Pembangunan Menara BCA dan Apartemen Kempinski Diduga Kuat di Luar Kontrak Kerjasama

153
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | JAKARTA  –  Mantan Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour (HIN) AM. Suseto menegaskan pembangunan Menara BCA dan Apartemen Kempinski di luar kontrak kerjasama antara BUMN PT Hotel Indonesia Natour (HIN) dengan PT Cipta Karya Bumi Indah (CKBI).

Dengan demikian, Kejaksaan Agung makin meyakini adanya dugaan tindak pidana korupsi. Sejauh ini, akibat tidak disetornya penyewaan kedua bangunan komersial, negara diduga dirugikan sekitar Rp1,2 triliun.

“Keterangan saksi AM. Suseto telah disampaikan kepada tim penyidik. Dia menyatakan pembangunan kedua bangunan itu di luar kontrak antara PT HIN dengan PT CKBI (anak usaha Djarum Group),” kutip Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Arminsyah, di Kejaksaan Agung, Rabu (15/3).

Namun demikian, Arminsyah tidak akan buru-buru menetapkan tersangka, kendati telah dirangkai benang merahnya. “Kita masih akan kumpulkan keterangan sebanyak-banyak dan alat bukti lain,” ujarnya diplomatis.

IZIN PEMPROV DKI

Salah satu yang tengah dikejar oleh tim penyidik kasus GI, adalah pemberian izin pembangunan oleh Pemprov DKI terhadap dua bangunan, yang tidak terdapa kontrak antara PT HIN dengan PT CKBI.”Ini yang kita cari, izin bangunan, kenapa bisa keluar izinnya,” kata Arminsyah dengan tanda tanya.

Kasus ini berawal dari pemanfaatan lahan bekas Hotel Indonesia, di Bunderan HI, Jakarta Pusat, 2004. Sesuai kontrak, PT CKBI membangun dua mal, satu pusat parkir dan satu hotek bintang lima dengan sistim BOT (Built, Operate and Transfer).

Praktinya, ada dua bangunan lain yang dibangun di luar kontrak, yakni Menara BCA dan Apartemen Kempinski, yang menjulang di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat.(Pos Kota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here