Rupiah Tak Boleh Terlalu Kuat

157
SHARE
BHARATANEWS.ID |  – Jakarta. Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, tren penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menandakan pandangan positif investor terhadap Indonesia. Maka kemudian semakin banyak dana asing yang masuk ke dalam negeri.
Akan tetapi diharapkan penguatan rupiah tidak terlalu drastis. Setidaknya pergerakan rupiah harus bergerak sejalan dengan fundamentalnya.”Tentu kita tidak ingin rupiah terlalu kuat di atas fundamentalnya,” tegas Darmin di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, Jumat (4/3).

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) mendekati level Rp 13.000 kemarin. Tren penguatan rupiah sejak beberapa waktu lalu dikarenakan banyaknya dana asing masuk ke dalam negeri, seiring dengan penerapan bunga negatif di beberapa negara maju. Akibatnya, banyak investor kebingungan mencari area penempatan dana yang menguntungkan. Indonesia kemudian menjadi pilihan karena bunga yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang terus membaik. Makanya rupiah mengalami penguatan yang cukup signifikan sejak pertengahan Desember 2015, dimana dolar AS masih berada di level 14.000 saat itu.

Namun, menurut Darmin, bila rupiah terlalu kuat, maka akan berpengaruh terhadap ekspor. Produk ekspor dari dalam negeri akan menjadi tidak kompetitif dari sisi harga, sementara permintaan banyak negara sekarang tengah menurun.

Pada sisi lain, pemerintah akan berupaya menjaga dana tersebut tetap betah di dalam negeri, di antaranya adalah dengan menciptakan optimisme bagi investor terhadap perekonomian dalam negeri melalui berbagai kebijakan.”Kita tentu menjaganya dengan meneruskan langkah yang dilakukan selama ini,” imbuhnya.

Meskipun risiko tetap selalu ada, terutama dari kebijakan moneter dari AS yang kembali akan menaikkan suku bunga acuan, maka dana yang berada di banyak negara termasuk di Indonesia akan terpengaruh.”Tapi saya percaya tidak seperti di masa-masa lalu, dimana kemudian dia mau naikkan sudah bergejolak karena orang melihat AS naikkan pun bisa dihitung tidak banyak dampaknya,” papar Darmin.

Dana Asing Rp 35 Triliun
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengakui aliran dana asing masuk ke Indonesia mencapai Rp 35 triliun dalam dua bulan terakhir.”Kita lihat dana yang masuk dari awal tahun sampai dengan akhir Februari ada Rp 35 triliun ke pasar surat berharga negara maupun pasar modal,” katanya.

Agus menyambut baik masuknya dana asing ini karena bisa menambah ketersediaan valas di dalam negeri. Imbas paling positif adalah menguatnya nilai tukar rupiah. “Rupiah juga menguat di atas 3%, tapi kita tetap harus hati-hati,” kata Agus.

Dia menilai pelemahan dolar AS atau penguatan rupiah juga menunjukkan jika kondisi perekonomian dunia memburuk dan sebaliknya perekonomian Indonesia membaik.

“Secara umum, kalau misalnya beberapa hari ini rupiah kelihatan cukup stabil dan cenderung menguat, dalam pengamatan kami karena memang di regional beberapa negara juga mengalami kondisi seperti itu. Kalau kita ekonomi di domestik terus menunjukkan kondisi yang cukup baik,” ujarnya.

Menurutnya, membaiknya kondisi perekonomian Indonesia karena upaya dari berbagai pihak, utamanya dari sisi pemerintah yang mempercepat realisasi belanja fiskal. “Pembentukan laju pertumbuhan ekonomi selama dua bulan pertama tahun ini, sebagian besar disumbang dari pencairan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016,” katanya.

Adapun kontributor lain terhadap pertumbuhan seperti konsumsi domestik dan investasi swasta, menurut Agus, belum begitu menunjukkan perbaikan signifikan.”Swasta khususnya, dalam investasi non-bangunan (non-konstruksi) itu belum cukup begerak, kita harapkan di kuartal II ataupun kuartal III nanti akan lebih terlihat,” kata dia.

Agus mengatakan realisasi APBN, khususnya belanja modal pemerintah, seharusnya mendorong swasta untuk ekspansi bisnisnya, sehingga pada akhirnya dapat menumbuhkan sektor riil.

Dilihat dari fundamen ekonomi, kata Agus, membuat para investor mengapresiasi perbaikan aspek lain dari reformasi struktural perekonomian domestik. Misalnya, laju iflasi, hingga akhir Februari terkendali dan secara tahun ke tahun (year on year/yoy) berada di proyeksi BI di 4 persen plus minus satu persen”Dari sisi neraca transaksi berjalan, ada perbaikan dari 2,9 persen terhadap PDB (pada 2014 turun ke sekitar 2 persen (akhir 2015), itu yang membuat optimisme dunia ke Indonesia,” ujarnya.

Hingga awal Maret 2016, dana asing yang masuk ke pasar surat berharga negara maupun pasar modal, kata Agus, sebesar Rp35 triliun.”Di pekan keempat Februari 2016 memang ada reverseal (pembalikkan modal) sebesar Rp1,5 triliun. Tapi itu lebih karena ulah trader yang ingin ambil untung saja,” kata dia.

Sementara, Kepala Riset NH Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada menilai kondisi makroekonomi domestik yang membaik telah membuat investor memburu Surat Utang Negara (SUN).”Laju nilai tukar rupiah masih mempertahankan tren kenaikannya terhadap dolar AS dengan terus bergerak positif untuk melanjutkan penguatannya,” ujarnya. (medanbisnisdaily.com)