

tinggal

Ketika itu, Irman dan Farouk pun bereaksi dan menutup rapat dengan cepat secara sepihak. Kemudian, ia langsung meninggalkan ruangan yang diikuti teriakan para anggota yang kecewa dengan penutupan sidang secara sepihak.

Reaksi para peserta Paripurna pun bermacam-macam. Bahkan diantaranya ada yang nekat menggantikan kedudukan pimpinan di kursi bagian depan tempat ruang bersidang. “Dasar pengecut,” teriak dari ruangan itu.

Menurut Benny Ramdhani dari Sulut,  sebanyak 62 anggota (dari 134 anggota DPD) sepakat memberikan mosi tak percaya kepada pimpinan mereka, Irman Gusman, GKR Hemas, dan Farouk Muhammad.

Beberapa di antaranya adalah Ketua Badan Kehormatan (BK) DPD AM Fatwa, mantan Ketua Pansus Tatib Asri Anas, dan anggota DPD dari Sulut Benny Rhamdani. Mereka menegaskan akan menggulirkan mosi tidak percaya.

“Atas sikap ketua DPD dan pimpinan DPD, maka kami dengan sadar, 62 nama yang di awal mendukung tatib, akan ditindaklanjuti menjadi pernyataan mosi tidak percaya kepada pimpinan,” kata Benny dari meja pimpinan sidang.

Mantan Ketua Pansus Tatib Asri Anas menjelaskan bahwa pansus sudah bekerja berdasarkan alur dan tidak melakukan pelanggaran. Hasil pansus pun diketok di paripurna dan diserahkan ke Badan kehormatan (BK).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here