Wajib Baca! Hati-hati Jika Telinga Mendadak tak Mendengar

124
0
SHARE

BHARATANEWS.ID | BOGOR – Hati-hati ketika telinga mendadak tidak bisa mendengar. Sebab, jika diabaikan, kemampuan mendengar bisa hilang total. Setidaknya peringatan itulah yang disampaikan oleh Ketua Divisi THT Komunitas RSUD dr Soetomo dr Nyilo Purnami SpTHT-KL(K),
Nyilo menyatakan, tuli mendadak merupakan kasus kegawatdaruratan. Biasanya, tuli mendadak bersifat sementara, bisa dalam hitungan jam atau hari. ”Namun, saat tidak ditangani dengan baik, tuli mendadak bisa menjadi ketulian permanen,” jelasnya.

Selama setahun terakhir, angka kejadian tuli mendadak di RSUD dr Soetomo mencapai 14 kasus. Tuli mendadak disebabkan beberapa penyakit. Misalnya saja, orang yang terkena vertigo jenis perifer. Vertigo jenis itu mengakibatkan salah satu telinga sakit. Telinga yang sakit tersebut disebabkan peningkatan cairan indolimfe atau caiaran di labirin telinga bagian dalam.

”Untuk keluhan vertigo, penanganan pada gangguan pendengaran sering terlewatkan,” ungkapnya. Padahal, pendengaran penderita vertigo bisa turun hingga tuli mendadak. Tanda awalnya adalah telinga berdenging atau tinnitus. Tanda itu sering diabaikan karena dianggap enteng atau akan sembuh ketika vertigo tidak kambuh.

Selain karena vertigo, bisa jadi tuli mendadak disebabkan virus. Dia mencontohkan virus herpes di liang telinga. Sering kali pasien Nyilo mengira herpes sebagai korengan biasa. Akibatnya, timbul vertigo dan penurunan pendengaran. Rata-rata mereka baru memeriksakan setelah timbul gangguan pendengaran.

Gondongan atau parotitis juga bisa mengakibatkan tuli mendadak. Biasanya, tuli mendadak terjadi setelah seminggu terkena gondongan. Bagi mereka yang gondongan, gangguan telinga bisa terjadi pada satu sisi saja.

Saat pasien sudah datang ke fasilitas kesehatan, dokter akan melakukan tes pendengaran atau audiogram untuk mengetahui tingkat ketulian pasien. Soal terapinya, biasanya dokter memberikan kortikosteroid. Pemberian tersebut bertujuan agar tubuh tahan menghadapi infeksi.

”Pasien juga diminta untuk istirahat,” tutur spesialis THT dan bedah kepala leher tersebut. Tujuannya, memulihkan kondisi pasien. Dia menyayangkan kebiasaan pasien yang tetap beraktivitas karena merasa masih bisa mendengarkan. Selain istirahat, pasien seharusnya memperhatikan asupan makanan. Kelengkapan gizi pada bahan makanan akan membantu kondisi pasien cepat membaik.(www.jpnn.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here