Dijemput Paksa dari Rumah Sakit, KPK Siap Tahan Politisi Golkar

108
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) siap menahan Budi Supriyanto setelah kondisi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dinyatakan sehat saat ‘dijemput paksa’ dari Rumah Sakit (RS) Roemani Muhammadiyah, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (15/3) sekira pukul 13:00 WIB.

Oleh penyidik KPK, Budi yang juga tersangka suap proyek di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu kemudian dibawa dan tiba di gedung KPK Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, sekira pukul 16:00 WIB.

“Tim penyidik KPK dan dokter bertemu dengan tim dokter (rumah sakit), dan yang bersangkuta dinyatakan ‘fit to travel’ dan penyidik memutuskan untuk membawanya hari ini dari Semarang sekitar pukul 13.00 WIB dan di kantor KPK pukul 16.00 WIB lebih,” kata Pelaksana Harian (Plh) Kepala Biro Humas KPK, Yuyuk Andriati Iskak kepada para wartawan, Selasa (15/3). Yuyuk menambahkan bahwa saat ini Budi masih berada di dalam gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.

Jemput paksa dilakukan penyidik KPK setelah sebelumnya Budi, politisi Golkar ini dua kali mangkir dari panggilan. Pemanggilan pertama dilakukan pada Kamis, 10 Maret 2016 lalu. Saat itu Budi tidak datang dan hanya mengirimkan surat keterangan sakit dari RS Roemani Muhammadiyah Semarang untuk menjalani istirahat selama tiga hari, tanpa ada diagnosa penyakit. Penyidik KPK kemudian melakukan jadwal ulang dan memanggil Budi untuk menjalani pmeriksaan pada Senin (14/3) kemarin. Namun saat itu Budi kembali mangkir, bahkan tanpa ada keterangan. Akibatnya, penyidik KPK harus melakukan jemput paksa terhadap Budi.

Saat dilakukan jemput paksa, Yuyuk mengatakan bahwa Budi memang berada di RS untuk mengecek kesehatannya dan bukan sedang menjalani rawat inap, seperti yang dituliskan dalam surat keterangan sakit yang dikirimkan pekan lalu. “Dia (Budi) memang ada beberapa penyakit seperti darah tinggi dan rheumatik dan sedang mengecek penyakit tapi yang paling penting dia dinyatakan sehat untuk pergi ke sini. Kami sudah konfirmasi ke rumah sakit tersebut, hasilnya tidak ada diagnosa atas penyakit yang bersangkutan,” tegas Yuyuk.

Budi ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik sejak 2 Maret 2016 lalu berdasarkan surat perintah penyelidikan (sprindik) yang ditandatangani oleh para pimpinan KPK pada 29 Februari 2016 lalu. Ia diduga menerima hadiah atau janji dari Direktur Utama (DiruT) PT Windhu Tunggal Utama (WTU), Abdul Khoir melalui Julia Prasetyarini, salah satu staf anggota Komisi V DPR, Damayanti Wisnu Putranti. Budi bahkam sempat mengembalikan uang suap yang diterima sebesar 305 ribu dollar Singapura. (Pos Kota)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here