Kelompok G-20 Gunakan Seluruh Alat Kebijakan

129
0
SHARE

METROPOLITAN.ID – Para menteri keuangan (menkeu) dan gubernur bank sentral dari kelompok negara G-20 akan menggunakan seluruh alat kebijakan yang tersedia untuk mendongkrak pertumbuhan global yang lesu. Namun ada keresahan yang disuarakan Jerman sehubungan dengan stimulus fiskal dan moneter.

“Pemulihan global masih berlanjut namun belum merata dan gagal memenuhi ambisi kami untuk meraih pertumbuhan yang kuat, berkelanjutan dan seimbang,” ujar para menteri keuangan dan gubernur bank kelompok G-20 dalam sebuah komunike di Shanghai, Sabtu (27/2).

Pertemuan mereka berlangsung di tengah kekhawatiran yang dipicu oleh perlambatan pertumbuhan di negara tuan rumah, Tiongkok, penurunan tajam di pasar keuangan dunia, dan penaikkan suku bunga Amerika Serikat (AS) untuk pertama kali dalam sembilan tahun – sedangkan Jepang memberlakukn tarif negatif.

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), pekan lalu, memangkas proyeksi pertumbuhan global 2016 dari 3,3% menjadi 3%.

Komunike G-20 menyebutkan daftar risiko tertentu yang dihadapi dunia, termasuk arus modal yang volatil, harga komoditas yang turun, dan meningkatnya ketegangan geopolitik, bersamaan dengan potensi tiba-tiba keluarngan Inggris atau Brexit dari Uni Eropa (UE) dan sejumlah besar angka kenaikan pengungsi di beberapa daerah.

Namun perbedaan pendapat tentang pemulihan yang tepat telah membayangi pertemuan tersebut, setelah Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble menyampaikan upaya untuk meningkatkan perekonomian dengan melonggarkan moneter dapat menjadi stimulus kontraproduktif dan fiskal – pemerintah telah banyak menggeluarkan anggaran atau mengurangi pajak – yang telah mencapai batasnya.

“Kebijakan fiskal serta moneter telah mencapai batas mereka,” katanya. Jika Anda ingin ekonomi riil bertumbuh maka tidak ada jalan pintas tanpa reformasi.”

Sebagai negara anggota terbesar dan terkaya di Uni Eropa, Jerman terkadang memiliki prioritas ekonomi yang berbeda untuk negara-negara lain dan Schaeuble bertentangan dengan Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok, yang kesemuanya mendukung penggunaan alat-alat moneter dan fiskal untuk melawan penurunan, serta reformasi struktural.

Menurut Menkeu AS Jacob Lew, permintaan yang lemah adalah kunci permasalahan. “Kita harus melipatgandaan usaha-usaha kita untuk meningkatkan permintaan global ketimbang mengandalkan Amerika Serikat sebagai konsumen pertama dan terakhir.”
Dalam kegiatan tersebut, komunike mengatakan kelompok ini akan menggunakan seluruh alat kebijakan, mulai dari moneter, fiskal dan struktural baik secara individu dan kolektif untuk membangun kepercayaan dan memperkuat pemulihan.

Namun, pihaknya mengakui bahwa peningkatan jumlah uang beredar saja tidak akan menyebabkan pertumbuhan yang seimbang dan mengatakan kebijaka fiskal akan digunakan fleksibel, seraya memberikan tanda setuju tentang pentingnya reformasi struktural.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mendesak, tanpa adanya kolektif, tindakan yang disengaja pada bagian para pembuat kebijakan dan implementasi maka ada risiko bahwa pemulihan dapat gagal.(beritasatu.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here