Setahun, 5 Juta Judul Buku Harus Dibaca Guru dan Siswa

162
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | JAKARTA  – Sebanyak 400 kepala sekolah, giri dan siswa di lingkungan pendidikan DKI Jakarta mendeklarasikan semangat membaca. Sebanyak 5 judul buku dan 1 juta tulisan ditargetkan akan dibaca pelaku pendidikan ibukota selama setahun.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan DKI, Sophan Adriyanto, melalui deklarasi ini dunia pendidikan di Jakarta akan makin bergairah. Meski budaya membaca ini telah ada sebelumnya. “Deklarasi ini menjadikan budaya membaca memiliki target. Dalam setahun kami meargetkan sebanyak 5 juta judul buku dibaca dan 1 juta tulisan dihasilkan dari pelaku pendidikan. Baik guru maupun siswa,” ujar Sophan usai deklarasi Jakarta sebagai propinsi literasi di Gedung Graha Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Lebih lanjut Sophan menambahkan bahwa untuk mencapai target tersebut tentunya diperlukan sebuah program dan penyediaan sarana. Yakni perpustakaan dan buku yang akan menjadi bahan bacaan. “Perbaikan perpustakaan dan penyediaan buku menjadi salah satu yang harus disiapkan dalam mencapai target tersebut,” tukasnya.

Tidak hanya itu, saja peran media massa menjadi suatu hal yang penting. Karena media massa bisa menjadi wadah untuk insan pendidikan mengimplementasikan program ini. “Media massa bisa menjadi sarana membaca dan menulis. Bisa saja kan siswa maupun guru mengirimkan tulisannya ke media massa kemudian dipublikasikan,” ucap Sophan.

Adapun dalam deklarasi tersebut juga dilakukan penyerahan Buku Panduan Gerakan Literasi Sekolah di SD, SMP, dan SMU/SMK yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.

MINAT RENDAH

Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Penggerak Literasi Indonesia Satria Dharma mempresentasikan pentingnya literasi di sekolah. Dikatakan Satria, literasi merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup.

“Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak, maka tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik,” tandasnya.

Ia menambahkan, Indonesia termasuk negara yang prestasi membacanya sangat rendah. Berdasarkan statistik UNESCO pada 2012 indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001 persen. Artinya dalam setiap 1.000 orang, hanyaa dasatu orang yang punya minat membaca.

Sedangkan menurut OECD, budaya membaca masyarakat Indonesia menempati peringkat paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur. Hal ini menyebabkan peringkat sistem pendidikan Indonesia dianggap terendah di dunia menurut table liga global yang diterbitkan oleh firma pendidikan Pearson.

Hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) selamabertahun-tahun menunjukkansistempendidikan Indonesia masih sangat jeblok. Hasil tes PISA siswa Indonesia terus merosot.Tingkat membaca pelajar Indonesia menempati urutan ke-39 dari 41 negaraanggota PISA pada tahun 2002 atau ke 39 dari 40 negara padata hun 2003, 48 dari 65 negara pada 2006, 57 dari 65 negara pada 2009, 64 dari 65 negara pada 2012, dan 69 dari 76 negara pada 2015.

Tingkat membaca penduduk Indonesia tertinggal dari Negara tetangga, Thailand, Malaysia, Vietnam, terlebih Singapura. “Kemampuan untuk masing-masing tingkatan ini masih jauh di bawah kemampuan rata-rata negara-negara yang disurvey,” ujarnya.

Hasil studi Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Crisis to Recovery“ tahun 1998, menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas VI Sekolah Dasar di Indonesia hanya 51,7. Jauh dibandingkan dengan Hongkong (75,5), Singapura (74,0), Thailand (65,1) dan Filipina (52,6).

” Untuk itu, guna meningkatkan budaya membaca dan menciptakan peradaban bangsa yang lebihbaik, perlu dilakukan gerakan literasi nasional,” pungkasnya.(Pos Kota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here