BNN Keterbatasan Alat, Sindikat Narkoba Merajalela

125
SHARE

BHARATANEWS.ID | JAKARTA  – Masih banyaknya peredaran narkotika yang masuk ke Indonesia, disebabkan kurang mendukungnya peralatan yang ada. Karena keterbatasan itulah, yang membuat sindikat narkoba tak henti-hentinya menyuplai barang haram tersebut.

Ungkapan itulah yang disampaikan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso, kepada Menteri Kordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (menkopolhukam), Luhut Binsar Panjaitan, saat melakukan kunjungan kerja. “Peralatan kami sangat terbatas pak, alat mereka (sindikat narkotika) lebih canggih,” katanya di kantor BNN di Jalan MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (10/3/2016).

Menurutnya, salah satu contoh yang beberapa waktu terjadi adalah ketika pihak BNN menyadap sindikat, ternyata mereka memiliki alat anti sadap. Akibatnya, karena alat yang kurang canggih itu membuat peredaran narkotika tak bisa terdeteksi. “Karena itulah, kami laporkan ini ke pak menteri,” ujarnya.

Permasalahan lain, kata Buwas adalah persoalan mengenai keterbatasan jumlah personil yang dimiliki oleh BNN. Pasalnya, saat ini, jumlah ideal personil yang dibutuhkan adalah sekitar 74 ribu personil. “Sementara yang ada baru sekitar 4000 personil. Hal ini juga
sudah kita laporkan kepada Menpan RB(Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,” jelas Buwas.

Dari keterbatasan yang ada, lanjut Buwas, pihaknya harus berperang melawan banyak sindikat narkotika internasional. Terlebih, mereka kerap menjadikan Indonesia sebagai pasar utama narkoba. “Shabu dari Tiongkok, dari Timur Tengah itu utamanya untuk dipasarkan ke Indonesia. Kita memang sasaran utamanya,” ungkap dia.

Meski begitu, kata Buwas, selama ini keterbatasan yang ada tidak dijadikan alasan bagi pihaknya untuk mengendurkan upaya memerangi narkoba. “Anggota di lapangan tetap melakukan tugas bermodalkan semangat dan militansi yang tinggi, karena itulah yang menjadi penyemangat kami,” tegas mantan Kabareskrim ini.(Pos Kota)