Perselisihan Antara Konsumen-PT Ultra Jaya Belum Temui Titik Terang

143
SHARE
BHARATANEWS.ID  |  BANDUNG РPenyelesaian sengketa antara konsumen dengan PT Ultra Jaya yang berlangsung di kantor Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Bandung belum menemui titik terang, Senin (7/3/2016).
Agus Ruhiat suami dari Rini Tresna Sari orang tua dari balita yang sakit setelah minum susu Ultra menyatakan ada perkembangan positif.
“Soal komunikasi kita yang deadlock sudah cair, dan nota pembelian susu yang dipertanyakan PT Ultra Jaya sudah clear,” kata dia.
Menurut ia, penyelesaian sengketa konsumen dengan PT Ultra Jaya akan kembali bergulir pada dua hari ke depan. Pihaknya berharap, pada pertemuan kali kedua mendatang ada titik temu kedua belah pihak.
“Dua hari ini kita akan formulasikan nominal besaran konkrit ganti rugi dan asuransi yang menjadi tuntutan. Kalau nanti Kamis sudah ada titik temu, mekanismenya bisa saja berubah,” ujar dia.
Agus menepis tuntutan Rp 100 juta seperti yang disampaikan oleh PT Ultra Jaya sebelumnya. Pihaknya memastikan, nominal tuntutan Rp 100 juta tidak pernah terlontar seperti apa yang disampaikan PT Ultra Jaya.
“Saya tegaskan, kita tidak pernah menuntut nominal sebesar itu. Kita juga berpikir rasional. Mungkin ini hanya perbedaan persepsi saja,” jelasnya.
Agus berharap kesehatan buah hatinya bisa kembali seperti semula. Sebab sekarang, buah hatinya tidak bisa mengkonsumsi asupan yang mengandung susu.
“Kabar baiknya, secara fisik sudah bisa beraktivitas normal meskipun ke depan saya tidak tahun kondisi anak saya seperti apa. Asuransi recovery salah satu tuntutkan kita,” ucapnya.
Kuasa hukum PT Ultra Jaya Sony Lunardi menyambut senang upaya penyelesaian yang ditempuh kedua belah pihak. Musyawarah mufakat, yang diinginkan pihaknya guna menyelesaikan sengketa.
“Kita akan terbuka sekali dan solusi seperti ini akan menjadi yang terbaik bagi dua belah pihak,” kata Sony.
Dijelaskan ia, benda aneh yang menyerupai kaki katak dalam kemasan susu telah dianalisa Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (BPOM). Hasil analisa, BPOM tidak mendapati adanya masalah pada tahap produksi.
“BPOM mendatangi pabrik dengan mengambil sample susu dengan kode produksi yang sama. Jadi disimpulkan benda aneh tersebut merupakan gumpalan susu yang tercampur bakteri,” ucapnya.(inilahkoran.com)