Anggota Dewan Riset Banten Dituding Gunakan Ijazah Palsu

125
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | SERANG  – Salah satu anggota Dewan Riset Daerah (DRD) Banten periode 2016-2018, yang baru dilantik Gubernur Banten Rano Karno, pada tanggal 24 Februari 2016 lalu, yakni HMS Suhari dituding menggunakan ijazah S2 palsu.

Tudingan itu berdasarkan data yang tersebar di internet bahwa nama HMS Suhari terdaftar dalam 10.000 nama yang dirilis oleh pemerintah Amerika Serikat berdasarkan hasil operasi segel emas (Operation Gold Seal) terkait kasus sindikat penipuan jual ijazah palsu.

Berdasarkan penelusuran SP di internet khususnya pada situs dengan alamat http://transgallaxys.com dan http://www.credentialwatch.org, Minggu (6/3), terungkap bahwa penyidik pemerintah Amerika Serikat berhasil membongkar kasus sindikat penjual ijazah palsu. Para pelaku sindikat penipuan menjual sebanyak 10.815 ijazah palsu untuk 9.612 orang yang tersebar di 131 negara, termasuk di dalamnya belasan nama dari Indonesia, dengan total uang yang mereka peroleh mencapai US$ 7.369.907. Ijazah yang dijual mulai dari ijazah SMA , S1, S2, S3 hingga gelar profesor. Harga satu ijazah berkisar antara US$ 399 hingga US$ 2.454.

Para pelaku melakukan aksi ini pada tahun 1999-2005 dan telah dihukum oleh pengadilan Amerika Serikat pada tahuun 2008 lalu.

Dalam daftar nama penerima ijazah palsu tersebut terdapat nama Mudahar, Hikmatullah Muhd. Suhary Asikin Mudahar, Australia MA, Saint Concordia University. Nama ini kemudian diidentikan dengan nama HMS Suhari yang saat ini menjadi anggota DRD Banten.

Pemerhati Politik di Banten Muhlis Arobi, mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya, ijazah S2 yang dimiliki HMS Suhari diperoleh dari Saint Concordia University, USA dengan sistem kuliah jarak jauh (distance learning).

Terungkapnya dugaan ijazah palsu ini, sebut Muhlis Arobi, bermula dari adanya rilis data mahasiswa baru program doktor pendidikan Islam (S3), program pascasarjana Ibnu Khaldun Bogor.

“Jika Anda buka di Google dengan kata kunci “operation gold seal” maka akan ditemukan 10.000 mahasiswa dari seluruh negara yang cuma beli ijazah. Dan dari indonesia belasan orang. Juga akan ditemukan nama Hikmatullah Muhd Suhari,” jelas Muhlis Arobi.

Menanggapi tudingan tersebut, HMS Suhari yang dihubungi SP, Minggu (6/3) malam menjelaskan, pihaknya memilih diam terkait persoalan tersebut. “Saya tidak mau ribut. Khawatir jadi bumerang. Pada saatnya nanti saya akan mengambil sikap,” ujarnya.

Menurut HMS Suhari, ijazah yang dimilikinya sah dan legal, dan itu diperoleh melalui kuliah jarak jauh (distance learning) di Saint Concordia University, Washington DC USA.

“Program studi jarak jauh di luar negeri itu sudah biasa. Saya mengikuti kuliah jarak jauh itu pada tahun 2001. Kuliahnya sistem online, dan lewat email. Pertama-tama saya mendapat modul, lalu selanjutnya saya diberi tes atau ujian dengan sistem online. Saya menyelesaikan kuliah jarak jauh itu selama setahun. Jadi yang berhak mengatakan ijazah yang saya peroleh itu palsu adalah institusi terkait. Dan itu jaraknya jauh,” ujarnya.

HMS Suhari mengatakan, pihaknya saat ini sedang menempuh pendidikan S3 di salah satu perguruan tinggi di Bogor, berdasarkan ijazah S2 yang ada. “Kalau ijazah yang saya peroleh itu palsu tentu saya tidak diterima di program S3 di Bogor. Buktinya, hingga saat ini saya masih kuliah S3 di Bogor dan tinggal menyelesaikan disertasi saja,” tegasnya.(beritasatu.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here