Hari Perempuan Internasional Usung Tema Kesetaraan Gender

111
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | Jakarta — Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap 8 Maret menandai nasib dan prestasi perempuan selama lebih dari satu abad. Kesetaraan gender menjadi fokus peringatan hingga 15 tahun ke depan.

Tema yang diambil adalah “Planet 50-50 by 2030”, yang merujuk pada target 2030, yakni mewujudkan kesetaraan gender untuk memosisikan pemberdayaan perempuan sebagai pusat rencana global pada tahun-tahun mendatang.

Hari Perempuan Internasional pertama kali diselenggarakan oleh sosialis Jerman pada 1911 dengan penggagas bernama Clara Zetkin bersama 100 delegasi dari 17 negara.

Lebih dari satu juta orang di Austria, Denmark, Jerman dan Swiss berdemonstrasi di seluruh kekaisaran Austro-Hungaria.

Acara yang telah didukung Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) ini kini telah dirayakan di 40 negara.

Ketika pertama kali diperingati, para perempuan menuntut supaya mereka diberi hak untuk memilih, memegang jabatan publik, dan diberikan hak kerja yang sama dengan laki-laki. Di Inggris, hal tersebut mulai dipraktikkan pada 1918.

Pada peringatan tahun ini, setidaknya seperlima dari kursi parlemen diduduki perempuan, 19 dari 196 negara juga dipimpin perempuan. Ini adalah kemajuan, mengingat 20 tahun lalu, hanya 7 negara yang dipimpin perempuan.

Kabinet yang terdiri dari menteri perempuan kini ada 17 persen, jumlah ini meningkat tiga kali lipat selama periode 1994 hingga 2014.

Diprediksi, butuh sekitar 118 tahun bagi perempuan untuk bisa menumpas diskriminasi gender. Saat ini, 55 dari 500 orang terkaya dunia adalah perempuan.

Apa fokus dari Hari Perempuan Internasional?

PBB pertama mulai merayakan peringatan ini pada 8 Maret 1975, yang mana setiap tahun PBB memiliki fokus untuk menaikkan status perempuan di seluruh dunia. Tujuan tersebut sejalan dengan agenda 2030.

Agenda baru untuk memenuhi Millennium Development Goals juga memiliki tujuan untuk memberdayakan perempuan dan anak-anak perempuan sebagai ujung tombak yang membantu menanggulangi kekurangan kinerja ekonomi, kelebihan penduduk global, dan kemiskinan di seluruh dunia.

Di beberapa negara, peringatan ini dijadikan hari libur nasional. Para wanita dari berbagai tingkat usia biasanya akan mendapatkan hadiah sebagai bentuk peringatan.

Masalah yang dihadapi perempuan secara global

Selain motivasi awal untuk memperjuangkan kesetaraan dalam hal politik, kesenjangan gaji, serta perlindungan terhadap pelecehan telah menjadi topik yang krusial.

Diperkirakan, sekitar 10 persen dari 120 juta anak perempuan dibawah 20 tahun telah mengalami pelecehan seksual.

Sebagian besar kasus yang melibatklan teman dan kerabat tidak dilaporkan. Lebih dari sepertiga perempuan di seluruh dunia juga mengalami kekerasan fisik atau seksual di beberapa titik dalam hidup mereka, dengan usia paling umum saat remaja dan saat menopause.

Sementara itu, hampir 20 juta perempuan telah bekerja pada periode global. Ini peningkatan dibanding satu dekade lalu. Namun masalahnya, mereka mendapatkan gaji yang setara dengan standar pada 2006, demikian catatan World Economic Forum.

Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB berjanji untuk mengusung kampanye untuk memajukan perempuan dan menjamin keterwakilan demokrasi di seluruh dunia.(lampost.co)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here