Menelusuri Rumah Bersejarah Rengasdengklok

97
0
SHARE

BHARATANEWS.ID – Pada 16 Agustus 1945, Sukarno dan Mohamad Hatta “diculik” sejumlah pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Di sana Sukarno-Hatta yang kemudian menjadi proklamator kemerdekaan Indonesia yang singgah di sebuah rumah milik salah seorang dari pasukan Pembela Tanah Air (Peta), Djiauw Kie Siong.

METROPOLITAN – Sebagaimana dirilis jurnalis BBC Indonesia (16/8), rumah yang menjadi saksi sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di rumah Djiauw Kie Siong yang semula berada di pinggiran Sungai Citarum dipindahkan di lokasi yang berjarak sekitar 150 meter dari tempat asli di Kampung Bojong, Rengasdengklok pada 1957.

Menurut cucu Kie Siong, Djiauw Kim Moy, bangunan rumah dan bagian ruang tamu masih asli, termasuk lantai ubin berwarna terakota yang biasa digunakan untuk rumah keturunan Tionghoa. Dua kamar yang sempat digunakan Sukarno dan Hatta juga masih dipertahankan bentuk aslinya. Bahkan ranjang tua dari kayu jati pun masih ada di kamar yang sempat digunakan Bung Hatta untuk beristirahat. “Ini ranjang masih asli, tetapi di kamar Bung Karno bukan, karena yang asli telah dibawa ke museum di Bandung,” jelas Kim Moy. Di ruang tamu dipajang sejumlah foto Sukarno dan Kie Siong, termasuk juga foto Megawati dan Joko Widodo, presiden Indonesia saat ini yang sempat berkunjung ke rumah tersebut.

Para pemuda memilih rumah Djiauw Kie Siong karena dekat dengan markas Peta yang sekarang dijadikan Monumen Kebulatan Tekad. Lalu mengapa Rengasdengklok? Karena lokasi yang berjarak sekitar 81 kilometer dari Jakarta itu jauh dari jangkauan pengawasan tentara Jepang. Rengasdengklok berjarak sekitar 15 kilometer dari jalan utama yang termasuk bagian dari jalur pantura. Bahkan saat ini perjalanan ke rumah Djiauw Kie Siong pun masih terasa jauh dan agak terpencil.

Hanya papan bertuliskan “bangunan ini merupakan cagar budaya” yang menjadi satu-satunya petunjuk. Meski demikian, rumah tersebut sering didatangi para pengunjung, antara lain Rudianto dari Kawarang. “Saya sudah beberapa tahun tinggal di sini, tak pernah ke sini dan ingin melihat bagaimana rumah tempat penculikan Sukarno dan Hatta yang saya ketahui sejak SD,” jelas dia.
Sementara Adi Purwanto warga Bogor mengaku sedikit kecewa karena tidak terlalu banyak informasi yang didapat mengenai kejadian malam 16 Agustus 45 di rumah tersebut. “Ada kamar saja dan sejumlah foto, seharusnya ada juga informasi tambahan dari sejarah tentang rumah ini, selain dari pemiliknya,” kata Adi. (pp/suf/wan).(www.bharatatour.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here